Dunia Diintai Penyakit Mental karena Kesulitan Mencari Kerja

oleh -87 kali dilihat
Dunia Diintai Penyakit Mental karena Kesulitan Mencari Kerja
Ilustrasi pencari kerja/foto-ist
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Beberapa waktu lalu, seorang kawan menghubungi saya. Ia meminta saya agar membantunya mencari kerja.

Persoalan cari kerja memang rumit. Bermodal ijazah sarjana bahkan magister saja tak menjamin seseorang mendapat kerjaan.

Tak mengherankan, jika ada lowongan kerja, maka orang berjibaku mendaftar. Apalagi jika lowongan kerja itu untuk mendapat status pegawai negeri sipil. Persaingan akan lebih ketat.

Dampak sulitnya mencari kerja menurut laporan terbaru dari PBB,  merupakan faktor utama meningkatnya kasus penyakit mental di dunia.

KLIK INI:  2 Jam Berada di Alam Tingkatkan Kesehatan Mental, Ini Penjelasannya

Rapporteur kesehatan PBB, Dr. Dainius Pūras mengatakan, pemerintah dunia harus segera mengatasi kesenjangan dan diskriminasi untuk memerangi penyakit mental. Menurutnya, cara tersebut lebih efektif dibanding pengobatan dan terapi.

Ia menambahkan, cara-cara untuk mengobati penyakit mental yang dilakukan saat ini tidak sepenuhnya bisa diterapkan lagi.

“Ini akan menjadi ‘vaksin’ terbaik dalam melawan penyakit mental. Jauh lebih baik dari penggunaan obat-obatan psikotropika yang berlebihan,” kata Pūras. Ia mempresentasikan penemuannya ke dewan hak asasi manusia Jenewa, Senin, 24 Juni 2019 lalu.

Tantangan bagi kesehatan mental

Katanya lagi, ketimpangan merupakan tantangan utama bagi kesehatan mental global. Hal ini jika tidak segera di atasi bisa menjadi ancaman global

“Banyak faktor risiko penyakit mental berkaitan dengan ketidakseimbangan kondisi kehidupan sehari-hari. Biasanya itu merupakan dampak korosif dari melihat kehidupan sebagai sesuatu yang tidak adil,” tambahnya.

KLIK INI:  Karena Medsos Kesehatan Mental Masyarakat Indonesia Memburuk?

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ada 970 juta orang di seluruh dunia yang mengidap penyakit mental. Mereka juga mengatakan bahwa depresi dan kecemasan meningkat lebih dari 40% selama 30 tahun terakhir.

“Kita perlu menargetkan kepada hubungannya dibanding otak. Cara terbaik untuk berinvestasi pada kesehatan mental individu adalah dengan menciptakan lingkungan yang mendukung. Baik dalam lingkup keluarga maupun pekerjaan,” pungkasnya.

Ternyata apa yang dihadapi kawan saya yang mencari kerja itu, dihadapi pula oleh orang banyak di dunia. Namun, yang mengkhawatirkan, jika benar bahwa kesulitan mencari kerja bisa menyebabkan penyakit mental.

Sungguh, saya tak ingin kawan saya mengalaminya.

KLIK INI:  Benarkah Instagram Media Paling Buruk Bagi Kesehatan Mental, Bagaimana Mengatasinya?