Mengenal SILIN dan SI-CAKAP dalam Pengelolaan Hutan Lestari

oleh -68 kali dilihat
Begini Sanksi dari KLHK bagi Usaha PBPH yang Melanggar Aturan
Gambar hutan - Foto/dok. KLHK

Klikhijau.com – Pengelolaan hutan perlu mendapat perhatian serius. Inilah coba dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Untuk mendukung pengelolaan hutan, hari Senin tangga 29 November 2021 lalu, KLHK  meluncurkan Teknik Silvikultur Intensif  (SILIN)  jenis Merbau

Selain SILIN, KLHK juga meluncurkan Sistem Informasi Rencana Kerja dan Pelaporan. Sistem ini kemudian disingkat menjadi SI-CAKAP

Pengadaan SILIN  dilakukan guna mewujudkan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Layanan Prima Dunia Usaha Kehutanan.

KLIK INI:  Indonesia Bahas Lingkungan Hidup dan Energi pada Pertemuan G20 di Jepang

Dengan adanya SILIN Merbau berarti telah ada dua jenis SILIN, karena pada tangga  22 Januari 2019 lalu telah diluncurkan SILIN Meranti.

Untuk SI-CAKAP  sendiri pengembangannya diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi PBPH dalam proses perencanaan.  SI-CAKAP merupakan salah satu bentuk komitmen pemerintah untuk memberikan layanan prima bagi dunia usaha.

Ciptakan lapangan kerja

Dengan adanya kemudahan dalam berusaha diharapkan dapat meningkatkan investasi dan penciptaan lapangan kerja di sekor kehutanan.

Sementara SILIN Merbau menurut Agus Justianto  selalu Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, pencanangannya menjadi momentum penanda peran penting dan strategis SILIN. Terutama dalam mewujudkan peningkatan produktivitas hutan alam dan pengelolaan sumber daya hutan yang berkelanjutan khususnya di Provinsi Papua dan Papua Barat.

“Merbau, merupakan jenis kayu niagawi yang secara alami banyak tumbuh di Provinsi Papua dan Papua Barat. Teknik SILIN Merbau merupakan inovasi yang dibangun secara kolaboratif. Tujuannya untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya hutan yang berkelanjutan dengan tercapainya optimalisasi fungsi hutan baik dari sisi ekologi maupun ekonomi dan sosial,” kata Agus Justianto.

KLIK INI:  Tolak Limbah Tailing Dibuang ke Laut, Jatam Sulteng Buat Petisi ke Tiongkok

Ia berharap agar SILIN yang dikembangkan tersebut dapat senantiasa dievaluasi, diinovasi dan  menemukan hal-hal baru—demi perbaikan sistem ke depannya.

Selain itu juga memastikan agar melalui SILIN, target produktivitas kayu hutan alam sebesar 120 meter kubik per hektar dengan daur 20 tahun untuk jenis Meranti dan daur 30 tahun untuk jenis Merbau dapat terealisir.

Untuk memaksimalkan kerja SILIN,  Agus meminta kepada unit manajemen pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) agar melaksanakannya dengan baik.

Menurutnya  saat ini pemerintah telah memberikan insentif  yang diharapkan, yakni tanaman hasil budidaya tidak dikenakan Dana Reboisasi (DR).  Tanaman tersebut juga menjadi aset pemegang PBPH selama izinnya masih berlaku.

“Oleh karena itu PBPH agar secara optimal melaksanakan SILIN yang saat ini diandalkan dalam upaya peningkatan produktivitas hutan alam,” kata Agus.

Selain itu, Agus juga meminta kepada seluruh PBPH untuk membangun persemaian yang baik, sesuai dan memenuhi kaidah ilmu pengetahuan dan teknologi.

KLIK INI:  Kabar Baik, Dua Orangutan Jantan Berhasil Diselamatkan di Semarang
Sektor hutan berperan besar dalam penurunan GRK

Bibit yang digunakan pun tidak boleh sembarang,  harus sesuai standar dan berasal dari pohon induk yang baik. Pohon yang dijamin baik kualitasnya. Namun, hal yang paling penting adalah persentase hidup tinggi. Karena peningkatan produktivitas hutan alam produksi hanya akan tercapai apabila pohon yang ditanam mampu hidup dan tumbuh dengan baik.

Tidak cukup hanya menyiapkan bibit saja, tapi ada penanaman dan  bibit yang ditanam itu harus senantiasa dilakukan perawatan dan pemeliharaan. Tujuannya untuk mendapatkan kayu dengan kuantitas dan kualitas yang baik.

Dalam target penurunan Gas Rumah Kaca (GRK) sektor kehutanan memiliki porsi terbesar, mencapai 59,76%. Penurunan emisi GRK menuju Net Sink FOLU yang dituangkan dalam dokumen Long Term Strategy Low Carbon Climate Resilience (LTS-LCCR).

Pengelolaan Hutan Lestari menjadi salah satu aksi mitigasi sektor FoLU, antara lain melalui penerapan Reduced Impact Logging (RIL), multiusaha kehutanan, dan sistem silvikultur yang sesuai disertai penerapan teknik SILIN.

Berdasarkan semua upaya yang telah dilakukan, pemerintah optimis dapat mencapai Forest and Other Land Use (FoLU) Net Sink pada tahun 2030.

KLIK INI:  JPIK Menyoal Pernyataan Ditjen PKTL KLHK Atas Penurunan Deforestasi
Sejalan dengan target Indonesia

Itu sejalan dengan pernyataan Presiden RI dalam forum COP ke 26 di Glasgow tentang komitmen Indonesia dalam melakukan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Sebagaimana yang tertuang dalam dokumen updated Nationally Determined Contribution (NDC). Target Indonesia dalam penurunan emisi GRK pada tahun 2030.

“Penguatan kebijakan multisistem silvikultur, multiusaha kehutanan dan teknik SILIN di dalam pengelolaan hutan produksi merupakan strategi jitu dalam upaya meningkatkan produktivitas hutan alam. Sehingga pemerintah akan terus mendorong penerapan SILIN melalui dukungan regulasi dan partisipasi para pihak,” jelas Agus.

Agus membeberkan bahwa kunci penerapan   SILIN Merbau agar berhasil, harus dibangun komitmen  ersama-sama untuk menerapkan SILIN yang dilandasi pemahaman.

Landasan pemahaman yang dimaksud adalah bahwa penerapan SILIN untuk menjawab permasalahan yang dihadapi bersama. Bukan hanya pemerintah, tapi juga para pihak terkait pengelolaan sumberdaya hutan, unit manajemen, lembaga swadaya masyarakat, institusi perguruan tinggi, dan masyarakat.

SILIN ini tidak boleh berhenti, karena merupakan salah satu strategi KLHK dalam mewujudkan pengelolaan hutan alam produksi yang lestari ***

KLIK INI:  Namaku Sri Nabila, Penghuni Baru Taman Nasional Gunung Leuser