Deasy, Perempuan yang Mencintai Sampah dengan Cara Elegan

oleh -310 kali dilihat
Deasy Esterina
Deasy Esterina/foto-dok pribadi
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Usianya belum mencapai 30 tahun, belum. Namanya Deasy Esterina, dari namanya kamu bisa tahu jika ia adalah hawa. Nama adalah salah satu petunjuk jenis kelamin yang paling umum.

Namun, yang membedakan Deasy, begitu saja saya ingin menyapanya. Itu mengingatkan saya pada sebuah film dengan judul yang hampir sama: Daisy.

Barangkali yang membedakan Deasy  dengan hawa yang lain adalah pola pikirnya. Di kepalanya dipenuhi ide, bagaimana barang yang telah “terbuang” bisa menjadi uang.

Ide itu membawanya mendirikan Studio Desain Kreskros yang memproduksi tas atau dompet bermerek kreskros. Yang menarik dari karya Deasy adalah karena  terbuat dari limbah plastik.

KLIK INI:  Intip Tips Ramah Lingkungan dari Tasya Kamila!

Hawa  kelahiran 7 Desember 1990  itu menggunakan sisa-sisa plastik dari pabrik benang kemudian dibuat tas berdesain modern yang memukau.

Alumni Jurusan Arsitek Universitas Ciputra Surabaya ini menggandeng para ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Ambarawa. Ia menggugah pra ibu-ibu agara menggunakan limbah plastik sebagai bahan rajutan membuat berbagai aksesoris hingga tas ransel.

Iya, Deasy memang mulai mencanangkan bisnis tas dengan gerakan sosial pada pertengahan tahun 2016. Hal ini dilakukan agar bisnisnya berkesinambungan dan berdampak sosial bagi publik.

Sebelumnya di tahun 2014, Deasy pernah berpartisipasi dalam acara Surabaya Design It Yourself dengan memproduksi tas dari sisa-sisa limbah. Tas produksinya ini banyak diburu pembeli. Ini yang menjadi cikal bakal usaha tas KresKros

Ia menuturkan limbah plastik dibersihkan terlebih dahulu sebelum dipotong-potong panjang membentuk utasan. Kemudian utasan ini digabung dengan benang serat organik, para perajin kami merajut lembaran-lembaran crochet satu per satu secara manual.

KLIK INI:  Bagi Nadia, Memungut Sampah Adalah Bakti Cinta

“Memang untuk membuat satu tas dibutuhkan  dua hingga tiga hari. Dalam sebulan kami memproduksi sekitar 200 tas ransel dan tas kerja dengan segmen milenial. Satu tas dibandroll Rp150 ribu hingga Rp200 ribu,” papar Deasy seperti yang ditulis Irvan Sjafari pada majalahpeluang.com 2018 lalu.

Untuk menjaga kualitas produknya, tak sembarangan limbah plastik digunakan Deasy untuk. Meski konsep tasnya menggunakan bahan daur ulang, Deasy dan timnya tetap menggunakan limbah plastik yang bersih dan tidak tercemar.

Untuk proses produksi, Deasy dibantu 10 pegawai dan setiap bulannya bisa menghasilkan 60-120 tas. Untuk desainnya sendiri langsung ditangani oleh Deasy, sedangkan untuk proses produksi seperti proses pembersihan sampah plastik sampai merajut dilakukan oleh pegawainya.

Harga jual tas daur ulang Kreskros mulai dari Rp.350 ribu sampai Rp2 juta per tas. Dalam mengolah limbah sampah plastik menjadi tas kreskros, Deasy tidak main-main atau sekadar menjahitnya begitu saja.

KLIK INI:  Dokter Mawar, Menerima Bayaran Pasien dengan Sampah

Untuk menghasilkan tas dan dompet yang baik dan menarik, Deasy memilih mendesain khusus, memadukan dengan bahan lain seperti kulit, kanvas, lurik, dan bahan lainnya. Dia juga memilih teknik merajut untuk mengolah sampah plastik yang kemudian dipadukan dengan bahan lain untuk dijadikan tas atau dompet.

Banyak generasi muda yang menggemari produk tas dan dompet buatan Deasy ini. Bahkan produknya kini mulai diminati pasar internasional, seperti Belanda, Singapura, Amerika, dan Australia yang menjadi adalah tujuan ekspor tas Kreskros.

Yang menakjubkan, Deasy mengaku sebagian pendapatannya dari Kreskros digunakan untuk menggelar kampanye dalam bentuk pameran yang bertemakan pencemaran lingkungan karena sampah plastik.

“Kami berharap prinsip mengolah sampah sendiri bisa mendarah daging untuk masyarakat,” harapnya, seperti yang ditulis Nisrina Salma di swa.co.id pada bulan Juni 2018 lalu

Harapan Deasy, rasanya patut disambut dengan tangan terbuka guna mengurangi sampah plastik  yang merupakah slah satu limbah  yang paling sulit terurai.

KLIK INI:  Lauren, Si Manis yang Hidup Tanpa Sampah