- Kembang Hujan - 12/01/2026
- Sebelum Polusi Tiba - 04/01/2026
- Perihal Pohon Durian di Belakang Rumah dan Anggrek Macang yang Menghuninya - 25/12/2025
Klikhijau.com – Kantuk masih memanjai mata. Masih ingin lelap. Namun, pagi telah datang di Hari Minggu, 14 Desember 2025. Membuat saya bergegas bangun dan segera membunuh rasa penasaran akan keindahan Pantai Lemo-Lemo, Bulukumba.
Saya lalu meninggalkan Villa, berjalan perlahan ke bibir laut. Sepi. Tak ada sesiapa. Hanya suara burung walet palsu dan deru ombak yang berjuang memecahkan sunyi pagi itu.
Ombak di Pantai Lemo-Lemo memang tak pernah istirahat. Terus menderu, menerpa pantai berpasir putih itu. Derunya adalah lagu yang melenakan. Syahdu.
Saya menikmati percikannya yang menamparkan dirinya ke batu karang. Pecah berhamburan. Indah. Keindahan itu akan semakin terasa ketika saya menengok ke kanan. Pada tebing batu karang.
Namun, saat menoleh ke kiri. Pemandangan lain tersaji. Hamparan pasir putih memang menggugah ingin untuk segera menjelajahinya. Menyentuhkan kaki yang telanjang ke dalam pasir yang lembut itu.
Keindahan juga selalu punya celah agar tak utuh sempurna. Begitu pula Pantai Lemo-Lemo. Keindahannya terampas oleh satu hal dan itu bisa kamu tebak; Sampah. Iyya benar, sampah plastik berserakan di pasir putih itu. Dominan adalah tempat air minum kemasan.
Sampah lain, semisal sandal, sepertinya hanya pelengkap sehingga pantai indah berpasir putih itu, bukan hanya tempat wisata yang dikunjungi manusia, tetapi juga tempat yang dihuni beragam jenis sampah.
Sampah yang menghuni pantai, memiliki riwayat perjalanan yang tak terduga, bisa datang dari jauh. Pada wilayah yang tak pernah terpikirkan masuk ke peta pikiran kita.
Semisal, pada suatu waktu ketika saya ikut aksi bersih pantai bersama Ecological Observation and Wetland Conservations (ECOTON) di Pantai Babana, Bulukumba. Kami menemukan sampah plastik dari Thailand dan China. Sangat mungkin sampah itu memang dari kedua negara tersebut.

Petualang yang tangguh
Sampah yang terdampar jadi jadi penghuni pantai, bisa jadi telah melalui perjalanan panjang yang melelahkan. Namun, saat sampai, posisinya sebagai penghuni permanen juga tak ada jaminan.
Begitu ombak bisa menjilatinya, potensinya untuk kembali berpetualang di laut luas terbuka lebar. Sebelum akhirnya mendampar di suatu tempat yang entah untuk jeda sejenak dari tualangnya.
Dengan usia yang bisa menyentuh hingga 400-an tahun baru terurai, sampah plastik adalah penjelajah laut yang panjang umur, juga bisa jadi penghuni pantai yang akan lumutan atau menjadi partikel kecil yang bisa beterbangan ke mana-mana, bahkan mengalir ke dalam darah manusia dalam wujud mikroplastik.
Sampah plastik memang memiliki sifat setia, setia mencemari lingkungan, khususnya laut. Jumlahnya bukan satu atau dua, tapi ribuan ton bahkan jutaan.
Saking banyaknya, tahun 2050 nanti (jika tak ada cara brutal menghentikannya) diperkirakan akan lebih banyak daripada ikan di laut.
Bayangkan, seorang nelayan yang telah rentah, yang anak cucunya sedang menunggu di rumah hasil tangkapannya. Tapi, begitu ia membuang jaring ke laut lepas lalu mengangkatnya, bukan ikan yang terjaring, tapi sampah plastik.
Semua usaha dan penantian anak cucunya di rumah akan berakhir pada satu kata, kecewa. Lebih parah dari itu, peluang perut terisi akan menipis.
Kembali ke Pantai Lemo-Lemo. Pantai yang eksotis itu, di sepanjang pantainya yang berpasir putih di huni sampah plastik.
Ada yang unik dari sampah plastik yang terdapat di pantai yang terletak di Kelurahan Tanah Lemo Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba itu. Banyak sampah plastik, khususnya botol air kemasan yang telah diikat bagian atasnya.
Saya mencurigai, jika itu adalah botol plastik dari petani rumput laut. Mereka biasanya menggunakan botol plastik air kemasan saat membudidayakan rumput laut. Komoditi penyambung napas mereka.
Dulu, ketika masih sangat aktif bolak balik Makassar- Bulukumba, saya sering mendapati para petani rumput laut berdiri di pinggir jalan meminta botol plastik dari para pengendara. Entah itu pengendara mobil atau motor.
Mereka akan melambai-lambaikan botol plastik, begitu ada yang membuangnya dari atas kendaraan, terkadang mereka akan memperebutkannya.
Botol plastik yang mereka dapatkan akan diikat dengan tali. Kemudian ditenggelamkan ke laut. Tak sedikit yang lepas. Dan botol plastik dari darat itu kembali ke Pantai Lemo-Lemo yang merampas keeksotisannya.








