Isu Lingkungan Tak Seksi di Debat Capres-Cawapres, Apa karena Ada yang Masuk Angin?

oleh -256 kali dilihat
Capres-Cawapres 2019

Klikhijau.com – Yang seksi dari debat pertama Calon Presiden-Calon Wakil Presiden (Capres-Cawapres) boleh jadi seputar isu ekonomi dan masalah kebijakan.

Perdebatan mengenai isu lingkungan agaknya tidak terlalu tersentuh. Apakah karena masalah lingkungan belum sepenuhnya jadi prioritas berbangsa?

Padahal, isu lingkungan sejatinya menjadi topik utama dan dari sanalah titik kisar perdebatan.

Dosen Departemen Komunikasi Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Ridho, membenarkan hal tersebut.

Menurutnya, isu lingkungan merupakan hal krusial yang semestinya mendapat tempat spesial dalam debat Capres-Cawapres.

Alasannya, saat ini lingkungan hidup di Indonesia mengalami kondisi sakit parah.

KLIK INI:  Menulis Isu Lingkungan itu Renyah dan Menggemaskan

Aktivis muda Muhammadiyah ini, mencontohkan betapa lahan-lahan yang tadinya menjadi penyangga ketersediaan air bagi kehidupan, kini beralih fungsi menjadi lahan industri, perumahan dan lainnya.

Bayangkan, kata Ridho, betapa banyaknya kasus tanah longsor dan banjir di banyak wilayah—semua itu akibat kerusakan lingkungan yang sangat massif.

Oleh sebab itu, tegas Ridho, isu lingkungan perlu dihadirkan pada debat untuk melihat seberapa peduli para kandidat menjadikan isu lingkungan sebagai prioritas dalam kabinetnya, kelak.

Isu lingkungan dalam debat Capres-Cawapres juga penting, lanjut Ridho, untuk mengetahui konsep para kandidat dalam menjaga dan melestarikan lingkungan. Terutama, dalam hal merespon masalah pengrusakan lingkungan.

Faktanya, isu lingkungan selain tidak seksi bagi kandidat, juga tidak seksi bagi masyarakat.

Mayoritas pemilih di Indonesia mungkin tak memikirkan betapa pentingnya isu ini menjadi prioritas dalam kebijakan pemerintah.

“Masyarakat kita kurang peduli pada pelestarian lingkungan. Masyarakat kita seringkali baru peduli jika sudah terjadi permasalahan atau bencana secara langsung,” kata Ridho.

Setali tiga uang, ada fakta politik yang tidak bisa disembunyi yakni adanya kartel politik antara politisi dan konglomerat. Tidak sedikit elit partai yang disupport oleh konglomerat pengrusak hutan.

Walhasil, para politisi pun terkesan tidak mau terbuka dan jujur dalam membuka fakta-fakta di balik menjamurnya masalah lingkungan di Indonesia.

KLIK INI:  Hujan Abu Batubara Mengguyur Suralaya, PLTU Dituding Sumber Pencemarnya
Isu lingkungan

Jadi, masalahnya ada dua, yakni kurangnya kepedulian masyarakat terhadap masalah lingkungan. Kedua, belum adanya kebijakan (policy) dari pemerintah yang memastikan lingkungan kita terjaga.

Demikian, kata Darwin (Aktivis lingkungan). Oleh sebab itu, kata Darwin, pemerintah harus hadir dalam masalah lingkungan agar lingkungan kita memberi manfaat yang besar bagi kehidupan masyarakat.

Iqbal Damanik dari Komunitas Bersihkan Indonesia berpendapat senada, katanya, para Capres-Cawapres  harusnya berani mengungkap masalah lingkungan.

Dalam sebuah diskusi yang digelar WALHI di Jakarta beberapa waktu lalu, Iqbal meragukan keberanian Capres-Cawapres untuk menyinggung masalah lingkungan. Padahal, menurutnya ada begitu banyak masalah lingkungan yang tidak selesai.

“Mulai dari kasus-kasus besar terkait pencemaran, pengrusakan, illegal logging dan lainnya. Ada banyak sekali isu menarik yang mestinya jadi materi debat pertama ini,” kata Iqbal.

Asumsinya sama, yakni tidak sedikit elit partai yang takluk pada konglomerat perusak hutan. Mereka masuk angin jahat bernama konglomerat.

KLIK INI:  7 Isu Lingkungan Hidup yang Masih Jadi Fokus Utama di Tahun 2022