Kabar Baik, Bulu Binatang Perlahan Ditinggal oleh Industri Fesyen

oleh -52 kali dilihat
Apa Itu “Slow Fashion” Paradigma Berkelanjutan dalam Produksi Fesyen
Ilustrasi - Foto/Free-Photos dari Pixabay

Klikhijau.com – Industri fesyen, sebuah dunia terus bergerak. Mereka terus saja melakukan terobosan untuk menciptakan dan menghadirkan pakaian yang baru dan tren.

Tidaklah mengherankan, jika industri ini menjadi salah satu industri yang cukup disorot, termasuk dalam hal kerusakan lingkungan hingga binatang.

Bahkan beberapa merek fesyen, tidak hanya menggunakan kain sebagai produk mereka, tetapi juga kulit hingga bulu binatang.

Kulit binatang adalah bahan yang cukup kuat digunakan untuk produk fesyen. Demikian juga dengan bulu binatang. Sehinga banyak menjadikannya sebagai bahan utama untuk mnghasilkan produk berkualitas.

KLIK INI:  Memanfaatkan Internet untuk Mengurangi Penggunaan Kertas di Kampus

Namun, ada hal berbeda yang dilakukan oleh merek fesyen terkenal asal Italia, Dolce & Gabbana. Mereka belum lama ini mengumumkan akan berhenti menggunakan bulu binatang dalam produknya.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilisnya,  perusahaan itu mengatakan akan beralih ke opsi bulu palsu yang lebih ramah lingkungan.

“Dolce & Gabbana bekerja menuju masa depan yang lebih berkelanjutan yang tidak dapat memikirkan penggunaan bulu hewan ,” ungkap Fedele Usai. Dia adalah petugas komunikasi dan pemasaran Dolce & Gabbana.

Mulai ditinggalkan merek terkenal

Merek terkenal ini,  sekarang telah bergabung dengan rumah mode terkemuka lainnya yang telah meninggalkan penggunaan bulu binatang. Merek-merek itu di antaranya Armani, Gucci, Prada dan Moncler.

KLIK INI:  Perihal Laporan 11 LSM Terkait Deforestasi Tanah Papua, Begini Jawaban KLHK!

“Seluruh sistem fesyen memiliki peran tanggung jawab sosial yang signifikan yang harus dipromosikan dan didorong,” tambah Usai.

Mereka meninggalkan penggunaan bulu binatang karena mengikuti tekanan dari kelompok hak-hak binatang . Upaya itu membuat merek fesyen terkenal tak lagi menggunakan bulu binatang sebagai produknya itu.

Berkat kampanye oleh Fur Free Alliance, yang merupakan jaringan kelompok hak-hak binatang dari seluruh dunia, maka banyak yang mulai meninggalkan bulu binatang sebagai produknya.

Mereka inilah yang telah membantu dan mempengaruhi merek-merek terkenal itu untuk meninggalkan bulu binatang dalam mode.

Kelompok-kelompok tersebut telah menekan merek-merek fesyen untuk memimpin dengan memberi contoh dan bertindak lebih manusiawi.

Hasilnya, meski memakan waktu, pada akhirnya banyak brand yang merespon positif, meski tidak sedikit pula yang menolak langkah itu.

KLIK INI:  Koalisi Advokasi Tambang Bongkar Praktik Melawan Hukum PT CLM di Malili

Human Society of the United States dan Humane Society International,  PJ Smith mengatakan bahwa Mengakhiri penggunaan bulu menciptakan standar yang lebih tinggi untuk apa yang dapat diterima dalam mode.

Pengkampanye hak-hak binatang telah menargetkan merek-merek terkemuka agar berhenti menggunakan binatang dalam produknya.

Mereka berharap  dapat menginspirasi perubahan secara global. Kebijakan telah mendorong perpindahan dari produk fesyen berbasis hewan.

Saat ini, lebih dari 20 negara telah melarang peternakan bulu hewan. Italia baru saja melarangnya tahun ini, sebuah langkah yang mungkin telah mempengaruhi rumah mode negara itu.

Keputusan Dolce & Gabbana mengambil langkah tersebut,  disambut baik oleh PETA . Organisasi itu menggambarkan keputusan itu sebagai “penyayang dan paham bisnis.”

Saat  ini, Chanel, Burberry, dan Prada juga menjauh dari bulu, pengumuman Dolce & Gabbana baru-baru ini menandakan perubahan besar dalam industri mode.

Dan tentu diharapkan perubahan itu akan terus menjalar ke industri mode yang lainnya.

KLIK INI:  Sumber Daya Alam Kalsel Memang Bikin Mata Melotot, Waspada Degradasi Alam!

Sumber: Inhabitat