Klikhijau.com – Ada satu hal yang mulai sulit dipisahkan dari kehidupan manusia sekarang ini, yakni deterjen. Mulai dari deterjen cuci pakaian hingga pencuci piring.
Sayangnya produk pembersih tersebut masih dominan menggunakan bahan kimia yang kurang ramah lingkungan.
Produk pembersih berbahan kimia dapat membawa petaka bagi lingkungan, bahkan dapat memicu pertumbuhan alga yang mengubah ekosistem.
Karenanya, dibutuhkan detergen yang berpihak pada lingkungan. Untungnya, saat ini para peneliti yang membuat laporan di Langmuir ACS telah mengatasi tantangan tersebut.
Para peneliti telah menemukan deterjen ramah lingkungan. Bahannya terbuat dari serat kayu halus dan protein jagung. Deterjen ini dapat menghilangkan noda pada pakaian dan piring sama baiknya dengan produk berbahan kimia. Bedanya, ini ramah lingkungan.
Perhatian publik tentang dampak produk rumah tangga terhadap lingkungan semakin meningkat. Hal tersebut telah memacu minat untuk mengganti pembersih yang berbahan kimia dengan alternatif alami.
Upaya yang telah dilakukan hingga saat ini telah menghasilkan hasil yang beragam karena pembersih ini sulit dibuat dan dibilas, sehingga mengakibatkan biaya produksi dan eceran yang tinggi, serta potensi kerusakan pada permukaan dan kain.
Oleh karena itu, ada keinginan untuk alternatif yang murah, mudah diproduksi, efektif, dan ramah lingkungan serta barang-barang yang ingin dibersihkan.
Bahan melimpah
Untuk mengatasi kebutuhan ini, Pengtao Liu dan rekan-rekannya mengembangkan deterjen ramah lingkungan dari bahan-bahan yang ditemukan dalam sumber daya terbarukan yang melimpah.
Para peneliti menggabungkan nanofiber selulosa dari kayu dengan protein zein dari jagung untuk menciptakan emulsi. Selulosa dapat menarik dan menolak air, sehingga efektif dalam membentuk emulsi tersebut dan menarik berbagai jenis noda.
Di sisi lain, protein zein membantu menstabilkan emulsi dan memerangkap minyak. Liu dan rekan-rekannya kemudian menguji kapasitas pembersihan deterjen selulosa/zein pada kain katun dan piring yang terkena noda tinta, minyak cabai, dan pasta tomat. Mereka membandingkan kinerja deterjen baru mereka dengan bubuk cucian dan larutan sabun cuci piring komersial dengan air deionisasi.
Deterjen selulosa/zein sedikit kurang efektif dalam membersihkan kain katun dibandingkan dengan larutan bubuk cucian dengan pengenceran yang sama (deterjen 1% atau bubuk menurut beratnya).
Namun, pada konsentrasi 5%, produk peneliti tersebut lebih efektif daripada larutan bubuk cucian 1% dalam membersihkan setiap noda dari kain. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan bahwa deterjen selulosa/zein tidak meninggalkan residu pada kain katun setelah dicuci dan dibilas, yang menunjukkan bahwa deterjen tersebut tidak akan merusak kain.
Para peneliti juga menguji kemampuan deterjen mereka untuk menghilangkan noda minyak cabai dari piring yang terbuat dari keramik, baja antikarat, kaca, dan plastik. Sekali lagi, deterjen selulosa/zein membersihkan hampir sama baiknya dengan sabun cuci piring komersial dengan pengenceran yang sama, dan pada konsentrasi 5%, produk mereka lebih unggul.
Pada piring baja antikarat, misalnya, larutan selulosa/zein 5% menghilangkan 92% noda dibandingkan dengan 87% dengan larutan sabun cuci piring komersial 1%.
Para peneliti menyarankan bahwa hasil tersebut menunjukkan bahwa deterjen alami mereka dapat menjadi alternatif yang efisien, hemat biaya, dan berkelanjutan terhadap bahan pembersih sintetis yang saat ini beredar di pasaran.
Sumber: Newswise








