Sepasang Mata Hujan

Air berlomba sampai ke laut. Mengajak apa saja yang dilaluinya. Kerikil, batu besar, kayu, daun, ternak, rumput, lumut. Apa saja. Tak ada yang kuasa menolak. Semakin jauh, semakin banyak yang ikut....

Sepasang Mata Hujan
Bacakan Artikel

Air berlomba sampai ke laut. Mengajak apa saja yang dilaluinya. Kerikil, batu besar, kayu, daun, ternak, rumput, lumut. Apa saja. Tak ada yang kuasa menolak.

Semakin jauh, semakin banyak yang ikut. Air yang awalnya adalah cermin, berubah warna jadi kopi susu pekat. Warna kesukaan orang-orang kota.

"Berhenti!" Sebatang pohon tammate melintangkan dirinya, menghalangi air masuk ke tambak-tambak garam.

"Kenapa?" tanya batu besar yang telah ngos-ngosan. Ia telah ikut sejak dari gunung. Batu besar itu menggelinding dari atas gunung karena didorong kuat oleh air hujan yang tumpah dari langit. Tempatnya tertanam tiada kuasa menahannya. Lalu ia menggelinding, merampas hidup apa saja dilaluinya.

[irp]

"Jika tambak garam itu hancur, kehidupan akan hambar," jawab pohon tammate.

"Hahahaha, tak ada urusan dengan kita," ujar air berwarna kopi susu pekat itu. Lalu diterabaslah pohon tammate itu.

Tak ada pilihan, pohon tammate pun harus ikut. Ia sesekali dilindas oleh batu besar, yang ikut sejak dari gunung. Tubuhnya gemeratak, serasa rontok.

Air yang kini berubah warna jadi kopi susu kental itu menerabas tambak garam. Melelehkan dan menyeret garam yang telah putih salju dan siap panen. Tiada tersisa, kehidupan bakal hambar.

Kehambaran di matamu

Kamu termangu di dapur rumah panggungmu yang berdiri di tepi kali itu. Hari ini kamu akan memasak daun kelor. Kakak lelakimu yang telah disekap rantau datang. Ia ingin bernostalgia dengan sayur kelor. Barangkali ia rindu masakan ibu.

[irp]

Keahlian memasak ibumu turun ke kamu, entah dengan cara apa. Apa yang kamu masak akan berubah jadi santapan yang menari lihai di lidah, menjelma masakan ibuโ€”masakan terenak sepanjang masa.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: