Neofeodelisme Hijau, Mengapa Pemimpin Inovasi Digital-Miliarder Global Kembali Bertani?

Klikhijau.com - Mengapa pemimpin inovasi digital yang juga tercatat sebagai miliarder global kembali bertani?, hobi baru atau ambisi besar menguasai isi piring kita, sementara itu seringkali kita me...

Neofeodelisme Hijau, Mengapa Pemimpin Inovasi Digital-Miliarder Global Kembali Bertani?
Bacakan Artikel

Lebih jauh lagi, kita harus melihat bagaimana Mark Zuckerberg, misalnya, yang menginvestasikan jutaan dolar untuk peternakan sapi wagyu di Kauai, Hawaii, dengan pakan yang menggunakan kacang macadamia dan bir yang diproduksi di lahannya sendiri.

Secara permukaan, ini tampak seperti eksperimen pertanian mewah. Namun, jika dilihat lebih dalam, ini adalah bentuk swasembada elit yang eksklusif. Di sisi lain, Jeff Bezos melalui Bezos Earth Fund menyuntikkan dana besar untuk pengembangan daging nabati dan restorasi lahan.

Pertanian tanpa Petani adalah Mimpi Buruk

Pertanyaan lainnya adalah, apakah solusi yang ditawarkan oleh para miliarder ini bersifat demokratis? Ataukah mereka sedang membangun benteng pangan pribadi sembari menerapkan model pertanian industri yang sebenarnya merupakan penyumbang emisi karbon terbesar?

Kritik tajam sering kali datang dari aktivis agraria seperti Vandana Shiva, yang dalam berbagai esainya menekankan bahwa Pertanian tanpa Petani adalah mimpi buruk ekologis.

Model yang dibawa oleh para miliarder ini cenderung bersifat padat modal dan otomatisasi. Penggunaan drone, sensor tanah, dan traktor otonom mungkin efisien secara statistik, tetapi ia menghapus aspek sosial-budaya dari pertanian itu sendiri.

Pertanian tradisional bukan hanya soal memproduksi komoditas, melainkan menjaga keseimbangan ekosistem dan ikatan komunitas. Ketika tanah dikelola sebagai portofolio investasi murni oleh pemilik yang bahkan mungkin tidak pernah menginjakkan kaki di sana, hubungan emosional dan tanggung jawab ekologis terhadap tanah tersebut berisiko memudar.

Dampak ekonomi dari fenomena miliarder bertaniini juga akan sangat terasa pada rantai pasok global. Ketika aset tanah terkonsentrasi di tangan sedikit orang, kontrol atas harga pangan menjadi sangat rentan terhadap keputusan satu atau dua individu.

Bayangkan sebuah dunia di mana akses kita terhadap gandum atau jagung bergantung pada kebijakan operasional perusahaan milik satu orang terkaya di dunia. Ini bukan lagi soal pasar bebas, melainkan neofeodalisme digital yang berbalut kerah hijau.

Food and Agriculture Organization (FAO) terus mengingatkan pentingnya keragaman kepemilikan lahan untuk menjamin resiliensi pangan. Diversitas (keberagaman) bukan hanya soal jenis tanaman, tapi juga soal siapa yang mengelola tanah tersebut.

Namun, tidak adil jika kita tidak melihat sisi argumen dari para inovator ini. Mereka berargumen bahwa pertanian tradisional terlalu lambat untuk beradaptasi dengan perubahan iklim yang ekstrem. Mereka membawa modal besar yang diperlukan untuk penelitian benih yang tahan kekeringan dan sistem irigasi yang sangat hemat air.

Misalnya, Bill Gates melalui yayasannya menekankan pentingnya produktivitas lahan di Afrika dan Asia untuk mencegah kelaparan massal. Masalahnya, solusi yang ditawarkan sering kali bersifat top-down dan sangat bergantung pada input kimia atau paten benih yang dimiliki oleh perusahaan besar. Ini menciptakan ketergantungan baru bagi petani di negara berkembang terhadap teknologi yang dimiliki oleh para miliarder tersebut.

Kembalinya para miliarder global ke sektor pertanian adalah sebuah paradoks modern. Di satu sisi, investasi mereka membawa angin segar bagi inovasi teknologi pertanian yang selama ini mungkin kekurangan dana. Namun di sisi lain, konsentrasi lahan yang luar biasa luas di tangan segelintir orang mengancam hak-hak dasar petani kecil dan merusak tatanan kedaulatan pangan rakyat.

Kita perlu menelaahnya lebih dalam, apakah kita sedang menuju masa depan di mana pangan menjadi lebih murah dan tersedia bagi semua, ataukah kita sedang menyaksikan babak baru di mana perut manusia menjadi sandera dari akumulasi kekayaan yang tak terbatas?. Pangan adalah hak asasi, dan tanah adalah warisan bersama umat manusia.

Ketika ia berubah menjadi sekadar deretan angka di aplikasi investasi seorang miliarder, maka di situlah kita harus mulai merasa cemas. Semua hal ini mengingatkan kita bahwa meskipun teknologi melesat ke luar angkasa, kehidupan kita tetap bermula dan berakhir dari apa yang tumbuh di atas tanah.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2