Kisah Seorang Pendeta yang Gelisah Jika Tak Bawa Pohon Saat Pergi Melayani

oleh -24 kali dilihat
Pendeta Rasely Sinampe/foto-karebatoraja.com

Klikhijau.com – Dalam dirinya tumbuh sifat yang patut diteladani. Ketika saya membaca beritanya di karebatoraja.com yang ditulis oleh Arthur, saya langsung berujar, keren. Dia adalah seorang pendeta, Namanya Pendeta Rasely Sinampe, M.Th.

Berita mengenai dirinya dipublikasikan tahun 2018 lalu, pada tanggal 15 Juli. Berita tentangnya tentu bisa menginsirasi siapa saja yang cinta dan peduli pada lingkungan sebab ada yang unik pada dirinya. Dia begitu mencintai dan peduli akan lingkungan hidup.

Setiap kali melakukan pelayanan hari Minggu atau hari-hari besar keagamaan, dia selalu membawa serta bibit pohon; entah itu pohon buah-buahan maupun kayu-kayuan.

KLIK INI:  Belajar Kisah Heroik Perempuan dari Pegunungan Kendeng

Dia tidak  memiliki mobil. Untuk membawa bibit pohon yang diproduksinya sendiri itu, dia menggunakan sepeda motor atau motor roda tiga dengan gandengan gerobak di belakangnya.

“Kalau pelayanan saya dekat, di sekitar Rantepao atau Makale, yang daerahnya datar, saya pakai sepeda motor yang tiga rodanya dan ada gerobak di belakangnya, biar bawaan saya lebih banyak. Kalau yang jauh-jauh dan medannya sulit saya bawa pohon di boncengan saja,” ungkap Pdt. Rasely.

Dia mengatakan, bibit-bibit pohon itu disemai sendiri, dengan teknologi yang dia belajar secara otodidak. Dia pernah beberapa kali gagal dalam menyemai bibit pohon. Tetapi kegagalan itu tidak membuatnya patah semangat. Mencoba dan terus mencoba hingga berhasil.

“Banyak bibit pohon yang saya coba semai, ada buah-buahan, juga pohon kayu. Yang selalu saya bawa itu adalah pohon Matua Raja atau Matua Merah. Saya juga biasa bawa bibit lombok, terong, tomat, dan sayur-sayuran lainnya ke setiap pelayanan saya,” tuturnya.

KLIK INI:  Deasy, Perempuan yang Mencintai Sampah dengan Cara Elegan

Kecintaan dan kepedulian Pendeta Rasely akan lingkungan bukan tanpa alasan. Dia pernah membuat tesis tentang Misi Ekologis Kontekstual di Toraja Utara. Berangkat dari itu, ditambah dengan alasan Alkitabiah dari Kejadian 2:15, Mazmur 19: Mmikha 7:13, dan Injil Markus 16:15, dia menekuni lingkungan hidup dalam pelayanannya.

“Saya gelisah kalau tidak bawa bibit pohon saat pergi melayani. Serasa ada yang kurang kalau tidak ada boncengan di belakang, hahaha,” dia berujar sambil tertawa.

Pendeta Rasely tidak hanya membawa bibit pohon saja. Usai ibadah hari Minggu, dia mengambil waktu untuk memberikan penyuluhan dan pencerahan kepada warga jemaat tentang pentingnya menjaga dan memelihara lingkungan. “Toraja ini adalah menara air. Jangan sampai menara air itu menjadi kering gara-gara kita tidak mampu melakukan apa-apa, maka habislah kehidupan kita,” dia mengingatkan.

KLIK INI:  Dari Lomba Baca Puisi, Dewi Ingin Berjuang Menjaga Lingkungan

Saat ini, selain terus mengembangkan bibit pohon, Pdt. Rasely Sinampe dan kawan-kawan di Yayasan Tallu Lolona, juga mengembangkan pupuk organik. Pupuk ini merupakan karya cipta mereka sendiri, yang sudah terbukti penggunaan dan hasilnya di beberapa tempat.

“Sekarang banyak sekali permintaan pupuk dari masyarakat, rumah sakit, sekolah, dan kantor-kantor, tapi kami tidak memiliki banyak modal sehingga produksinya masih terbatas,” katanya.

***

Kisah di atas ditulis oleh Arthur  di karebatoraja.com dengan judul Pendeta Ini Selalu Bawa Bibit Pohon dalam Setiap Pelayanannya. Semoga kisah Pendeta Rasely Sinampe bisa menginspirasi kita semua.

KLIK INI:  Wulan Saputri, Perempuan dan Sebuah Pesan dari Gunung