- Kembang Hujan - 12/01/2026
- Sebelum Polusi Tiba - 04/01/2026
- Perihal Pohon Durian di Belakang Rumah dan Anggrek Macang yang Menghuninya - 25/12/2025
Hujan sore ini berbeda. Lebih menderas. Lebih mengiris. Sangat menguras air mata. Lihai membasahi ingatan. Sejujurnya aku tak pernah membenci hujan.
Namun, sejak Jumat pagi di penghujung November lalu. Aku melihat hujan jauh berbeda dari sebelumnya. Lebih buram. Seburam masa nanti yang menantiku.
Setiap Jumat pagi, sejak satu tahun empat bulan terakhir ini adalah hari yang paling mendebarkan bagiku. Paling kunanti di antara semua hari. Aku merasa terlahir utuh sebagai perempuan di Jumat pagi. Padahal tak ada yang berubah pada diriku secara fisik. Aku tak memindahkan garis alisku, tak menjadi lebih glowing.
Namun, debaran rindu dan bahagia mengantarku ke puncak utuh sebagai perempuan. Banyak yang bilang, untuk menjadi perempuan seutuhnya, kamu harus menjadi ibu–harus merasakan mengandung, melahirkan, dan menyusui.
Aku tak perlu melewati semua itu untuk menjadi perempuan paripurna. Atau mungkin karena aku belum mengalami yang jadi anggapan banyak orang itu. Bagiku untuk menjadi perempuan seutuhnya adalah dengan bahagia. Dan setiap Jumat pagi aku akan bahagia. Sangat bahagia tepatnya.
“Cie ada yang menunggu kabar nih,” goda Flora, adik perempuanku yang sekilas seumuran denganku. Kami hanya berbeda satu setengah tahun.
Biasanya, jam enam pagi tanpa kurang dan lebih, telepon dari Essa akan menyambangi gawaiku. Tapi, ini sudah jam tujuh lewat tujuh belas menit. Gawaiku masih didekap sunyi. Sesering apa pun aku mengeceknya, mengubah pengaturannya ke mode pesawat lalu menekannya kembali agar jaringannya bisa stabil.
“Mungkin masih tidur, semalam Kak Essa pasti capek jalan keluar dari hutan,” tambah Flora sedikit menghiburku.
“Tak biasanya Essa bangun telat,” kataku.
Selama satu tahun empat bulan tujuh belas hari menjalin hubungan jarak jauh dengannya. Itu pertama kalinya Essa telat mengabariku di hari Jumat pagi.
Hari Jumat adalah hari liburnya, Senin hingga Kamis kami akan sulit komunikasi. Essa berada di dalam hutan Sumatera. Menambang emas untuk bekal uang panainya kepadaku, kekasihnya.
Sebagai perempuan Bugis-Makassar, uang panai adalah harga mati. Dan harga diri bagi lekaki bujang adalah mencari uang panai. Tak bisa ditawar. Itu pula yang membuat Essa merantau ke Sumatera. Menjadi penambang emas, sesekali nyambi jadi penebang pohon.
Berita samar yang menenggelamkan
Karena kabar Essa tak kunjung datang. Aku mengusir risau dengan membuka Instagram. Debaran jantungku rasanya berlari kencang. Meninggalkan tempatnya bertengger. Berita banjir bandang melanda Sumatera terlalu sulit kupercaya. Sontak membuatku lemas. Aku menelepon nomor Essa tak ada respons, pun nomor dua temannya yang aku tahu.
Tak lama setelahnya, telepon dari ibu Essa bertandang, aku mengangkatnya. Berharap ada berita Essa dari perempuan yang tak lama lagi akan kupanggil mama mertua itu.
Namun, aku mendapati hal di luar harapan. Ibu Essa justru bertanya kepadaku, apakah Essa menelepon atau tidak? Dan betapa kecewa dan sedihnya ketika kujawab “tidak”.
Aku tahu, aku akan menjadi perempuan yang paling disalahkan jika Essa dirampas banjir bandang itu. Karena akulah, ia merantau ke Sumatera Utara. Mencari uang panai.
Jika saja permintaannya diterima saat melamar dua tahun lalu. Tentu ia tak akan meninggalkan kampung halaman kami. Namun, Tante Ajiku tak ingin ponakannya yang bergelar sarjana ini, Kembang Mate’ne menerima pinangan lelaki dengan uang panai kurang dari seratus juta.
Gerimis di tengah hujan
Hujan semakin menderas sore ini, dan ingatan tentang Essa kembali menumbuh lebih lebat dalam kepalaku. Pada rinduku yang terus memekarkan dirinya.
Setiap ingatan itu mengurung dirinya dalam kepalaku. Mataku akan menggerimis, tapi rasanya aneh. Biasanya jika air mata keluar mata akan menghangat. Sejak Essa tak mengirim kabar. Gerimis dari mataku sedingin Es. Mataku rasanya membeku.
Flora datang membawakanku teh bunga telang. Bunga yang ditanam Ibu di depan rumah itu memang telah mengeluarkan bunga. Aku menyukai menyeruputnya saat sore hari. Warnanya yang biru selalu mengingatkanku pula pada warna kesukaan Essa.
Rasanya, sejak penghujung November itu dan tanpa ada lagi kabar darinya, lelaki yang kulabuhi segala rindu dan cinta itu. Duniaku terasa lebih asing, lebih murung, lebih suram.
Sejak itu pula, aku bahkan tak pernah meninggalkan rumah. Duniaku berhenti hanya pada kamar, ruang tamu, dapur, teras, dan kamar mandi. Tak ada yang lain. Bahkan sekadar menginjakkan kaki ke halaman rumah pun, seingatku baru lima kali sejak di penghujung November tahun lalu.
Aroma, teman masa kuliahku dulu di Makassar. Begitu tahu aku terpukul oleh duka yang mengoyak, segera datang menjengukku. Ia membawakan oleh-oleh buku “Mencari Makna di Balik Duka Cita, Tahap Keenam Kedukaan” yang ditulis David Kessler.
Namun hingga buku itu katam, dukaku terus saja mencair. Aku belum bisa menemukan makna apa pun dari balik kehilangan Essa. Aku hanya menemukan diriku dikepung sedih, rasa bersalah, dan duka nganga.
Di Balik Nama Essa
“Essa itu kuat, Kembang. Ia pasti bertahan dari bencana itu,” hibur Ibu Essa yang aku tahu bukan menghiburku, tapi menghibur dirinya sendiri.
Sejak dalam kandungan, Essa telah bertempur oleh nasib yang tak mudah. Dua kali ia hampir gugur sebelum masa kelahirannya. Terakhir ketika ayahnya pergi kepada seharusnya lebih dulu, ketika Essa baru empat bulan lima belas hari dalam kandungan.
Ibunya syok, dan pendarahan hebat terjadi. Tapi, tangan Tuhan bekerja dengan ajaib. Essa bisa selamat. Bertahan dalam perut ibunya hingga masa keluar melihat dunia yang penuh drama ini pun tiba.
Ketika baru lahir, tiga puluh tiga menit ia tak mengeluarkan suara. Para bidan di puskesmas kecamatan panik. Semua usaha dilakukan untuk mengeluarkan tangisnya.
Dan entah bagaimana, omnya yang baru pulang dari kebun–tanpa mengganti pakaian langsung ke puskesmas. Begitu sampai, ia langsung menggendong ponakannya itu–merampasnya dari para bidan. Hampir saja terjadi cekcok. Namun, begitu sepucuk essa-essa yang ikut di baju omnya menyentu hidungnya, suara tangis Essa menggelar.
Dari peristiwa itulah, ia kemudian dinamai Essa. Rumput essa-essa adalah rumput yang bebal, sulit diberantas dan mudah tumbuh pada kondisi medan dan cuaca bagaimanapun.
Dan seperti itulah sifat Essa, ia bisa hidup di mana saja dengan bahagia. Bahkan ia sekarang hidup dalam hati dan kepalaku.
Namun, kini telah Januari. Kabar Essa belum juga tiba. Padahal seminggu sebelum Ramadan nanti, kami akan melakukan pernikahan. Ia akan menyempurnakanku menjadi perempuan. Perempuan berbahagia yang menikah dengan lelaki pilihan hatinya.
Tante Ajiku telah melunak, melihat kegigihan Essa mencari uang panai, yang rela merantau demi ponakannya ini.
Dari Tante Ajiku aku paham, uang panai bukan hanya sejumlah uang, tapi juga dilihat dari kerja keras si lelakinya.
Hujan dan yang dibawanya pergi
Hujan sore ini rasanya lebih mengiris. Aku tahu, aku tak lagi bisa menjadi perempuan yang disempurnakan kebahagian. Kepergian Essa dalam hujan, dalam banjir bandang yang menyapu Sumatera adalah duka yang akan terus basah.
Aku mungkin tak akan lagi menjadi kembang yang memekarkan dirinya seperti namaku, Kembang Mate’ne. Aku adalah kembang yang layu itu. Jika saja tak ribet, aku akan ganti nama menjadi Baine Duka.
Aku selalu ingin berkembang bersama Essa, tapi hingga Januari ini. Essa menghilang. Tak ada kabar, tak tanda keberadaannya.
Ibunya bahkan telah lama menutup pintu rumahnya untukku. Aku tak pernah bisa menghubunginya. Baginya, bukan banjir dan kayu gelondongan yang merampas anaknya di Sumatera–dalam rantaunya, tetapi aku, Kembang Mate’ne dan uang panai.
Tetiba saja aku ingin ke rumah Tante Ajiku sore ini, menerabas hujan yang menderas. Namun, aku akan mengasah pisau dapur terlebih dahulu sebelum ke rumahnya.
Kindang, 11 Januari 2026.








