Malam di Depan Warung Coto
malam meninggi dan menunggu subuh di depan warung coto. tiga anak muda memunguti sampah. mengisi bak truk. tak ada kuah coto bagi mereka
cukup bau dan bekas lipstik pengunjung di tisu yang mengenyangkannya
sampah berpindah ke dalam bak truk itu, seperti aroma coto berpindah ke dalam hidung dan pikiran mereka. perut bernyanyi nostalgia.
Iler mengular, sayangnya, tak ada tisu bersih melap iler. hanya ada bungkus ketupat berserakan.
kau di dalam warung memerah jeruk nipis, membumbui cotomu dan mereka di luar membaui aroma coto dari tumpukan sampah itu.
Pattalassang, 3 Januari 2026
Sebelum Polusi Tiba
segelas air putih hangat menyambutmu pagi ini. tak ada kopi, kopi telah mengoyak lambungmu jadi kota yang tak berotak
kota telah merampas tidurmu lebih awal. membawanya ke dini hari pada jalan yang macet
pada siang, kau tak melihat siapa pun, kabut tipis yang menyesakkan, mengerubuni matamu
“itu polusi, pelanggar kenyamanan yang selalu luput dari tangkapan polusi”
pagi ini, kantuk masih manja. tapi, kau harus bangun, sebelum polusi tiba di napasmu sebagai anak kecil.
2026
Memberi Makan Cindi
cindi lahap memakan pisang. begitu aku menyodorkannya, ia langsung menyuapnya, pelan sekali. dikunyahnya perlahan. sesekali matanya memejam, menikmati suguhan pisang pagi hari.
cindi tumbuh bersama seorang gadis bermata kijang. jadi saksi perjalanan penuh urat dan arif
di kampung, kawan dan cucu cicitnya telah punah. tak ada lagi suaranya tiap sore menuju lompobattang
cindi, telah berpuluh tahun dalam sangkar, lupa cara bagaimana itu terbang. ia hanya tahu cara makan, minum, dan buang kotoran
cindi bahkan telah lupa, ia adalah seekor jarolli
2026








