Sepasang Mata Hujan

Air berlomba sampai ke laut. Mengajak apa saja yang dilaluinya. Kerikil, batu besar, kayu, daun, ternak, rumput, lumut. Apa saja. Tak ada yang kuasa menolak. Semakin jauh, semakin banyak yang ikut....

Sepasang Mata Hujan
Bacakan Artikel

Ketika daun kelor itu telah hampir masak, kau mencoba mencicipinya. Tapi, rasanya hambar. Padahal telah kamu tuangi bumbu penyedap rasa.

Kamu memutar kepala kiri dan kanan, mencari apa lagi yang harus dituangkan ke dalamnya. Matamu mampir pada toples yang penyimpanan garam. Kamu mengambilnya, memeriksanya. Sayangnya garam telah tandas di dalamnyaโ€”tiada tersisa.

Bagimu dan juga saudara lelakimu yang baru pulang dari sekapan rantau itu. Tak ada bumbu dapur yang paling enak dari garam yang diperam di tambak petani garam, dibentuk panggangan matahari diangin-anginkan angin laut yang sepoi, digarap dengan cinta dan cucuran keringat para petani garam. Garam yang tak sekadar garam, tapi jalan panjang menuju masa esok yang secerah matahari pagi.

Kamu mulai mencari ide cara mendapatkan garam, meminjam ke rumah tetangga, ke pasar membelinya atau membeli ke penjual kaki lima.

[irp]

Opsi pertama, kamu menertawakan dirimu sendiri. Tak ada sejarah sesama tetangga akan saling meminjamkan garam. Garam, benda penting yang selalu dianggap sepele. Tak etis rasanya meminjam garam, bakal jadi cerita turun temurun orang sekampung. Dan itu akan membuat dada sesak.

Namun, jika harus keluar rumah membeli garam. Rasanya lebih tak mungkin lagi. Hujan yang curah sejak dua hari ini, membawa air meluap hingga ke jalan, ke kolong rumah. Warnanya kopi susu kental.

โ€œGaram habis, pakai bumbu penyedap rasa saja, ya?โ€ tanyamu kepada kakak lelakimu itu. Wajahnya telah pias, entah karena dekapan dingin atau lapar.

โ€œAstaga, Ismi, bagaimana bisa garam habis di dapurmu. Itu tak boleh terjadi, tak boleh,โ€ ujar kakakmu kaget.

Kamu tak menanggapinya, hanya tersenyum malu saja. Sebagai perempuan yang tinggal berdua saja dengan ponakan yang baru kelas dua SD. Persoalan masak memasak memang tak terlalu jadi prioritas saja. Apalagi saat makanan bisa dipesan online. Dapurmu lebih banyak menganggur dari memasak sayur.

โ€œTak enak kalau bukan garam,โ€ jawabnya, โ€œIbu selalu memakai garam ketika masak sayur kelor,โ€ lanjutnya.

โ€œOke, tunggu hujan mereda lalu saya akan membelinya di pasar atau di pedagang kaki lima di ujung lorong,โ€ katamu.

โ€œOk, tambahkan kopinya saja kalau begitu, biar lapar tertunda!โ€ pinta kakakmu.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: