Sepasang Mata Hujan

Air berlomba sampai ke laut. Mengajak apa saja yang dilaluinya. Kerikil, batu besar, kayu, daun, ternak, rumput, lumut. Apa saja. Tak ada yang kuasa menolak. Semakin jauh, semakin banyak yang ikut....

Sepasang Mata Hujan
Bacakan Artikel

[irp]

ย Resah yang tumbuh di mata

Air berwarna kopi susu pekat itu terus saja mengalir. Apa yang dibawanya menyapu semua yang dilaluinya. Seorang lelaki tua berdiri mematung di atas rumah panggungnya yang sederhana.

Ia menatap keluar jendela menyaksikan tombak garamnya yang hampir panen tersapu air. Tanpa disadari matanya menghangat. Bayangan cucunya yang tak lama lagi tamat ย SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi membayang tunai.

Cucu semata wayangnya itu, telah dipelihara dan dirawat sejak kecil. Ibu dan bapaknya yang pergi merantau lupa pulang dan cara mengirim kabar apalagi uang.

Maka kegagalan panen garam adalah ulat-ulat yang menggerogoti kegagalan cucunya menempuh pendidikan yang lebih tinggi pula.

Jika cucunya berhasil kuliah, cucunya akan memiliki pendidikan tertinggi dari siapa pun di kampungnya. Itu akan membuatnya menjadi kakek yang paling bahagia dan bangga.

Tatapannya terus saja ke arah tambak garamnya, sesekali ia arahkan ke ujung tambak, di mana pohon tammate berdiri kokohโ€”tempat ia biasa bernaung dari terik matahari yang memanggang. Pohon yang ia tanam sendiri.

[irp]

Alangkah kagetnya ketika melihat pohon itu roboh, melintang lalu menggelinding terbawa air. Pohon tammate itu melintasi tambak garamnya. Menghapus garam yang telah memutih salju.

Ketika dilihat pohon itu, yang dulu jadi penyelamatnya dari terik matahari. Ia menyadari, telah menanam dan memelihara monster yang menghancurkan masa depan cucunya.

Ia melirik ke dapur, menyaksikan istrinya yang telah renta itu termangu di depan tungku.

โ€œKenapa Bu?โ€ tanyanya.

โ€œSayur kelor ini terasa hambar,โ€ jawab istrinya.

โ€œBarangkali kamu lupa pemberi penyedap rasa atau garam?โ€

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: