Mengamati Suatu Sekolah Negeri Mengurus Sampahnya, Emmmm!

oleh -73 kali dilihat
Mengamati Suatu Sekolah Negeri Menelantarkan Sampahnya, Emmmm!
Suatu pemandangan sampah - Foto: Ist
Anis Kurniawan

Klikhijau.com – Ini semacam eksperimen kecil-kecilan di waktu senggang. Atau mungkin semirip keisengan sahaja. Suatu waktu, di jam pulang sekolah, saya sengaja berdiri depan pintu gerbang sebuah sekolah negeri di Makassar. Dengan saksama ingin mengamati bagaimana civitas sekolah (siswa, pegawai, orang tua siswa dan guru-guru) mengurus sampah-sampahnya.

Tepat di depan gerbang sekolah, tergelatak berantakan tumpukan sampah. Bercampur sari, dari plastik bekas minuman hingga sampah organik sisa makanan. Beberapa tong sampah tak berlabel berisi tumpukan tak beraturan. Sampah kecil-kecil lainnya berserak mengitari laksana pasukan pengawal.

Beberapa sampah mewujud dalam kantong-kantong kecil. Lainnya berhamburan.

Mata saya seolah tak berkedip, sebab saat angin bertiup, sampah-sampah bergerak tak beraturan. Sampah itu mencari jalannya sendiri mengikuti arah mata angin. Berpencar seperti prajurit dalam perang gerilya. Menciptakan suatu tatanan yang tak elok dipandang.

Sama sekali tak menggambarkan bahwa ini adalah pintu gerbang sekolah. Tempat dimana anak-anak dididik untuk berpengetahuan. Dididik supaya berkarakter dan mengamalkan hal-hal baik pada kehidupan. Suatu hal yang amat paradoks dari label “institusi pendidikan”. Meski kita tahu bahwa beberapa jam setelahnya mobil pengangkut sampah akan menjemputnya.

KLIK INI:  Cara Keren Pegiat Literasi di Mamuju Tengah Kampanye Cinta Lingkungan

Penampakan seperti ini sejatinya sudah sangat sering kita jumpai di mana-mana. Itu pula yang memantik saya mengamatinya lebih detail dan saksama.

Sembari menatap tumpukan sampah itu, beberapa siswa berdatangan membawa sampah-sampah baru. Juga seorang yang mungkin bertugas membersihkan kelas usai pembelajaran. Semua lalu-lalang menenteng sampah dan menaruhnya di atas tumpukan. Meletakkan seadanya setidaknya tidak menambah kesan berantakan.

Lalu, perhatian saya bergeser mengamati anak-anak yang berjalan pulang melewati pintu gerbang sekolah sambil makan-minum berdiri. Beberapa ikut pula menaruh sampah di atas tong sebelum berlalu. Namun beberapa tak menghiraukan. Tidak sedikit pula dengan enteng membuang semberono sampah kemasan makanan ringan di jalanan. Pemandangan yang amat sering kita jumpai bukan? Anak-anak itu seolah menjadikan alam terbuka sebagai tempat sampah.

Di belakang siswa pembuang sampah sembarangan berjejer siswa-siswa lainnya juga orang dewasa. Namun, tak seorang pun menegur atau setidaknya berekspresi seperti saya geleng-geleng kepala. Betapa saya semakin heran bukan kepalang. Terbersik di kepala saya, apakah mereka tidak pernah diajarkan tentang etika buang sampah?

Sementara membayangkan situasi yang runyam ini, saya kadung kecewa pada kenyataan. Sebab sembari pemandangan ini tersajikan apik, kota Makassar sejak sepuluh tahun silam setidaknya begitu gembar-gembor kampanye kelola sampah dengan baik. Hal pertama yang paling populer adalah LISA (lihat sampah ambil). Suatu tindakan etis yang pernah dibangkitkan secara simbolik bahwa sampah adalah tanggungjawab bersama.

KLIK INI:  Merancang Transisi Teratur Dunia Nol Bersih 2050

Sependek pengalaman saya, rasanya hanya pemulung paling laten mematuhi tagline LISA ini. Selebihnya, kita hanya alih-alih. Sampah bergentayagan. Mendehem di dalam got. Kemudian ketika hujan turun, sampah-sampah itu akan menyumbat saluran air. Berkelindan di jalan raya. Sebagian besarnya lalu berkumpul di kanal-kanal menyerupai lalulintas perairan yang padat. Sampah-sampah itu berkubang di laut sebagai kado hitam bagi biota laut.

Ah, pikiran saya wara-wiri jadinya. Apa yang baru saja saya lihat seolah menggambarkan betapa tak ada kemajuan berarti yang kita bisa banggakan dalam segenap upaya kita mengedukasi warga kota untuk bertanggungjawab menangani sampahnya.

Terbayang pula, ingatan saya melihat orang-orang yang membersihkan di sekitar rumahnya, tetapi kemudian membuangnya di lahan kosong tak jauh dari rumahnya. Membakar sampahnya di sana. Mungkin ia mengira bahwa sampah yang dipindahkan tak memiliki dampak kepada dirinya. Emmm! Suatu keyakinan paling menyebalkan tentu saja!

Sekali lagi saya geleng-geleng dan seolah hendak marah. Namun entah kepada siapa? Kita tak mungkin larut dalam simalakama saling menyalahkan. Barangkali kita hanya perlu jujur menerima pil pahit bahwa memang kita belum serius mengurus sampah-sampah di sekitar kita.

Ketidakseriusan itu tercermin di institusi sekolah yang sejatinya jadi rumah-rumah keteladanan. Tempat dimana kesadaran sistem dan etika lingkungan ditegakkan dengan gagah berani. Bagaimana pula di masjid-masjid? Di kantor-kantor pemerintah? Emmmmm….!

KLIK INI:  Bahkan Sampah Plastik Telah Sampai ke Kawasan Adat Ammatoa Kajang