Populasi Ngengat dalam Bahaya, Cahaya Buatan Membuatnya Kesulitan Mencari Pasangan

oleh -9 kali dilihat
Tentang Kupu-kupu Malam dan Peran Pentingnya bagi Penyerbukan Tanaman
Ngengat atau Kupu-kupu Malam-foto/Hans-Pixabay

Klikhijau.com – Bagi ngengat, malam adalah waktunya berpesta pora. Mereka akan merayakan kebebasannya, baik dalam mencari makan maupun untuk menemukan pasangan.

Ngengat adalah makhluk malam yang kalem. Mereka memiliki tugas yang mulia, menjadi penyerbuk yang bekerja dalam diam. Saat banyak makhluk lainnya melepas lelah dengan tidur.

Sepanjang sebagian besar sejarahnya, ngengat menavigasi malam dengan bulan dan bintang yang jadi peta alami mereka.

Namun, saat ini peta itu perlahan terhapus oleh cahaya buatan, baik lampu jalan, bangunan bercahaya, dan lampu depan mobil yang lewat. Itu semua membingungkan para ngengat akan bergerak ke mana.

KLIK INI:  Aroma Alami Bunga Menurun di Tangan Polusi Udara, Ini Akibatnya

Ketika cahaya buatan yang terang mengganggu, ngengat kehilangan arah. Mereka hanya membuang energi dengan berputar-putar di sekitar lampu alih-alih mencari makanan atau pasangan.

Apabila peta ngengat untuk bertahan hidup terusik, maka dampaknya akan fatal bagi seluruh ekosistem.

Secara tidak langsung, alam bergantung pada ngengat.  Mereka menyerbuki tanaman pangan dan tumbuhan liar di malam hari

Kelelawar dan burung bergantung pada ngengat sebagai sumber makanan utama. Karena itu, penurunan jumlah ngengat menimbulkan masalah di seluruh ekosistem.

KLIK INI:  5 Dampak Kesehatan Paling Potensial Terkait dengan Konsumsi Mikroplastik

Untuk melihat dampak tersembunyi dari cahaya buatan bagi ngengat, sebuah proyek penelitian baru dari Universitas Oldenburg di Jerman pun diluncurkan. Tujuannya adalah untuk mengubah cahaya buatan itu menjadi solusi nyata demi melindungi serangga yang bergantung pada kegelapan untuk bertahan hidup.

Dilansir dari Earth, para ilmuwan telah mempelajari masalah ini selama bertahun-tahun, namun banyak pertanyaan yang masih belum terjawab. Jenis cahaya apa yang paling membingungkan? Bagaimana awan, cuaca, dan fase bulan mengubah pergerakan ngengat? Yang terpenting, bagaimana cahaya buatan memengaruhi keberhasilan perkawinan?

Sebuah proyek baru bernama Lightstar kini berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Proyek ini dipimpin oleh Dr. Jacqueline Degen, seorang ahli biologi di Universitas Oldenburg.

KLIK INI:  Ketika Rayap Menginspirasi Peneliti untuk Hemat Energi dan Cerdas Iklim
Terus menurun

Di seluruh dunia, populasi serangga dilaporkan terus menurun. Penurunan itu semakin diperparah oleh polusi cahaya. Namun, peneliti tidak bisa menjangkau semua spesies ngengat, maka para peneliti memfokuskan perhatian pada dua spesies tertentu saja yakni, ngengat elang privet dan ngengat elang gajah.

Kedua spesies tersebut melakukan perjalanan jarak jauh dan menggunakan cahaya bulan untuk navigasi. Terbitnya bulan juga menandakan waktu yang tepat untuk kawin.

Dr. Degen percaya bahwa cahaya buatan mengganggu orientasi pada ngengat jantan dan membuat pencarian pasangan menjadi jauh lebih sulit.

KLIK INI:  Peneliti Sulap Serat Kayu dan Protein Jagung Jadi Deterjen Ramah Lingkungan

Untuk menguji gagasan ini, Dr. Degen dan timnya sedang membangun sistem pelacakan tiga dimensi yang baru. Sistem ini akan mengikuti jalur terbang ngengat dengan presisi tinggi.

“Kami akan memasang alat pelacak sekecil mungkin di punggung ngengat,” katanya. “Kemudian, dengan bantuan drone yang dirancang khusus, kami akan dapat melacak lintasan terbang dan ketinggiannya hingga ratusan meter (beberapa ratus kaki) untuk pertama kalinya.”

Tantangannya terletak pada desain perangkat penanggap. Perangkat tersebut harus tetap sangat ringan dan tetap terlihat di malam hari di lingkungan luar ruangan alami.

“Padang rumput seringkali lembap di malam hari,” kata Dr. Degen. “Embun pada tanaman dapat menciptakan pantulan yang kuat dan tidak terkendali yang kemungkinan akan sulit dibedakan dari sinyal transponder yang relevan.”

KLIK INI:  Cahaya Buatan, Dapat Mengacaukan Kehidupan Dunia satwa
Upaya membantu ngengat

Tim tersebut berencana untuk mengembangkan alat pendeteksi dan metode analisis baru yang berfungsi dalam kondisi malam hari yang sebenarnya. Di masa depan, perangkat tersebut juga dapat melacak spesies serangga yang sangat kecil.

Penelitian tidak berhenti di laboratorium. Eksperimen lapangan berskala besar memainkan peran utama dalam proyek Lightstar.

“Kami akan melepaskan ngengat jantan di tempat terbuka, sekitar 100 meter dari ngengat betina,” kata Dr. Degen.

“Ketika ngengat jantan terbang mencari ngengat betina, kami akan mensimulasikan penerangan jalan di sepanjang rute, dengan bulan sebagai latar belakang,” lanjutnya.

KLIK INI:  Fakta Tak Terduga dari Pahlawan Penyerbuk yang Bernama Serangga

Eksperimen ini meneliti bagaimana ngengat merespons interaksi antara cahaya bulan, lampu jalan, awan, angin, waktu terbang, dan ketinggian. Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana cahaya buatan mengubah pola pergerakan alami selama pencarian pasangan kawin.

“Penelitian kami dapat berkontribusi pada pengembangan strategi efektif untuk mengatasi penurunan populasi serangga yang disebabkan oleh polusi cahaya,” kata Dr. Degen.

Temuan ini dapat membantu memandu kebijakan publik dan perencanaan kota. Tindakan sederhana mungkin sudah memberikan perbedaan bagi ngengat, seperti menurunkan ketinggian lampu jalan atau mengurangi cahaya di dekat habitat alami.

Perubahan desain kecil dapat melindungi jalur terbang ngengat tanpa membuat kota menjadi gelap.

Dengan memahami bagaimana cahaya mengubah suasana malam, para ilmuwan semakin dekat untuk melindungi serangga yang secara diam-diam menjaga kelangsungan ekosistem. (*)

KLIK INI:  Menilik Peluang Serangga Jadi Makanan Berkelanjutan di Masa Mendatang

Dari Earth