Menyelam ke Kolam Sapardi Djoko Damono

oleh -149 kali dilihat
Menyelam ke Kolam Sapardi Djoko Damono
Sampul kumpulan puisi Kolam, Sapardi Djoko Damono-foto/Ist
Nona Reni

Klikhijau.com – Para pencinta lingkungan, tentu tidak akan asing dengan nama Sapardi Djoko Damono atau yang sering disingkat SDD. Kenapa? Karena hampir setiap tulisannya, baik puisi maupun prosa yang ditulisnya selalu mencerminkan kesetiaan pada citraan alam yang kuat.

Selama kurang lebih 40 tahun menulis puisi, kesetiaan Sapardi menggunakan benda-benda alam sebagai alat pengucapan sajak-sajaknya tidak pernah hilang.

Dalam rentang itu, kita akan selalu bertemu dengan diksi kabut, bunga, embun, matahari, bulan , bintang, langit, rumput, pohon, ilalang, awan, ranting, sungai, laut, hujan, dan diksi alam lainnya.

Begitupun dengan bukunya yang bertajuk Kolam yang diterbitkan Gramedia pada tahun 2017. Namun, sebelum diterbitkan oleh Gramedia, buku ini telah terbit pertama kali pada tahun 2009.

KLIK INI:  Jati Belanda Ibu

Membaca puisi-puisi yang terangkum dalam Kolam, pembacanya memang terasa masuk ke dalam teduh yang sejuk, sekaligus indah dan menawan.

Selain diksi alam yang digunakan dalam karya-karyanya, Sapardi juga sangat dikenal dengan kesederhanaannya, ia tidak perlu mengulik kerumitan estetika demi menghasilkan puisi yang indah. Sajak-sajak dalam buku Kolam ini, misalnya. Dengan sederhana mampu menghadirkan keteduhan bagi pembaca.

Dari misalnya, cerita tentang sebuah kolam dan ikan-ikan yang berterima kasih di dalamnya, atau dari sebatang pohon belimbing yang tumbuh di pekarangan, atau dari burung-burung yang tidak pernah meninggalkan jejak di langit, atau personifikasi dari sebentuk kabut yang merayapi bukit.

KLIK INI:  Reforma Agraria dan Isu Pergeseran Lahan Pertanian di Indonesia
Berisi 51 puisi

Dalam puisi-puisinya ini, kita bertemu dengan sejumlah refleksi tentang hubungan kita dengan sesama makhluk lain penghuni alam ini, pun dengan Sang Pencipta.

Buku Kolam ini sendiri berisi 51 puisi yang terdiri dari puisi panjang, Soneta dan beberapa puisi pendek. Masing-masing di bagi menjadi 3 bagian.

Ada salah satu puisi dalam buku ini yang menarik untuk dibahas, yakni puisi yang berjudul Pohon Rambat.

“Pohon rambat itu mendaki anjang-anjang yang kau jalin di pekarangan belakang rumahmu. Pada pagi hari warna sekeliling menjadi kuning seperti bunganya meskipun daun

-daunnya bertahan hijau.

KLIK INI:  Tanah Berwajah Sampah

Tanpa pernah memperhatikan warna apa sebenarnya yang dikehendakinya, pohon itu terus mendaki sampai seluruh jaringan yang kau buat itu penuh.

Dan mulai berpikir ke mana lagi harus mendaki untuk menunjukkan bahwa apa yang sudah kaukerjakan itu tidak tampak sia-sia.

Dari puisi di atas dapat kita lihat, betapa seorang Sapardi seorang pengamat alam yang baik, dia mampu menuliskan pengamatan-pengamatannya dengan komposisi yang pas dan tepat hingga menghasilkan puisi sederhana yang sarat makna.

Rasanya, Sapardi tidak hanya identik dengan hujan bulan Juni, tapi juga sangat identik dengan alam sebagai kekuatan dari karya-karyanya.

Alam memang adalah gudang inspirasi yang tidak pernah habis, lautan ide yang tidak pernah mengering. Dan Sapardi telah memasuki gudang itu, dia juga menyelam ke lautan ide itu, sehingga karya-karyanya selalu segar dan kuat. Kesegaran dan kekuatan itu didapatkan Sapardi dari alam.

Membaca karya Sapardi, misalnya dalam kumpulan puisinya yang berjudul Kolam dan karya lainnya, bersiaplah memasuki alam raya ini melalui diksi-diksi alam yang diracik dengan penuh cinta dan kesederhanaan.

KLIK INI:  Titik Nalar dan Imajinasi Seorang Rimbawan