Gletser Afrika Mencair, Bencana Ekologi dan Kemanusia Tak Terhindarkan

oleh -24 kali dilihat
Gletser di Gunung Kilimanjaro, Tanzania.-foto/(Wikimedia Commons/Chris 73/voi.id

Klikhijau.com – Gletser di sebelah timur Afrika diperkirakan akan lenyap atau mencair dalam dua dekade mendatang. Dampak yang ditimbulkan akan sangat besar terhadap ekologi dan kemanusiaan.

Karena diperkirakan sekitar 118 juta orang yang akan menghadapi kekeringan, banjir atau suhu panas yang ekstrem. Peringatan itu dikeluarkan oleh badan iklim Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Selasa, 19 Oktober 2021 lalu.

Ancaman menghilangnya gletser itu sangat serius. Apalagi ada laporan terbaru yang dikeluarkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan sejumlah badan Uni Afrika yang membahas tentang keadaan iklim di Afrika

Kedua lembaga itu melukiskan gambaran yang cukup mengerikan perihal  kemampuan benua tersebut (Afrika) untuk beradaptasi dengan bencana cuaca yang semakin sering terjadi.

KLIK INI:  Indikator Kerentanan Perubahan Iklim Dikembangkan di Sulawesi Selatan

Pada tahun 2020 lalu, ada data yang menunjukkan bahwa  Afrika diteror rekor terpanas  yang mencapai 0,86 derajat Celcius di atas rata-rata dalam tiga dekade menjelang tahun 2010 lalu.

Sebagian besar suhu Afrika menghangat lebih lambat daripada zona beriklim di lintang tinggi, Namun, meski begitu tetap memiliki daya rusak yang tinggi.

“Penyusutan cepat dari gletser terakhir yang tersisa di Afrika timur, yang diperkirakan akan mencair seluruhnya dalam waktu dekat, menandakan ancaman. Itu akan jadi perubahan permanen pada sistem Bumi,” kata Petteri Taalas, Sekretaris Jenderal WMO dalam kata pengantar kepada laporan  tersebut.

Laporan itu muncul ketika negara-negara Afrika  menuntuk sistem baru untuk melacak pendanaan dari negara-negara kaya yang gagal memenuhi target tahunan $100 miliar. Padahal jumlah anggaran yang ditarget bertujuan untuk membantu negara berkembang mengatasi perubahan iklim.

Permintaan perunding iklim terkemuka Afrika Tanguy Gahouma, menjelang KTT iklim COP26, menyoroti ketegangan antara 20 negara dengan ekonomi terbesar dunia.

Mereka ini menghasilkan lebih dari tiga perempat emisi gas rumah kaca, dan negara-negara berkembang yang menanggung beban pemanasan global.

KLIK INI:  Penanggulangan Pandemi Covid-19 Tergantung Sains dan Upaya Pencegahan
Melahirkan hawa panas

WMO memperkirakan bahwa pada tingkat saat ini. Ketiga ladang es tropis Afrika – Kilimanjaro di Tanzania, Gunung Kenya di Kenya, dan Rwenzoris di Uganda. Wilayah ini sering diidentifikasi sebagai lokasi “Pegunungan Bulan” yang legendaris. Diperkirakan akan  hilang pada tahun 2040-an mendatang.

Josefa Sacko, Komisaris Pertanian Uni Afrika mengatakan bahwa  pada tahun 2030, diperkirakan hingga 118 juta orang yang sangat miskin (hidup dengan kurang dari $ 1,90 per hari) akan terkena kekeringan, banjir, dan panas yang ekstrem apabila tidak ada respons nyata yang memadai untuk dilakukan..

Afrika merupakan penyumbang  kurang dari 4 persen emisi gas rumah kaca. Sebenarnya telah lama diperkirakan akan sangat terpengaruh oleh perubahan iklim. Lahan pertaniannya sudah rawan kekeringan, banyak kota besar yang berada di pesisir pantai, dan kemiskinan yang meluas membuat orang lebih sulit untuk beradaptasi.

Terlepas dari kekeringan yang memburuk di benua yang sangat bergantung pada pertanian itu. Naasnaya pada tahun 2020 terjadi banjir besar di Afrika Timur dan Barat. Bukan hanya itu, serangan belakang yang “brutal”  yang berdatangan   setahun sebelumnya, terus mendatangkan malapetaka.

Bahkan  laporan tersebut memperkirakan bahwa Afrika sub-Sahara perlu menghabiskan $30-$50 miliar, atau 2-3% dari PDB setiap tahun. Tujuannya untuk adaptasi guna menghindari konsekuensi yang jauh lebih buruk.

Hal paling mengejutkan dari bencana ekologi itu, karena pada tahun 2020 lalu diperkirakan ada sekitar 1,2 juta orang mengungsi akibat badai dan banjir.

Jumlah tersebut mengalahkan dengan telak jumlah orang yang mengungsi karena konflik lain di tahun 2020 lalu.

Jika benar gletser  Afrika menghilang, maka akan menjadi bencana ekologi dan kemanusiaan yang mengerikan.

KLIK INI:  Isu Perubahan Iklim Semakin Mencemaskan, Generasi Z Ternyata Lebih Peduli

Sumber: Reuters