Ketika Cengkeh dan Kunyit Tak Sekadar Rempah, tapi Peta Pulang kepada Kekasih

oleh -61 kali dilihat
Cover novel Pulang-foto/Ist
Irhyl R Makkatutu

Klikhijau.com – ‎Lalu siapa yang cukup gila menyimpan cengkeh dan kunyit dalam stoples. Bukan untuk digunakan di dapur sebagai bumbu, bukan. Hanya untuk dipajang saja. Seolah jika memandangnya semua kenangan kembali mewujud nyata. Semua rindu dan rasa sepi bisa menguar. Lenyap. Dan hidup kembali berjalan baik-baik saja.

Aroma cengkeh dan kunyit yang terperangkap dalam stoples, tak akan pernah cukup untuk mengharumkan ruang tamu, bahkan kamar tidur. Jadi, untuk apa Dimas Suryo menyimpannya?.

‎Pertanyaan itu tak hanya mengusik saya sebagai pembaca Pulangnya Leila S. Chudori, tapi juga Vivienne Deveraux dan Lintang Utara. Hanya saja pertanyaan itu tak pernah dilontarkan oleh ibu dan anak itu, meski Dimas  sangat dekat dengan keduanya. Vivienna adalah perempuan yang dicintai oleh Dimas, cinta yang tumbuh pada pandangan pertama.

‎Keduanya lalu menikah, pernikahan yang bukan hanya menyatukan dua manusia, tetapi dua negara dan budaya yang berbeda–Indonesia dan Prancis. Dari pernikahan itu, lahirlah Lintang Utara, yang kelak menemukan kepingan puzzle terakhir teka-teki cengkeh dan kunyit dalam stoples yang selalu setia menemani Dimas, sang Ayah.

KLIK INI:  “Ramuan di Segitiga Wallacea” dan Tradisi Penyembuhan dari Tumbuhan Liar

‎Dalam diri, dalam hati setiap orang selalu ada ruang kosong. Sebuah ruang yang memiliki ukuran yang sangat pas untuk penutupnya sendiri, tanpa meninggalkan celah sedikit pun. Begitupun Dimas, cintanya kepada Vivienna dan keindahan Paris, bahkan kelahiran Lintang Utara tak mampu mengisi ruang kosong itu. Apalagi menutupnya dengan sempurna.

‎Dan untuk menutup ruang kosong itu, maka cengkeh dan kunyitlah yang menjadi penutup untuk sementara. Bahkan menjadi isinya. Ketika cengkeh dan kunyit mulai kehilangan daya pikat melalui aromanya, Dimas akan segera menggantinya. Membelinya dari Belanda yang harganya cukup mahal atau mendatangkannya langsung dari Indonesia yang butuh waktu lama proses pengirimannya ke Prancis.

‎Sebagai eksil politik, yang tak bisa pulang ke negara asalnya, Indonesia, rempah, kenangan dan suratlah yang menghubungkan Dimas bersama tiga temannya (Nugroho Dewantoro, Tjai Sin Soe, Risjaf) dengan tanah air yang dicintainya. Ingatan mereka tentang Indonesia berhenti di tahun 1965.

KLIK INI:  Gelisah Burung-Burung
  ‎

‎Semuanya bermula ketika Dimas menghadiri acara di luar negeri di tahun 1965. Tahun yang penuh gejolak, darah, dan air mata bagi Indonesia. Mereka secara terpaksa menjadi tapol atau tahanan politik di negara orang. Mereka dianggap bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diduga kuat sebagai dalang dari gerakan 30 September 1965.

Setelah peristiwa 30 September 1965 itu. Wajah indonesia berubah. Siapa pun yang diduga memiliki hubungan dengan PKI harus disingkirkan. Termasuk Dimas dkk.

Kisah Dimas dan petualangannya di Eropa, juga kekuatan kunyit dan cengkeh sebagai penjaga kenangan, identitas, dan peta pulang itu terdapat dalam novel Pulang, karya Leila S. Chudori. Sebuah novel yang sangat vokal memberi suara para eksil politik, yang bahkan banyak di antara mereka yang tak tahu letak kesalahannya di mana. Ini diwakili oleh empat sekawan itu. Mereka merupakan wartawan di sebuah media

KLIK INI:  Tentang Cara Merawat dan Menjaga Kucing Kesayangan

‎Dimas misalnya, yang menjadi tokoh penting dalam novel itu, ia digambarkan tak memihak pihak mana pun alias netral. Harus menghadapi kenyataan mengerikan. Hidup di negara orang dengan harga yang sangat mahal, sebab tak memiliki tenggat waktu, kapan bisa pulang ke Indonesia.

‎Untuk survive di Prancis, keempat kawanan eksil itu membuka restoran yang mereka namai restoran Tanah Air. Di restoran itu, mereka tak hanya memperkenalkan indonesia di Eropa melalui kuliner yang kaya rempah, tetapi juga budaya lainnya. Hanya saja usaha itu tak cukup mumpuni menghapus stigma yang disandangnya.

 ‎Rempah dan Surti 

Selalu ada kisah yang tak selesai. Kisah Dimas dengan Indonesia tak pernah usai, pun demikian dengan kisah cintanya kepada Surti Anandari. Dimas mencintai Surti. Meski Surti menikah dengan sahabat Dimas sendiri.

KLIK INI:  Tentang Jejak Hidup Sukses dari Filosofi Air Mengalir

Namun, tak ada cinta, juga rindu yang terhapus hanya karena tak ditakdirkan hidup bersama dalam ikatan pernikahan. Cinta adalah sebuah ruang tanpa batas. Dan selalu ada sesuatu yang menghubungkan kita dengan orang yang dicintai. Itu bisa kau namai kenangan. Kenangan itu bisa berupa benda, waktu, suara atau apapun yang terasa mengikat tanpa tekanan dan tak pernah lepas.

Dimas dan Surti dihubungkan oleh cengkeh dan kunyit. Kedua rempah itu tak sekadar rempah. Namun sebuah bukti dan bakti cinta keduanya. Sebuah jembatan yang mempersuakan rindu.

Ketika Lintang menemukan puzzle terakhir itu saat berkunjung ke Indonesia di tahun penuh gejolak, 1998. Ia menyadari, kenapa ibunya Vivienna tak pernah bisa menjadi peta pulang, menjadi rumah bagi ayahnya.

Pada akhirnya, pertanyaan kenapa Dimas selalu menyimpan dua jenis rempah Indonesia itu. Jawabannya, karena kedua rempah itu tak sekadar rempah, tapi peta pulang Dimas ke Indonesia yang tak pernah bisa dijangkau selama Orde Baru (Orba) masih berkuasa.

Kedua rempah itu, juga adalah peta pulang Dimas kepada perempuan yang selalu mengisi ruang kosong dan penutup bagi hatinya. Tanpa ada celah sedikit pun, bahkan tak bisa meloloskan angin berembus ke dalamnya.

 Dan pada akhirnya, begitulah perjalanan, selalu ada jalan pulang kepada kekasih.

KLIK INI:  Pohon Kehidupan