Alarm Gulung Tikar Bank Sampah di Makassar, Fase Titik Jenuh Melanda

Klikhijau.com โ€“ Bank Sampah sejatinya dibangun untuk mengatasi sengkarut sampah dari sumber asal yakni dari rumah tangga. Niat baik menyelesaikan permasalahan sampah dengan skema tabung sampah ternyat...

Alarm Gulung Tikar Bank Sampah di Makassar, Fase Titik Jenuh Melanda
Bacakan Artikel

Klikhijau.com โ€“ Bank Sampah sejatinya dibangun untuk mengatasi sengkarut sampah dari sumber asal yakni dari rumah tangga. Niat baik menyelesaikan permasalahan sampah dengan skema tabung sampah ternyata tidak cukup. Praktiknya di lapangan, ada kompleksitas masalah menyertai. Dinamis, penuh lika-liku.

Di Kota Makassar, eksistensi Bank Sampah juga mengalami pasang surut. Ada masa, bank sampah begitu bergeliat di kota ini. Cerita kesuksesan bank sampah di Makassar bahkan tersebar ke kota-kota lain. Banyak yang ingin datang belajar. Tujuannya tentu mengadopsi praktik baik ini di tempat lain. Sekali lagi, kerja-kerja bank sampah tidak sesederhana pijakan teori di atas kertas. Sebab, andai saja, sistem bank sampah berjalan baik, katakanlah terorganisasi dengan baik serta menarik keterlibatan warga, urusan persampahan pastilah sudah selesai.

Dua atau tiga tahun terakhir ini, kelesuan bank sampah di Makassar memang sangat tampak. Puluhan bank sampah gulung tikar. Sebagian besar lagi, mati suri. Klikhijau mencoba melihat kondisi ril di lapangan dengan mendatangi sejumlah bank sampah. Menanyakan situasi terkini dan perkembangan siklus ekonomi sirkular persampahan yang jadi misi utama dari keberadaan bank sampah.

Sejumlah fakta terungkap. Secara umum, dapat dilihat dari sistem dan manajemen bank sampah yang memang belum terbangun baik. Sebagai suatu sistem, bank sampah sejatinya melibatkan warga (Tim/warga). Ada pembagian peran dan tanggungjawab. Jika sistem dan organisasi ini berjalan lancar, ada jaminan keberlanjutan. Ada data, ada kontribusi dan juga mendorong keterlibatan multiplier efek.

[irp]

Manajemen Tukang Sate

Di sebagian besar bank sampah, rupanya ditukangi oleh pemerang tunggal alias manajemen tukang sate. Direktur bank sampah, katakanlah demikian. Pemeran utama yang mengerjakan segala rupa, mulai dari penimbangan, pemilahan, pencatatan, penjualan dan seterusnya. Ia juga bertugas dalam menjaga antusias nasabah. Mengedukasi warga agar berminat menabung sampahnya. Paling penting adalah bagaimana bank sampah punya siklus barang masuk dan keluar yang stabil dan berkelanjutan.

Harus diakui, faktor inilah yang menjadi variabel pertama menurunnya kinerja suatu bank sampah. Bayangkan saja, di tengah besarnya tanggungjawab yang diemban oleh pegiat bank sampah, mereka juga harus mengerjakan tanggungjawab lainnya di keseharian. Tugas-tugas sebagai ibu rumah tangga misalnya atau tuntutan pekerjaan lain.

Situasi ini dirasakan oleh Farah Indan Sulastri (51), pegiat bank Sampah Somidah di Sudiang. Kerja-kerja mengelola sampah yang dilakukan memang murni karena intensi berkontribusi mengelola sampah di masyarakat. Namun, Farah juga tidak menampik ketika ditanya perihal keterlibatan dan dukungan pihak lain dalam organisasi bank sampah yang diinisiasinya.

Untungnya, Farah tidak pernah mati akal. Niatnya berkontribusi untuk lingkungan tidak membuatnya patah arang, ia terus bergerak meski tantangan tidaklah ringan. Lihat saja, nasabah Bank Sampah Somidah yang aktif saat ini sekira 70-an orang. Mayoritas dari nasabah aktif justru berasal dari luar wilayahnya bahkan sebagian datang dari Kabupaten Maros. Farah menyadari betul, betapa sulitnya mengajak waga terlibat aktif menabung sampah.

โ€œUmumnya yang aktif menabung hanya warga yang telah mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan sampah. Tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat terhadap sampah, bukan pada teknis pengelolaan,โ€ katanya.

[irp]

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: