Tahun-Tahun Mendatang, Miliaran Sampah Plastik akan Mengepung Bumi

Publish by -107 kali dilihat
Penulis: Idris Makkatutu
Di Negara +62 Ini, Sepanjang Jalan adalah Tempat Sampah
Sampah yang menghuni pinggir jalan/foto-Ist

Klikhijau.com – Sampah plastik jadi sebuah cerita dan ancaman yang masih menolak usai. Sejauh mana pun langkah kita, tempat apa pun yang dikunjungi. Sambutan sampah plastik nyaris tak pernah alpa.

Sampah plastik seolah bergerak mengikuti pergerakan manusia. Ia bahkan kerap menunggu kunjungan manusia pada tempat yang tak terduga, semisal laut terdalam. Ketika seorang penyelam menyelam ke sana. Sampah plastik telah menantinya.

Penggunaan plastik mengalami peningkatan setiap tahun. Ada keterlenaan dan kenyamanan yang membuat kita sulit beralih dari penggunaan plastik, terutama yang hanya sekali pakai.

Kelesuan bisnis daur ulang sampah plastik di Eropa selama pandami menyerang. Menjadi persoalan yang cukup besar akan tingginya sampah plastik ke depannya.

KLIK INI:  Mencegah Sampah Plastik ke Laut, Realistis atau Utopis?

Apalagi di berbagai sudut bumi bahkan hingga sudut-sudut Samudra Arktik dekat kutub yang  seharusnya terbebas dari sampah plastik karena jauh dari aktivitas manusia pun terdapat plastik.

Bahkan menurut penelitian yan diterbitkan oleh Jurnal Science pada 23 Juli 2020 dengan judul Evaluating scenarios toward zero plastic pollution mengungkapkan permukaan bumi mencakup laut dan darat, akan diselimuti 1,3 miliar ton limbah plastik pada 2040.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh para peniliti yang tergabung dalam  tim ilmuwan lintas bidang itu akan jadi kenyataan apabila manusia tidak segera bertindak.

Dr Costas Velis dari University of Leeds mengatakan bahwa hasil studi yang dipublikasikan pada jurnal Science ini sangat mengejutkan.

“Kita memiliki teknologi dan kesempatan untuk membendungnya,” katanya. Itu artinya ancaman kepungan plastic pada tahun 2040 mendatang bisa dicegah.

Untuk mendapat kesimpulan tersebut  peneliti menciptakan permodelan matematika untuk memprediksi kapasitas produksi plastik di seluruh dunia dari 2016 hingga 2040.

Cara perhitungannya, yakni melalui data delapan jenis “arketipe geografis”, alias karakter wilayah berdasarkan metode pengelolaan sampahnya.

KLIK INI:  Selain Jadi Ibu Kota, Kalimantan Juga Penerima Pertama TORA dari KLHK

Dalam masalah sampah, jarang orang menyoroti bahwa ada sekitar dua miliar penduduk yang tidak memiliki akses ke pengelolaan limbah yang tepat. Intinya semua wilayah memiliki problem tersendiri terkait pengelolaan sampahnya.

Semisal, kawasan perkotaan dengan warga menengah ke atas, memiliki sistem pengelolaan sampah yang berbeda dibanding wilayah perkotaan dihuni masyarakat dari status ekonomi menengah ke bawah.

Plastik, penolong yang jadi ancaman

Awal kehadiran plastik dianggap sebagai penyelamat lingkungan. Ia disambut dengan suka cita, misalnya kantong plastik.

Pada tahun  1959 di Swedia banyak orang menggunakan kantong kertas untuk keperluan sehari-hari. Penggunaan itu jadi ancaman serius bagi lingkungan meski mudah terurai. Karena produksi kantong kertas  memerlukan penebangan banyak pohon.

Fakta tersebut diungkapkan oleh  Raoul Thulin, pada tayangan YouTube BBC dengan judul How Plastic Bags Were Supposed to Help The Planet mengatakan bahwa  Ayah Raoul, Sten Gustaf Thulin lah yang menciptakan kantong plastik yang kita kenal sekarang.

KLIK INI:  Menteri Siti: Kiprah Profesi Insinyur Indonesia harus Merespons Persaingan Global

Ide awal penciptaan kantong plastik karena Sten merasa memerlukan  bahan kantong yang kuat, lebih ringan, dan tahan lama. Maka orang dapat menggunakanya secara berulang-ulang.

Sten juga berfikir bahwa kantong yang baru itu haruslah ramah lingkungan dengan mengurangi penebahan pohon yang saat itu masif dilakukan.

Namun, harapan Sten agar kantong ciptaannya digunakan berulang-ulang perlahan memudar. Itu seiring dengan semakin massifnya produksi kantong plastik. Sehingga kebanyakan orang menggunakannya hanya sekali pakai saja, lalu membuangnya ke lingkungan.

Kantong plastik yang terbuang ke lingkungan menjadi ancaman yang mengerikan karena sulit terurai.

 Tawaran solusi dari peneliti

Untuk mencegah agar Bumi terhindar dari kepungan plastik, selain kebijakan pemerintah dalam mengatasi polusi sampah. Para peneliti menyarankan 8 cara ini:

  • Mengurangi kuantitas produksi plastik dalam sistem yang ada sekarang
  • Mengganti plastik dengan bahan lain yang lebih ramah lingkungan
  • Desain baru daur ulang yang lebih efisien
  • Menciptakan kapasitas pengangkutan sampah plastik
  • Menciptakan sistem baru pemilahan plastik dari sampah lain
  • Menciptakan sistem daur ulang kimiawi untuk plastik
  • Memastikan kebocoran limbah plastik tak bisa terjadi
  • Mendorong berkurangnya pemakaian plastik dalam rantai ekonomi

Kedelapan cara tersebut di atas, semoga efektif dalam mencegah polusi plastik. Sebab menurut peneliti yang tergabung dalam lintas bidang, bahkan dengan metode yang sudah dijalankan berbagai negara maju saat ini dalam mengelola limbah plastik, perhitungan para ilmuwan memprediksi bila 710 juta ton sampah plastik akan mencemari lingkungan hingga 20 tahun mendatang.

KLIK INI:  2030 Taiwan Bebas dari Sampah Plastik, Indonesia Kapan Ya?
Editor: Idris Makkatutu

KLIK Pilihan!