Klikhijau.com – Banyak tumbuhan yang seolah menumbuhkan dirinya sendiri. Tidak ada yang menanamnya. Namun, bisa tumbuh dengan subur. Pun pada tempat yang kadang tidak terduga.
Hal tersebut bisa saja disebabkan oleh burung. Burung adalah pekerja yang senyap. Mereka menyebarkan benih tumbuhan, mencegah serangga menyerbu tanaman, dan berperan penting dalam membantu tanaman tumbuh.
Tugasnya sungguh mulia. Mereka menyatukan ekosistem. Sayangnya, tugas mulia itu sering diabaikan. Bahkan, tidak diberi sempat oleh manusia untuk menunaikan tugasnya itu.
Karenanya, jangan heran jika kelak, burung bisa saja menganggur dari pekerjaannya dalam membantu menjaga kestabilan ekosistem.
Bagaimana bisa? Karena banyak wilayah kehilangan campuran perilaku burung. Pada merekalah yang dulu menjaga ekosistem agar tetap stabil.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature mengungkapkan bahwa ketika lanskap berubah, semakin sedikit spesies burung yang tersisa untuk menjalankan berbagai tugas ekologis yang dulu menjaga keseimbangan.
Dilansir dari Earth, para peneliti menemukan bahwa perubahan penggunaan lahan menghilangkan ekosistem penyangga ini dan membuat mereka lebih rentan terhadap hilangnya keanekaragaman hayati di masa mendatang.
Ketika lahan terganggu, sekelompok kecil spesies burung cenderung bertahan. Spesies-spesies ini seringkali menoleransi lingkungan yang bising, ramai, atau sangat berubah, tetapi mereka juga cenderung mengisi relung ekologi yang serupa.
Hal ini mengurangi keragaman fungsi secara keseluruhan. Tidak hanya itu, tetapi juga menyebabkan peran-peran kunci tidak terisi, yang dapat memicu serangkaian efek seperti berkurangnya regenerasi hutan, melemahnya penyimpanan karbon, dan meningkatnya frekuensi wabah hama tanaman.
Hal tersebut menjadi masalah serius karena banyak dari tugas sang burung bergantung pada lebih dari satu spesies agar tetap stabil.
Jumlah spesies berkurang
Studi ini menggunakan data hampir 3.700 spesies burung dari 1.200 lokasi di seluruh dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa modifikasi habitat seperti pertumbuhan perkotaan dan perluasan lahan pertanian mengurangi jumlah spesies yang berperan penting seperti penyerbuka , penyebaran biji, dan pemangsaan.
Ekosistem alami biasanya memiliki beberapa spesies yang menjalankan masing-masing tugas ini. Hal itu merupakan sebuah pengaturan yang dikenal sebagai redundansi fungsional. Ketika satu spesies menurun, spesies lain dapat menggantikannya. Hal ini bertindak sebagai asuransi bagi ekosistem.
Tim peneliti menggunakan simulasi kepunahan berbasis komputer untuk memahami apa yang terjadi ketika sistem cadangan ini menghilang.
Thomas Weeks adalah mahasiswa Ph.D. di Departemen Ilmu Hayati di Imperial College London dan penulis utama laporan tersebut mengatakan, penurunan keanekaragaman burung setelah perubahan penggunaan lahan sudah diketahui secara luas, tetapi hingga saat ini, secara umum diperkirakan bahwa cukup banyak jenis burung yang bertahan hidup sehingga ekosistem yang terdegradasi tersebut dapat terus berfungsi sebagaimana mestinya.
“Analisis kami menantang gagasan tersebut dengan menunjukkan bahwa manusia memodifikasi lanskap dengan cara yang cenderung menghilangkan semua kelonggaran dalam sistem, yang berarti bahwa guncangan lingkungan apa pun di masa mendatang berpotensi menyebabkan runtuhnya layanan penting yang disediakan oleh satwa liar,” kata Weeks
Penulis lainnya, Profesor David Edwards mengatakan bahwa beragam spesies burung memainkan peran kunci dalam mendukung ekosistem yang kita andalkan, namun kita justru merusak kualitas habitat dan potensi spesies untuk menjalankan peran pentingnya.
“Sudah saatnya kita melakukan lebih banyak upaya untuk melindungi masa depan keanekaragaman hayati,” ujarnya.
Studi ini juga menyoroti isu sensitif. Sekalipun jumlah total spesies tetap cukup tinggi, hilangnya redundansi fungsional membuat ekosistem menjadi rapuh.
Pola ini muncul di hutan tropis, padang rumput, dan bahkan wilayah kutub. Ketika banyak spesies tidak lagi berbagi tugas utama, satu guncangan tak terduga dapat memicu keruntuhan yang cepat.
Tim ini memanfaatkan informasi detail tentang setiap spesies burung. Mereka meneliti pola makan, ukuran tubuh, bentuk paruh, dan bentuk sayap untuk memahami bagaimana setiap spesies berkontribusi terhadap fungsi ekologis.
Desain penelitian ini memungkinkan para peneliti untuk menyelidiki peran mana yang hilang terlebih dahulu ketika terjadi pergeseran penggunaan lahan.
Mereka menemukan bahwa habitat yang berubah menjadi lebih sederhana, didominasi oleh burung-burung yang menempati relung serupa. Setelah ini terjadi, ekosistem kehilangan kedalaman dan fleksibilitasnya.
“Dengan semakin cepatnya perubahan tata guna lahan di seluruh dunia, studi kami menyoroti urgensi pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman hayati untuk memastikan ekosistem di masa depan terus berfungsi dengan cara yang mendukung kehidupan manusia dan stabilitas ekonomi,” pungkas Profesor Joseph Tobias, seorang ahli di bidang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem.
.







