Mengapa Kelangkaan Kunang-Kunang Adalah Alarm Bahaya Bagi Kualitas Lingkungan Kita?

Klikhijau.com - Keluhan para warganet di berbagai media sosial mengenai makin sulitnya menemukan kunang-kunang di alam terbuka ternyata bukan sekadar romantisasi masa lalu atau nostalgia masa kecil ya...

Mengapa Kelangkaan Kunang-Kunang Adalah Alarm Bahaya Bagi Kualitas Lingkungan Kita?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Keluhan para warganet di berbagai media sosial mengenai makin sulitnya menemukan kunang-kunang di alam terbuka ternyata bukan sekadar romantisasi masa lalu atau nostalgia masa kecil yang melankolis.

Fenomena hilangnya kerlip cahaya indah di malam hari ini memiliki dasar ilmiah yang sangat kuat dan mencerminkan realitas pahit yang sedang terjadi pada alam kita. Ketika kita menyadari bahwa malam hari kini kian sepi dari kepakan sayap-sayap bercahaya tersebut, di saat itulah kita sebenarnya sedang menyaksikan sebuah ekosistem yang sedang sekarat.

Kunang-kunang, serangga kecil yang selalu berhasil memukau manusia dengan kemampuan bioluminesensinya, kini sedang berada di ambang kepunahan lokal di berbagai wilayah, memberikan sinyal nyata bahwa ada yang salah dengan cara kita mengelola bumi.

Menurut Prof. drh. Upik Kesumawati Hadi, seorang dosen sekaligus peneliti entomologi terkemuka dari Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, fenomena kelangkaan kunang-kunang ini bukan sekadar masalah estetika malam yang hilang. Beliau menegaskan bahwa serangga dari famili Lampyridae ini memegang peran krusial sebagai bioindikator dalam sains lingkungan.

Bioindikator sendiri merupakan organisme hidup yang keberadaan, perilaku, atau ketidakhadirannya di suatu wilayah dapat mencerminkan dengan sangat akurat bagaimana kesehatan dan kualitas ekosistem tersebut.

[irp]

Ketika suatu lingkungan masih bersih, seimbang, dan sehat, kunang-kunang akan berkembang biak dengan subur.

Sebaliknya, begitu kualitas lingkungan mulai memburuk akibat berbagai intervensi negatif manusia, populasi serangga eksotis ini akan langsung merespons dengan cepat melalui penyusutan jumlah, bahkan bisa menghilang sepenuhnya dari kawasan tersebut tanpa jejak.

Fenomena Global yang Mengancam Asia Tenggara

Ancaman terhadap kelestarian serangga malam ini ternyata tidak hanya terjadi di halaman belakang rumah kita atau terbatas di wilayah Indonesia saja, melainkan sudah menjadi sebuah krisis ekologi yang bersifat global. Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN), badan internasional yang mengawasi status konservasi spesies di dunia, sekitar 11 hingga 20 persen spesies kunang-kunang yang telah dievaluasi kini berada dalam kondisi yang sangat terancam.

Kondisi ini kian mengkhawatirkan bagi wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Beberapa spesies khas yang memiliki habitat spesifik di kawasan hutan mangrove (bakau) di negara-negara tersebut kini telah resmi dikategorikan ke dalam status rentan.

Fakta ini menunjukkan bahwa degradasi lingkungan telah mencapai tingkat yang masif dan sistemik, mengancam keanekaragaman hayati yang menjadi kebanggaan kawasan tropis.

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: