Neofeodelisme Hijau, Mengapa Pemimpin Inovasi Digital-Miliarder Global Kembali Bertani?

Klikhijau.com - Mengapa pemimpin inovasi digital yang juga tercatat sebagai miliarder global kembali bertani?, hobi baru atau ambisi besar menguasai isi piring kita, sementara itu seringkali kita me...

Neofeodelisme Hijau, Mengapa Pemimpin Inovasi Digital-Miliarder Global Kembali Bertani?
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Mengapa pemimpin inovasi digital yang juga tercatat sebagai miliarder global kembali bertani?, hobi baru atau ambisi besar menguasai isi piring kita, sementara itu seringkali kita membaca narasi sektor pertanian kurang diminati, dengan berbagai dalih.

Dunia sedang menyaksikan sebuah anomali yang menggelitik, para titan teknologi yang dulu menghabiskan waktu di laboratorium kode dan sirkuit silikon, kini justru sibuk berinvestasi pada kotoran ternak dan bajak sawah.

Sebut saja Bill Gates, Jeff Bezos, hingga Mark Zuckerberg. Mereka, yang kekayaannya dibangun di atas awan (cloud) digital, tiba-tiba menapakkan kaki kembali ke bumi dalam arti yang sangat harfiah.

Fenomena ini bukan sekadar hobi akhir pekan bagi para pesohor, melainkan sebuah pergeseran geopolitik dan ekonomi yang sangat masif. Laporan dari The Land Report sempat mengejutkan publik ketika mengungkapkan bahwa Bill Gates telah menjadi pemilik lahan pertanian swasta terbesar di Amerika Serikat, menguasai lebih dari 269.000 hektar tanah di puluhan negara bagian.

Gaya hidup  ini dilihat sebagai filantropi hijau, namun kacamata kritis melihatnya sebagai langkah penguasaan aset paling vital dalam sejarah manusia, sumber pangan. Secara historis, tanah adalah aset yang tidak bisa diproduksi ulang.

Ketika inflasi menghantam dan pasar saham bergejolak, tanah tetap diam di sana, memberikan hasil yang stabil dan nilai yang terus naik. Bagi para miliarder ini, tanah pertanian adalah emas baru yang jauh lebih nyata daripada kripto atau saham perusahaan rintisan yang spekulatif.

[irp]

Di tengah ketidakpastian iklim dan pertumbuhan populasi yang diprediksi mencapai 10 miliar pada 2050, siapa pun yang memiliki kontrol atas produksi kalori akan menjadi pemegang otoritas global yang sesungguhnya.

Analisis mendalam terhadap tren ini menunjukkan adanya integrasi teknologi tingkat tinggi ke dalam lumpur sawah, atau yang sering disebut dengan Precision Agriculture. Namun, di balik narasi menyelamatkan dunia dari kelaparan, terdapat kekhawatiran mengenai konsentrasi kekuasaan.

Mengutip dari International Panel of Experts on Sustainable Food Systems (IPES-Food), akuisisi lahan skala besar oleh elit korporasi sering kali berujung pada marjinalisasi petani kecil. Ketika harga lahan melonjak karena permintaan dari para miliarder, petani lokal kehilangan kemampuan untuk membeli atau menyewa tanah di tanah kelahiran mereka sendiri.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2

Apa tanggapan anda mengenai berita ini

like 0
Like
dislike 0
Dislike
love 0
Love
funny 0
Funny
angry 0
Angry
sad 0
Sad
wow 0
Wow