Api yang Bersembunyi di Kedalaman Tanah

Api yang Bersembunyi di Kedalaman Tanah
Api yang Bersembunyi di Kedalaman Tanah. - Foto: Ishak Andi Kunna
Bacakan Artikel
Ishak Andi Kunna

Birokrat dan praktisi lapangan di bawah kementerian kehutanan, menjabat sebagai Kepala Manggala Agni Daops Sulawesi I

Klikhijau.com - Pada pukul dua lewat tujuh belas menit, pompa air masih bekerja. Suaranya berat dan berulang, seperti seekor binatang tua yang dipaksa terus bernapas. Tidak ada nyala api di sekelilingnya. Hanya asap putih yang keluar dari beberapa lubang kecil knalpot, melayang sebentar, lalu lenyap ke dalam gelap.

Tanah gambut mempunyai cara tersendiri untuk menyimpan sesuatu. Ia menyimpan air, karbon, juga menyimpan sisa tumbuhan sebagai biomassa. Tanah gambutpun menyimpan rekaman perjalanan waktu selama ratusan hingga ribuan tahun. Ketika mengering dan terbakar, ia akan menyimpan api dalam rentang waktu yang lama. Bara masuk ke dalam lapisannya, berjalan pelan mengikuti akar dan rongga tanah. Ia bergerak diam-diam tanpa perlu memperlihatkan dirinya kepada manusia.

Berbeda dengan saudaranya. Api di lahan mineral lebih mudah dipahami. Ia membakar rumput, semak belukar, serasah, ranting, dan kayu yang tampak permukaan. Lidah apinya terlihat, suara letupannya terdengar laksana tulang remuk. Tiupan angin menuntun langkah api, melaju cepat di padang savana dan cenderung melambat di kemiringan lereng. Meskipun berbahaya dengan kecepatannya, tetapi setidaknya ia tidak menyembunyikan wajahnya. Ia tidak berpura-pura.

Saya sering berhadapan dengannya. Api memiliki watak dan perilakunya sendiri. Kadang jadi kawan kadang jadi lawan. Tapi lebih sering kami berkawan dibanding bermusuhan. Itu juga berlaku bagi yang lain. Saya belum menemukan manuskrip tentang manusia yang tidak menggunakan api didalam keseharian. 

Seiring pengalaman bersamanya, di beberapa moment kami harus saling berlawanan, tepatmya medan hutan dan lahan. Pertemuan itu untuk saling meredam letupan amarah. Pikirku, ia butuh cairan bukan material bubukan apalagi padatan. Air mendinginkannya sedangkan bubukan secara perlahan menjadi amunisi tambahan untuk ia terus menyala. Tapi bukan berarti bubukan ini tidak diperlukan. Jika api masih kecil bubukan dapat menjadi alternatif untuk memutus lajunya. Sementara kami, dalam situasi itu, sangat butuh keduanya cairan dan padatan agar energi dan mental tetap terjaga. Itu hukumnya wajib.

Pada situasi kebakaran di lahan mineral, petugas memadamkan api yang sebagian besar bergerak di atas permukaan. Mata dapat mengenali kepala, sisi, dan ekor api. Pemadaman menjadi upaya mengejar sesuatu yang terlihat, kemudian memutus jalannya. Sedangkan, di lahan gambut, tanah bukan hanya tempat api berpijak. Tanah itu sendiri menjadi bahan bakar.

Santoso dan rekan-rekannya menyajikannya dalam artikel yang berjudul Laboratory study on the suppression of smouldering peat wildfires: Effects of flow rate and wetting agent. Mereka membedakan pembakaran menyala atau flaming combustion dengan pembakaran membara atau smouldering combustion. Pembakaran menyala bergerak cepat, bersuhu tinggi, dan mudah diamati. Sementara, pembakaran membara berjalan lebih lambat dan tidak selalu menghasilkan nyala, tetapi dapat bertahan dalam waktu yang panjang. Dapat disederhanakan bahwa pembakaran menyala terjadi di lahan mineral sedangkan pembakaran membara terjadi di tanah gambut. 

Penelitian tersebut dilakukan di laboratorium. Mereka menghasilkan kesimpulan bahwa pembakaran menyala dapat merambat sekitar 600 cm/jam dengan suhu mendekati 1.200°C. Pembakaran membara pada gambut bergerak sekitar 6 cm/jam dengan suhu sekitar 500°C. Di fase ini 6 centimeter per jam di lahan gambut terdengar seperti pergerakan lambat yang tidak berarti. Namun, perjalanan bara itu akan membakar akar pohon, menghasilkan kepulan asap, dan membuat sesak se-isi kota.

Untuk memadamkan gambut, petugas harus menemukan sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh tanah. Asap dari permukaan tidak selalu menunjukkan letak kumpulan bara. Asap dapat bergerak melalui pori-pori dan keluar beberapa meter dari sumber panasnya. Karena itu, penyemprotan hanya pada titik yang berasap belum sepenuhnya sempurna. Mungkin, permukaan terlihat basah, tetapi pembakaran tetap aktif di bawahnya.

Pemeriksaan dapat dilakukan dengan membaca asap, mengukur atau merasakan suhu secara aman, serta menusukkan pipa besi penduga ke dalam tanah. Atau bisa juga dengan membongkar gambut untuk menemukan akar dan lapisan organik yang masih membara. Bagian yang terbakar dicacah, dipukul-pukul, disiram, dibalik, lalu diaduk hingga berlumpur dengan tujuan seluruh panas dilepaskan.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2