Lulur Pengantin Kaili, Cara Nelam Bangkitkan Ketan Hitam Sigi Tanpa Sampah

Lulur Pengantin Kaili, Cara Nelam Bangkitkan Ketan Hitam Sigi Tanpa Sampah
Lulur Pengantin Kaili, Cara Nelam Bangkitkan Ketan Hitam Sigi Tanpa Sampah. - Foto: Pexels
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Ancaman hilangnya pasar bagi tanaman pangan lokal perlahan membayangi para petani ketan hitam di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Ketidakpastian permintaan membuat minat menanam komoditas ini terus merosot. Padahal bagi masyarakat suku Kaili, ketan hitam bukan hanya bahan pangan, tapi bagian penting dalam badabida, lulur tradisional yang biasa digunakan untuk merawat tubuh calon pengantin perempuan.

Di tengah ancaman punahnya tradisi dan pasar komoditas lokal tersebut, Nelam Ayu Kusuma hadir memberi jawaban. Melalui usaha perawatan tubuh berbahan alami bernama Nelamayu Tradisional yang dirintisnya sejak 2018, Nelam menciptakan permintaan baru bagi hasil panen ketan hitam dari petani di wilayah Dolo Barat, Sigi.

Nelam mengolah ketan hitam menjadi body scrub modern tanpa meninggalkan akar budayanya. Kehadiran pembeli lokal seperti Nelam memberikan kepastian bagi petani bahwa hasil jerih payah mereka masih memiliki pasar yang menghidupi.

"Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili," kata Nelam.

Inspirasi usaha Nelam tidak hanya berhenti pada badabida. Ia juga memproduksi bada kumba, racikan bedak dingin yang pengetahuannya diwariskan oleh sang nenek.

Pada masa pendudukan Jepang, nenek Nelam dikenal sebagai perawat herbal kampung yang meracik obat-obatan alami dari beras, daun basakaling atau kodombuku, kunyit kayu, kencur, dan rempah-rempah saat akses obat-obatan modern sangat terbatas.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2