SMAN 1 Driyorejo Perkuat Edukasi Bahaya Mikroplastik

oleh -7 kali dilihat
Siswa SMAN 1 Driyorejo pada kegiatan Sekolah Peduli Lingkungan -foto/Ist

Klikhijau.com – Ada hal menarik dalam kesadaran lingkungan generasi muda Indonesia, khususnya pelajar. Meski sebagian besar dari mereka memahami ancaman kesehatan akibat mikroplastik. Namun, faktanya lingkungan sekolah justru masih menjadi tempat dengan penggunaan plastik sekali pakai yang tinggi.

Data terbaru tersebut sungguh mencengangkan. Karenanya, mntuk mengatasi hal ini, SMA Negeri 1 Driyorejo berkolaborasi dengan organisasi lingkungan Ecological Observation and  Wetlands Conservation (ECOTON) meluncurkan Program Sekolah Peduli Lingkungan: Pengurangan Plastik Sekali Pakai dan Edukasi Bahaya Mikroplastik.

Founder ECOTON, Prigi Arisandi, menegaskan bahwa edukasi saja tidak cukup tanpa dukungan perubahan kebijakan di sekolah.

KLIK INI:  11 dari 12 Sampel Air di Malang Terpapar Mikroplastik

“Riset kami menunjukkan fakta yang bertentangan: 90 persen anak paham betul bahaya mikroplastik, dan 82 persen di antaranya siap mengubah perilaku. Namun, mereka terpaksa tetap menggunakan plastik sekali pakai karena sekolah belum menyediakan alternatif yang memadai,” jelasnya.

Menurut Prigi, sekolah memiliki peran krusial untuk memutus rantai polusi plastik melalui pengalaman praktis dan riset yang dilakukan siswa.

Kepala SMA Negeri 1 Driyorejo, Alif Hanifah, menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah nyata untuk membangun karakter siswa di luar prestasi akademik.

“Sekolah harus menjadi lingkungan yang mendukung perubahan. Kami ingin siswa tidak hanya mengetahui teori, tetapi menjadi agen perubahan yang menyadari bahwa mikroplastik adalah ancaman nyata bagi masa depan mereka,” tegasnya.

KLIK INI:  Siti: Minggu Depan Kita Sudah Harus Berlari Kencang
Belajar Mikroplastik Sebelum Menggerakkan Perubahan

Ide inisiatif ini berasal dari sekelompok pelajar yang tergabung dalam Jawa Timur Youth Changemaker Academy (JAYCA) – jaringan pemuda Jawa Timur yang mengembangkan pemimpin perubahan sosial.

Program diisi oleh pelajar terpilih yang memiliki gagasan dan komitmen kuat untuk menciptakan dampak nyata. Mereka dipilih karena kemampuan berpikir kritis dan kesediaan mengambil tanggung jawab sosial. Tim JAYCA dari SMAN 1 Driyorejo pertama kali belajar mengidentifikasi mikroplastik secara langsung, mempelajari serat, fragmen, dan partikel kecil yang tak terlihat namun ada di sekitar kita.

Penelitian mikroplastik tersebut didampingi oleh Sri Astika, mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Negeri Surabaya yang sedang meneliti keberadaan mikroplastik dalam cairan sperma. Penelitian ini membuat siswa menyadari bahwa mikroplastik bukan hanya masalah sampah, tetapi sudah memasuki tubuh manusia.

KLIK INI:  Polusi Udara Ubah Manusia Jadi Lebih Rapuh di Usia Paruh Baya dan Lanjut Usia?

Koordinator Tim JAYCA SMAN 1 Driyorejo, Krisna Wahyu Sahaja, menegaskan untuk mengubah perilaku Gen Z dalam menolak plastik sekali pakai, kita harus mulai dari edukasi tentang bahaya mikroplastik.

“Sebagai pelopor, kita harus memberikan contoh dengan membawa tumbler pribadi dan melakukannya secara konsisten,” katanya.

Dari Riset Menuju Kebijakan Sekolah

Temuan dan kampanye siswa kemudian menjadi dasar bagi sekolah untuk mengambil langkah lebih jauh – tidak hanya memberikan arahan, tetapi menetapkan kebijakan baru. Program ini tidak hanya sebatas ajakan, melainkan melibatkan siswa dalam tiga kegiatan utama, yakni  penelitian mikroplastik di area sekolah, pembuatan konten edukasi dengan bantuan kecerdasan buatan (AI), kampanye digital untuk membangun budaya penggunaan wadah guna ulang.

“Setelah Hari Raya Idul Fitri, SMAN 1 Driyorejo akan menyatakan diri sebagai Zero Plastic School atau Sekolah Bebas Plastik. Kami akan beralih ke wadah makan dan minum yang dapat digunakan kembali serta menghilangkan kantong plastik di lingkungan sekolah, khususnya di kantin,” ujar Alif Hanifah.

“Gerakan ini diharapkan menjadi contoh bahwa sekolah bisa menjadi titik awal perubahan – di mana kesadaran tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam kebijakan dan kebiasaan sehari-hari,” pungkas Alif.

KLIK INI:  ECOTON Bangun Gerakan 'Citizen Science' Bantu Jaga Sungai Balantieng