Achmad Fauzi, Seniman dan Kurator yang Merajut Budaya Bugis-Makassar dalam Goresan Abstrak

oleh -156 kali dilihat
Achmad Fauzi, Seniman dan Kurator yang Merajut Budaya Bugis-Makassar dalam Goresan Abstrak
Seniman Achmad Fauzi - Foto: Ist

Klikhijau.com – Achmad Fauzi, seniman perupa Makassar yang dikenal memiliki dedikasi dalam menghidupkan filosofi budaya Bugis-Makassar lewat sapuan kuas abstrak-ekspresionisnya.

Ia merupakan sosok seniman perupa senior kelahiran Makassar yang dikenal luas melalui karya-karyanya. Filosofi budaya Bugis-Makassar adalah ciri khas dan menjadi inspirasi yang turut memperkaya makna lukisannya. Dengan pengalamanya dalam berkarya itu turut menandai jejak dalam perjalanan seni rupa Makassar.

Dedikasi pada Akar Budaya

Lahir di Makassar, 26 Mei 1970, Achmad Fauzi mulai secara serius menggeluti seni rupa sejak kuliah di Jurusan Seni Rupa IKIP Ujung Pandang (sekarang UNM). Karya-karyanya jadi jembatan antara tradisi Bugis-Makassar dan ekspresi kekinian dalam lanskap seni rupa.

Achmad Fauzi adalah seniman dan kurator yang aktif dalam gerakan seni rupa Makassar. Tema karya-karyanya berangkat dari tradisi lokal yang punya sejarah, menjadi denyut konsistensi dalam nadi berkeseniannya.

KLIK INI:  Pameran Tunggal "Morning View" Alan Tola: Refleksi Kontemplatif Jiwa dan Imaji Simbolik

Gaya yang Tak Sekadar Realis

Achmas Fauzi tak sekadar menggambar realis. Ia rutin merekam perjalanannya dari lokasi-lokasi tertentu di Sulawesi Selatan lewat goresan cat. Teranyar dengan memasukkan filosofi Sipakatau dan Ininnawa—simbol gotong royong dan ketangguhan masyarakat Bugis-Makassar.

Sebagai seniman perupa, ia punya cara merekam kisah perjalanannya, meski tanpa menampilkan objek-objek yang dilihatnya secara nyata. Kemampuan imajinasi dan ingatan visual digambarkan kembali tanpa terlihat diduplikasi.

Kiprah yang Tak Terbatas

Achmad Fauzi juga merupakan bagian dari gerakan seni rupa Makassar. Pameran dalam konsep ‘Empat Memandang Rupa’ dicetuskan pertama kali 1999. Termasuk Reli Rupa seri pertama di Find Art Space, sekretariat FindArt, dan aktif berkolaborasi dengan perupa lain. Gagasan terbaru dengan menghimpun 4 perupa lewat visualisasi belah ketupat dalam pameran 50 tahun Refleksi seni rupa Sulsel 2025.

Pameran tunggal dan kolaboratif di Makassar, Banyumas, Manado, hingga Balikpapan jadi bukti kontribusi Achmad Fauzi. Ia juga menginisiasi Leang-Leang Art Project, yang mengusung Leang-Leang sebagai titik nol seni rupa ke panggung nasional.

KLIK INI:  ‘Aisyiyah Ranting se Gondokusuman Yogyakarta Tingkatkan Keterampilan Pengurangan Plastik Sekali Pakai di Pasar 

Warisan Budaya dalam Kanvas

Karya Achmad Fauzi bukan sekadar estetika—tapi turut menjadi napas kebudayaan dengan pijakan spirit Leang-Leang. Ia patut disebut menjadi satu tokoh penting seni rupa Sulawesi Selatan yang membuktikan, tradisi dan budaya, bisa jadi denyut seni rupa yang berdampak.

Kiprah dan karya-karyanya tidak hanya menjadi ekosistem seni yang hidup, tapi turut membuka ruang dialog yang inklusif. Menuju percakapan abadi yang melintasi ruang dan waktu

Kolaborasi, Inovasi, dan Kiprah dalam Seni Rupa Makassar

Achmad Fauzi secara aktif berpameran dengan perupa lain melalui FindArt dan Makassar Art Initiative Movement (MAIM). Gagasan seperti Gagasan 4 Memandang Rupa jadi contoh bagaimana ia mengajak seniman lain mengeksplorasi estetika Bugis-Makassar.

Dengan kiprahnya, Achmad Fauzi bukan hanya mengabadikan budaya—tapi juga membuka jalan bagi generasi seniman Makassar untuk terus berkarya dengan identitas kuat yang berangkat dari akar tradisi dan Budaya Sulsel.

Membawa Pesan dalam Setiap Goresan

Melalui karya-karyanya, ia mengajak kita merenungkan nilai-nilai luhur Bugis-Makassar: kesederhanaan, keberanian, dan harmoni. Setiap sapuan kuasnya jadi cerita tentang identitas budaya yang tak lekang oleh waktu.

Karya seperti Alegori Sipakatau dan Alegori Ininnawa jadi simbol bagaimana seni bisa menjadi bahasa universal untuk menyampaikan pesan kemanusiaan. Dari sini Achmad Fauzi membuktikan, seni bukan hanya soal visual—tapi juga narasi kehidupan.

KLIK INI:  Puncak Tinambung: Kisah Kemanusiaan dan Gotong Royong di Jantung Gowa