Menepis Stigma Kerja Tradisional, Anak Muda Dorong Potensi Bisnis Pangan Organik

Menepis Stigma Kerja Tradisional, Anak Muda Dorong Potensi Bisnis Pangan Organik
Menepis Stigma Kerja Tradisional, Anak Muda Dorong Potensi Bisnis Pangan Organik. - Foto: Ist
Bacakan Artikel
Reihan Zainal

Mahasiswa Magang dari Prodi Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Klikhijau.com - Akses pasar dan kerumitan sertifikasi legalitas masih menjadi tembok besar bagi para petani pangan organik di Indonesia. Padahal, permintaan akan komoditas ramah lingkungan dan sehat terus meningkat seiring tingginya kesadaran masyarakat terhadap kualitas pangan.

Sektor pertanian organik kini tidak lagi bisa dipandang sebatas kegiatan bercocok tanam tradisional. Lebih dari itu, sektor ini membutuhkan pendekatan ekosistem bisnis modern, mulai dari kepemimpinan, kepastian sertifikasi, hingga strategi pemasaran yang adaptif.

Pendiri startup pertanian TANIO, Muh. Hilmi Ikhsan Sabur, mengungkapkan bahwa hambatan utama petani organik saat ini terletak pada pemenuhan standar sertifikasi resmi dan keterbatasan akses untuk menembus pasar modern. Tanpa legalitas yang jelas, hasil panen organik sulit mendapatkan nilai tambah di mata konsumen.

"Akses pasar dan perizinan atau sertifikasi menjadi hambatan utama petani dalam menjual hasil panen, terutama di segmen organik yang menuntut standar dan legalitas jelas," kata Hilmi dalam diskusi webinar pertanian organik yang digelar KlikHijau, Kamis (10/9/2026).

Untuk menjembatani celah tersebut, TANIO hadir memberikan pendampingan pengurusan izin, perbaikan kemasan, hingga jalur distribusi. Hilmi mencontohkan, produk beras organik yang dipasarkan TANIO kini dikemas dengan mengusung narasi kesehatan, salah satunya sebagai komoditas aman bagi penderita diabetes. Pendekatan narasi dan segmentasi pasar ini terbukti mampu memperluas daya serap produk di tingkat konsumen.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan