Menepis Stigma Kerja Tradisional, Anak Muda Dorong Potensi Bisnis Pangan Organik

Menepis Stigma Kerja Tradisional, Anak Muda Dorong Potensi Bisnis Pangan Organik
Menepis Stigma Kerja Tradisional, Anak Muda Dorong Potensi Bisnis Pangan Organik. - Foto: Ist
Bacakan Artikel
Reihan Zainal

Mahasiswa Magang dari Prodi Hubungan Internasional Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Di sisi lain, potensi besar sektor pertanian kerap terbentur oleh minimnya minat generasi muda akibat stigma pekerjaan kelas dua. Praktisi pertanian asal Kalimantan Timur, Fatoni Saputra, menilai anak muda sering memandang sektor ini dengan sebelah mata karena belum melihat alur bisnis yang menjanjikan secara finansial.

"Minat anak muda terhadap pertanian akan meningkat apabila sektor ini dikaitkan dengan peluang bisnis yang menjanjikan, bukan hanya sekadar kegiatan fisik," ujar Fatoni yang juga Founder Sekolah Tani Indonesia.

Menurut Fatoni, keterlibatan anak muda membawa energi baru berupa inovasi teknologi dan model bisnis modern. Integrasi antara regenerasi petani dan pengelolaan bisnis yang matang menjadi kunci utama mengubah citra pertanian dari sektor tradisional yang terbelakang menjadi bisnis masa depan yang kompetitif.

Direktur KlikHijau menegaskan, pertanian organik merupakan fondasi penting bagi keberlangsungan ekosistem dan masa depan ketahanan pangan nasional. Pendekatan organik terbukti mampu menjaga kualitas tanah, mengurangi ketergantungan pada pupuk maupun pestisida kimia, sekaligus membuka peluang usaha yang berkelanjutan.

Transformasi pertanian nasional kini memerlukan sinergi pada empat lini utama: pengembangan model bisnis yang menghubungkan petani ke pasar modern, penguatan peran kepemimpinan perempuan di perdesaan, strategi komunikasi publik yang efektif, serta kepastian regenerasi petani muda.

 

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan