Bagi Nadia, Memungut Sampah Adalah Bakti Cinta

oleh -575 kali dilihat
Nadia Sparkes
Nadia Sparkes, yang diberi julukan gadis sampah/foto-wwf.org.uk
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Usianya masih belia baru akan beranjak keangka 14 tahun. Tapi, kepeduliannya terhadap lingkungan melebihi orang yang memiliki usia jauh di atasnya.

Ia tak segan berhenti hanya untuk memungut sampah yang dilihatnya. Ia seolah menjalankan program pemerintah Kota Makassar Lihat Sampah Ambil (LISA). Padahal, gadis belia itu tak kenal dengan program tersebut.

Ia berada jauh dari Makassar—di Norfolk, Inggris. Karena kerap memungut sampah, orang-orang disekitarnya kerap mengejeknya sebagai gadis sampah.

Tapi, ia abai saja, tetap memunguti sampah yang dilihatnya, khususnya  saat ia dari rumah menuju sekolahnya atau sebaliknya.

Ia selalu berangkat satu jam lebih awal ke sekolah agar dapat membersihkan jalan yang dilewatinya dari sampah.

Dengan menaruh sampah dalam keranjang sepedanya, ia membersihkan salah satu sisi jalan saat ia pergi ke sekolah dan sisi lainnya saat ia menuju rumahnya sepulang sekolah

Gelar gadis sampah dari orang-orang disekitarnya tak menyurutkan semangat gadis bernama Nadia Spakers itu. Ia tetap melakukan ritusnya memungut sampah.

Memungut sampah baginya adalah bakti cintanya kepada lingkungan.  Ia membuktikan bakti cintanya  dengan mengabaikan orang-orang yang membullynya. Ia tetap saja memungut sampah.

“(Aku) tak akan berhenti melakukan hal yang benar hanya karena mereka (yang mengejek). Jika mereka ingin memanggilku ‘gadis sampah’, mereka bisa panggil itu sebagai julukan kehormatan. Aku melakukan sesuatu untuk melindungi dunia yang mereka juga tinggali,” kata Nadia dilansir laman WWF.

Kebiasaan Nadia memungut sampat menjadi viral dan mendapat pujian di seluruh dunia. Karena aksi itu pula ia ditunjuk menjadi duta lembaga pencinta lingkungan WWF.

Sekarang, pengikut akun sosial media sosialnya sudah mencapai lebih dari 4.000 orang.

Nadia membuktikan bahwa hal kecil bisa membawa perubahan yang besar. Nadia membungkam orang-orang yang membullynya dengan cara yang elegan. Ia melawan dengan sehormat-hormatnya.

Sejak memulai kebiasaan uniknya itu, ia sudah berhasil mengumpulkan lebih dari 1.100 liter sampah – cukup untuk memenuhi 40 tong sampah resmi Inggris.

Kebiasaan kecilnya memungut sampah telah membuat Nadia benar-benar menjadi “gadis sampah”. Ia mengaku  ‘sangat puas’ melihat usahanya berhasil melahirkan perubahan.

Ia merasa julukan ‘si gadis sampah’ membuatnya merasa seperti seorang pahlawan super- diabadikan dalam bentuk animasi,

Nadia yang hobi menggambar ini juga diberikan kesempatan untuk menayangkan pesannya melalui kartun di koran Eastern Daily Press.

Ia juga kemudian membuat cendera-cendera mata yang dijualnya dan berharap dapat menggunakan uangnya itu untuk membeli botol minum yang bisa dipakai berkali-kali oleh setiap murid di sekolahnya.

Salah satu yang membuat bangga  Paula Sparkes, perempuan yang melahirkan Nadia bukan karena prestasinya di sekolah. Tapi kebanggaannya kepada putrinya itu karena ia  membangkitkan kesadaran orang-orang untuk berhenti membuang sampah sembarangan.

“Dia ingin membentuk sebuah kelompok untuk mengumpulkan para pemungut sampah dan dia sudah melakukannya. Dia sudah dihubungi oleh orang-orang dari seluruh dunia. Kami sangat bangga padanya.”

Paula Sparkes, ibu dari Nadia itu mengaku bahwa mengubah kebiasaan anak remaja itu sangat sulit dan Nadia selalu merasa sendiri dalam upayanya membersihkan sampah dan itu membuatnya merasa berbeda.

Namun, dia menyadari semua pemungut sampah akan merasa seperti itu.

Apa yang dilakukan gadis yang usianya baru akan beranjak keangka 14 tahun itu adalah sebuah inspirasi untuk peduli kepada lingkungan.

Kisahnya menyadarkan kita bahwa peduli pada lingkungan itu tak perlu mahal, cukup menjadi LISA saja.”