Tidak Ada Senja di Hutan Camba

Sore itu Firman mampir di sebuah warung, perbatasan Bone-Maros setelah perjalanan yang cukup lama. Ia berangkat dari Bone kota, dari pukul dua siang. Harusnya sudah tiba di Makassar sebelum Magrib, ta...

Tidak Ada Senja di Hutan Camba
Bacakan Artikel
ilhamaidil@gmail.com

Artikel terbaru dari ilhamaidil@gmail.com (lihat semua)

Sore itu Firman mampir di sebuah warung, perbatasan Bone-Maros setelah perjalanan yang cukup lama. Ia berangkat dari Bone kota, dari pukul dua siang. Harusnya sudah tiba di Makassar sebelum Magrib, tapi siapa yang bisa menduga, motor yang dikendarainya, bannya kempis dan bocor halus, karena tidak ada bengkel yang dekat, ia mesti mendorong motornya sekitar satu kilometer jauhnya.

Firman sebenarnya menyukai kopi hanya karena asam lambungnya biasa naik ketika minum kopi, ia memutuskan berhenti minum kopi beberapa bulan ini. Dan itu ujian berat baginya. Ia hanya memesan Indomie telur dan air mineral.

Tadi malam ia dapat kabar dari dosen pembimbingnya untuk bertemu terkait skripsinya yang sudah berjalan tujuh puluh lima persen. Tinggal sedikit lagi. Kabarnya dosennya akan ke Australia mengambil short course selama enam bulan. Dan itu berarti ia mesti menunggu sampai dosennya kembali. Sedang waktu wisuda periode terakhir sisa sembilan puluh hari lagi. Mesti menunggu tahun berikutnya lagi.

Besar harapan ia mesti menyelesaikan kuliahnya tahun ini, ingin menyenangkan kedua orangtuanya, dan juga tahun ini tahun keenam dia di kampus, sudah hampir DO, tapi apa boleh buat, harapan itu pupus.

[irp]

Hujan yang turun seperti menambah gerimis di dadanya. Hijau daun sepertinya tidak memberi warna pada jiwanya yang berubah kecokelatan. Ia seperti disergap rasa cemas dan lelah. Terlihat dari raut wajahnya.

Saat menikmati mie yang sudah disajikan di depannya, Ia menerima pesan di HPnya dari Tenri, memintanya agar bertemu di Kafe Mizuta Makassar malam ini. Ada hal penting yang ingin dibicarakannya. Tapi tidak bisa lewat telepon. Ia berupaya menenangkan dirinya.

Sepanjang perjalanan lelaki itu jalan menurun dan menikung di Mallawa. Tapi di matanya jalan itu seperti lurus saja. Atau karena sudah terbiasa melaluinya. Berkilo-kilo dilewatinya seperti tidak ada hambatan. Mobil bermuatan berat yang ada di depannya bisa dilewatinya dengan mudah. Menyalip di sela jalan yang sempit. Menerobos jalan yang berlubang. Seperti sudah diperhitungkannya dengan baik.

Tidak ada pemandangan memukau selain hutan-hutan yang rimbun yang dilaluinya. Monyet-monyet yang masyarakat setempat menyebutnya dare biasa berdiri di pinggir jalan itu menunggu makanan dari orang yang lewat, tidak kelihatan.

Tidak ada senja, ini Camba. Jalannya membelah hutan, licin, dan banyak sisa bongkahan batu yang terpotong. Gelap datang lebih cepat karena mendung dan hujan. Untungnya jalan poros Kappang-Camba tidak tutup, karena perbaikan jalan, proyek negara yang sudah bertahun-tahun lamanya belum juga tuntas. Padahal sudah banyak pohon yang dikorbankan untuk pelebaran jalan itu.

[irp]

Semenjak proyek nasional itu dijalankan, alat-alat berat dan para pekerja diturunkan ke lapangan, hutan yang dilalui tidak lagi begitu mistis. Juga sudah ada beberapa warung kecil di pinggir jalan, yang setiap saat orang bisa mampir.

Hutan tetaplah hutan yang mesti dipelihara dan dijaga. Jika tidak, bisa menimbulkan bencana di kemudian hari. Longsor, banjir dan satwa-satwa akan kehilangan tempat tinggalnya.

Firman sepertinya menyimpan sesuatu yang belum bisa diungkapkannya sekarang tentang Tenri. Lelaki berambut gondrong itu seperti didesak rasa penasaran yang berlebihan. Harus menemui Tenri malam ini. Titik.

โ€œKita ketemu sebentar jam 8 di kafe Mizuta. Penting.โ€ Begitu isi chat Tenri ke Firman.

Entah kenapa kata-kata Tenri selalu menjadi kata perintah yang tidak bisa ditolak oleh Firman. Ia terlihat begitu payah dan selalu mengikuti kemauan Tenri.

Menyadari senja tidak akan ada di Camba, ia mempercepat laju kendaraannya yang sebentar lagi malam. Firman sebenarnya bukanlah lelaki senja ataupun gerimis. Ia orangnya datar-datar saja. Namun semenjak mengenal Tenri, ia belajar mengenal apa itu senja. Meskipun sampai sekarang ia tidak tahu apa maknanya.โ€‚Ia bukan orang yang puitis apalagi romantis. Apa karena ia dari jurusan Matematika murni. Bisa dibilang ia pendukung bumi datar, bukan bulat. Baginya keindahan hanyalah melihat wajah Tenri, bukan senja. Perempuan yang memiliki lesung pipi di pipi kanannya itu.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: