Merajut Jembatan Aksi Iklim, Toraja Belajar Ketahanan Komunitas dari Desa ProKlim Bulukumba

Merajut Jembatan Aksi Iklim, Toraja Belajar Ketahanan Komunitas dari Desa ProKlim Bulukumba
Merajut Jembatan Aksi Iklim, Toraja Belajar Ketahanan Komunitas dari Desa ProKlim Bulukumba. - Foto: Ist
Bacakan Artikel

Klikhijau.com - Di tengah lanskap pesisir Bulukumba yang menghadap Samudra Hindia, sebuah narasi ketahanan iklim berbasis komunitas tengah dirajut. Bukan dari seminar mewah atau deklarasi tingkat tinggi, melainkan dari tanah yang diolah, dari pupuk organik yang diracik tangan, dan dari semangat gotong royong warga Desa Salassae.

Kisah inilah yang membawa rombongan Yayasan Motivator Pengembangan Masyarakat (MPM) Tanah Toraja, Sulawesi Selatan, dalam sebuah kunjungan belajar yang sarat makna. Mereka datang untuk menggali langsung praktik Program Kampung Iklim (ProKlim) yang telah mengukir Salassae sebagai mercusuar adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak.

Kunjungan ini merupakan bagian dari refleksi tahunan Yayasan MPM, organisasi yang telah berdiri sejak 1983 dan gigih mendampingi komunitas adat di Tanah Toraja, Luwu Timur, hingga Sulawesi Barat.

Fokus utama mereka saat ini adalah memperkuat kelompok masyarakat di Lembang-lembang (desa adat) Toraja dalam menghadapi tantangan iklim. Karena itulah, Desa Salassae menjadi tujuan krusial.

Salassae, melalui Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS), berhasil meraih Trophy ProKlim Utama pada 2017 dan predikat ProKlim Lestari pada 2019 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Predikat Lestari ini menandakan keberlanjutan dan kemandirian desa dalam menjalankan aksi iklim secara konsisten.

Armin Salassa, Ketua Kemitraan Agroekologi sekaligus pendiri dan pembina KSPS, menjadi narasumber utama yang hangat dalam sesi belajar ini. Dengan gaya bertutur yang membumi, ia memaparkan perjalanan panjang KSPS.

Bermula dari kesadaran akan degradasi lingkungan dan tantangan pertanian, warga Salassae memilih jalan mandiri. Mereka tidak menunggu bantuan datang, melainkan bergerak menciptakan solusi dari dalam komunitas.

"ProKlim bagi kami bukan sekadar label, melainkan cara hidup. Kami belajar dari alam, untuk alam," ujar Armin, suaranya dipenuhi keyakinan. Ia menjelaskan bagaimana sejak awal, KSPS mendorong petani beralih ke praktik pertanian organik, mengelola sampah, menanam pohon, hingga mengembangkan sumber energi terbarukan sederhana.

Puncak dari sesi belajar tersebut adalah demonstrasi pembuatan nutrisi pertanian alami. Abdul Wahid, salah seorang petani anggota KSPS, dengan cekatan memperagakan proses meracik pupuk cair dan pestisida nabati yang mereka gunakan sehari-hari.

Ia menunjukkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar desa, seperti sisa tanaman, air cucian beras, hingga kotoran ternak, yang diolah menjadi ramuan ampuh penyubur tanah dan pengendali hama.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2