Sekolah Adat sebagai Gerakan Pelestarian Sistem Pendidikan Adat

Artikel ini adalah bagian kedua dari tulisan sebelumnya berjudul “Menaruh Asa Tinggi Pada Pemuda Adat Dalam Memberdayakan Daerahnya”. Klikhijau.com - Selain untuk ketahanan pangan, Gerakan Pulang K...

Sekolah Adat sebagai Gerakan Pelestarian Sistem Pendidikan Adat
Bacakan Artikel

Artikel ini adalah bagian kedua dari tulisan sebelumnya berjudul “Menaruh Asa Tinggi Pada Pemuda Adat Dalam Memberdayakan Daerahnya”.

Klikhijau.com - Selain untuk ketahanan pangan, Gerakan Pulang Kampung juga untuk melestarikan budaya setempat. Misalnya melalui sanggar-sanggar seni, transfer pengetahuan, dan membangun Sekolah Adat. Saat ini telah terbentuk 90 Sekolah Adat di berbagai Komunitas Masyarakat Adat.

Sekolah-sekolah ini digagas oleh pemuda adat dengan didukung para tetua di komunitas. “Awalnya, hampir semua Sekolah Adat ini digagas, dibentuk dan dijalankan oleh pemuda adat. Tentunya dengan restu dan dukungan dari para tetua.

Para pemuda adat berperan sebagai pengurus dan fasilitator, para tetua menjadi tenaga pengajar utama, yang mengajarkan berbagai pengetahuan berbasis adat budaya di komunitas. Ada beragam pengetahuan yang diajarkan di Sekolah Adat, contohnya pengetahuan tentang pangan lokal, obat tradisional, sistem pertanian tradisional, aturan-aturan, beragam seni budaya dll. Selain sebagai penggagas, pemuda adat juga kerap terlibat sebagai pengajar, terutama yang berkaitan dengan pengetahuan umum,” ujar Marolop Manalu, Penanggung jawab Urusan Sekolah Adat di AMAN.

Marolop yang mendampingi 90 Sekolah Adat yang bernaung di AMAN tersebut, meneruskan, bahwa Sekolah Adat merupakan upaya untuk mendekatkan kembali pemuda adat pada wilayah adatnya.

“Sebetulnya pendidikan adat bukanlah hal yang baru. Hampir semua komunitas memiliki sistem pendidikannya sendiri, yang kita kenal sebagai Living School. Di tengah perkembangan arus modernisasi, Sekolah Adat merupakan upaya untuk kembali mengingatkan pemuda Adat pada jati diri dan identitas mereka sebagai pemuda adat. Karena menyadari pentingnya penerusan pengetahuan antar generasi ini, maka dalam perkembangannya, pembentukan Sekolah Adat juga sudah mulai banyak diinisiasi oleh para tetua,” tambahnya.

Sekolah Adat Sintang Bentuk Pelestarian Budaya Masyarakat Adat

Sejalan dengan itu, BPAN baru saja mendeklarasikan peresmian Sekolah Adat di Sintang tanggal 24-26 Maret 2023. Sebagai organisasi Pemuda Adat, BPAN saat ini sudah memiliki 97 wilayah kepengurusan di seluruh nusantara dengan anggota 10-60 orang pengurus. Karena Sekolah Adat itu bentuknya sesuai dengan kondisi Masyarakat Adat itu sendiri. Jadi semuanya berasal dari, oleh, dan untuk Masyarakat Adat.

“Salah satu Sekolah Adat yang diresmikan tahun ini adalah Sekolah Adat di Sintang oleh Masyarakat Adat Dayak Lebang. Seiring dengan menyempitnya wilayah adat karena pembukaan kebun sawit, ancaman terhadap kepunahan pengetahuan tradisional pun semakin nyata.

Sehingga, warga bersama pemuda adat pun bersama- sama membangun Sekolah Adat sebagai wadah untuk menjaga dan memelihara pengetahuan tradisional, adat, dan budaya bagi generasi penerus,” kata Michelin Salatta, Ketua Umum BPAN periode 2022-2026.

Sekolah Adat memiliki kegiatan yang berbeda dibandingkan dengan sekolah umum. Mirip dengan sekolah kehidupan, mereka mengajarkan berbagai aspek yang berkaitan dengan adat istiadat. Siswa sekolah adat diberi pelajaran tentang cara bercocok tanam padi, norma-norma adat, serta tarian, makanan, dan permainan tradisional.

Baca Selanjutnya
Pilih Halaman:
  • 1
  • 2