Perihal Kartika, REDD-Plus, dan Efek Emisi Gas Rumah Kaca

oleh -956 kali dilihat
Ilustrasi efek emisi gas rumah kaca
Ilustrasi efek emisi gas rumah kaca//foto-moondoggiesmusic.com
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – Upaya  pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) terus dibiakkan. Salah satunya adalah Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation Plus (REDD-Plus). Sebuah mekanisme untuk mengurangi emisi  GRK dengan cara memberikan kompensasi kepada pihak-pihak yang melakukan pencegahan deforestasi dan degradasi hutan.

Jika kamu ingin tahu tentang REDD-Plus, kamu bisa membaca tulisan Kartika Puspitasari yang berjudul Berkenalan dengan REDD-PLUS, Sebagai Upaya Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca di sini (klikhijau.com)

Namun, jika kamu ingin tahu apa dampak dari emisi gas rumah kaca, kamu bisa membaca tulisan ini hingga tuntas. Inilah dampaknya seperti yang ditulis di thegorbalsla.com.  Nama situsnya lumayan rumitkan, serumit mengatasi emisi GRK:

  •  Perubahan iklim

Daerah yang cenderung hangat akan menjadi lembab, karena ada lebih banyak air yang menguap di lautan. Hal itu disebabkan oleh uap air yang merupakan gas pada rumah kaca, sehingga keberadaannya akan menyebabkan meningkatnya efek insulasi pada atmosfer. Uap air yang banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak.

KLIK INI:  Berkenalan dengan REDD-PLUS, Sebagai Upaya Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca

Lalu kemudian akan menimbulkan pantulan cahaya matahari akan kembali ke luar angkasa, yang di mana hal itu akan menurunkan proses pemanasan. Kelembapan yang sangat tinggi akan meningkatkan curah hujan, badai yang semakin kering, dan air akan lebih cepat menguap dari dalam tanah.

  • Meningkatnya permukaan air laut

Salah satu dampak atau akibat dari pemanasan global atau efek rumah kaca ini, adalah meningkatnya permukaan air laut. Bahkan lapisan es di benua arktik akan berkurang sebanyak 2,7 % per dekade. Kemudian temperatur rata-rata global telah meningkat, dengan kedalaman paling sedikit 300 meter saja.

Perubahan tingginya rata-rata muka laut akan diukur dari daerah dengan lingkungan yang lebih stabil, secara geologi. Lalu ketika atmosfer menghangat lapisan air laut juga akan ikut menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tingginya permukaan air laut.

  • Meningkatnya suhu global

Pemanasan yang terjadi pada sistem iklim bumi menjadi hal yang paling terasa, seiring dengan banyaknya bukti mengenai pengamatan kenaikan temperatur udara dan laut, pencairan salju dan juga es di berbagai tempat di dunia, dan kemudian naiknya permukaan laut global.

KLIK INI:  Pupuk Anorganik Selain Mengancam Kesuburan Tanah, Juga Menjadi Pemicu Perubahan Iklim

Perubahan ini telah diukur oleh para ilmuwan, dengan mengukur atmosfer, lautan, permukaan es, dan gleteser yang menunjukkan bahwa kini bumi telah mengalami pemanasan akibat dari adanya emisi gas rumah kaca di masa lalu.

  • Gangguan ekologis

Di dalam pemanasan global, hewan atau binatang cenderung bermigrasi ke arah kutub es atau ke atas pegunungan. Tumbuhan juga akan mengubah arah pertumbuhannya, dengan mencari daerah baru yang habitatnya menjadi lebih hangat. Tetapi pembangunan manusia justru akan menghalangi perpindahan tersebut.

Para spesies yang akan berpindah ke arah selatan dan utara akan terhalangi oleh kota-kota dan lahan-lahan pertanian, yang mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu berpindah secara cepat menuju kutub, bahkan bisa musnah.

  • Dampak sosial dan politik

Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit yang berhubungan dengan panas, adanya penyebaran penyakit yang melalui air, adanya penyebaran penyakit melalui vector, bahkan sampai kematian. Temperatur yang panas juga akan mengakibatkan gagal panen, sehingga munculah kelaparan dan malnutrisi.

Mari berdoa penuh harap, semoga dengan REDD-Plus emisi gas rumah kaca bisa diatasi sehingga tak lagi meresahkan.

KLIK INI:  Benarkah Internet Menyumbang Emisi Gas Rumah Kaca?