Menyingkap Rahasia Kimia di Balik Ancaman Abu Vulkanik

Menyingkap Rahasia Kimia di Balik Ancaman Abu Vulkanik
Rahasia Kimia di Balik Ancaman Abu Vulkanik. - Foto: alodookter.com
Bacakan Artikel
Selvi Ayu Lestari

Insinyur muda di bidang Teknik Kimia juga lulusan Magister Rekayasa Infrastruktur Lingkungan yang saat ini fokus bekerja menjaga kualitas ore sebagai QAQC Analyst Foreman

Selvi Ayu Lestari

Artikel terbaru dari Selvi Ayu Lestari (lihat semua)

Belum ada artikel terbaru lain dari penulis ini.

Klikhijau.com - Negara ini berada di jalur sabuk api pasifik (Ring of Fire). Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM mencatat ada 127 gunung api di tanah air, menyumbang sekitar 13% dari total gunung api dunia. Sebanyak 69 di antaranya merupakan gunung api aktif yang dipantau ketat melalui sistem MAGMA Indonesia.

Salah satu yang kerap mencuri perhatian adalah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Lahir dari kaldera induknya yang dahsyat pada 1883, Anak Krakatau mengingatkan kita akan satu ancaman nyata saat erupsi terjadi, abu vulkanik.

Hal ini meninggalkan dampak yang sangat merugikan bagi masyarakat sekitar baik dari segi ekonomi maupun lingkungannya. Adapula dampak yang dirasakan sebagian masyarakat yang sedang hangat dibahas pada saat ini adalah Abu Vulkanik yang muncul akibat erupsi gunung api Anak Krakatau.

Indonesia kaya akan gunung api yang tersebar di sepanjang jalur sabuk api pasifik (Ring of Fire). Dilihat dari data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementrian ESDM, gunung api di Indonesia terbagi menjadi tiga tipe utama, yaitu tipe A, B dan C dengan total 127 gunung api dimana jumlah tersebut sekitar 13% jumlah gunung api di dunia. 

Sebanyak 69 gunung api aktif dipantau secara intensif melalui sistem MAGMA Indonesia yang terbagi menjadi 4 level, yaitu normal, waspada, siaga dan awas. Fokus utama saat ini adalah gunung api Anak Krakatau yang berada di perairan selat sunda, terletak antara Pulau Sumatra dan Pulau Jawa dimana wilayahnya masuk ke dalam Provinsi Lampung secara administratif. 

Gunung api Anak Krakatau lahir dari kaldera letusan gunung induknya yang dahsyat dan memicu perubahan iklim global akibat abunya yang menutupi atmosfer bumi. Selain itu, letusan ini menghancurkan sebagian besar tubuh gunung dan menewaskan puluhan ribu jiwa.

Bukan Abu Biasa

Proses fragmentasi magma yang sangat hebat saat terjadi letusan gunung api menciptakan abu vulkanik. Secara kimia, abu vulkanik terbentuk akibat kristalisasi mendadak (quenching) lelehan silikat yang hancur akibat ekspansi gas dengan tekanan yang tinggi. 

Abu vulkanik terdiri dari partikel-partikel kecil yang tersusun dari berbagai proporsi kaca vulkanik, mineral atau kristal dan fragmen batuan lainnya. Pecahan kaca vulkanik merupakan fragmen dari magma cair yang mendingin dan mengeras selama erupsi tanpa kristalisasi mineral dan merupakan sisa-sisa gelembung gas kecil yang terbentuk serta membesar selama kenaikan akhir magma menuju permukaan. Semakin bersudut pecahan kaca maka semakin abrasif abunya.

Magma yang naik akan menggabungkan potongan-potongan berbagai jenis batuan yang dilaluinya seringkali merobek fragmen dan dinding saluran magma yang kemudian terlempar serta terfragmentasi oleh ekspansi eksplosif gas vulkanik. 

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2
Editor

Arman Jaya

Bergiat di isu-isu ekososial, pesisir dan pedesaan