Ngeri, Tempat Paling Terpencil di Dunia Pun Tercemari Plastik

oleh -169 kali dilihat
Selama PSBB, Sampah Plastik Meningkat dari Belanja Online dan Delivery
Ilustrasi plastik/foto-Media Indnesia
Irhyl R Makkatutu
Latest posts by Irhyl R Makkatutu (see all)

Klikhijau.com – Apa yang membawanya hingga sampai ke tempat paling jauh? Manusiakah, air, angin, atau bintang? Jawaban siapa yang membawanya memang sulit ditemukan. Namun, jika pertanyaannya adalah “berasal dari mana? Maka jawabannya akan sangat muda: dari manusia.

Begitulah sifat plastik yang dibuang bukan pada tempatnya. Ia bisa menjelajah sangat jauh tanpa bisa ditemukan secara pasti, siapa yang membawanya.

Pasti kamu masih ingat berita yang miris bulan Mei lalu, ketika Victor Vescovo seorang penjelajah dari Amerika. Ketika dia melakukan penyelaman laut dengan kapal selam di palung terdalam di dunia, yakni Palung Mariana di Samudra Pasifik. Dia menemukan hal yang sangat miris, sampah plastik.

KLIK INI:  Mencemaskan, Kini Laut Terdalam di Dunia pun Mulai Dihuni Plastik

Setelah penemuan itu, ia mengutarakan kekecewaannya kepada manusia yang tak tahu cara mengolah sampahnya dengan baik. Yang merasa sangat nyaman jika membuang sampah di sembarang tempat, khususnya sampah plastik

“Sangat mengecewakan ketika melihat pencemaran akibat ulah manusia ini, dari titik terdalam di lautan,” kata Vescovo yang telah berusia 53 tahun, seperti yang dimuat The Independent bulan Mei lalu.

Palung terdalam yang dihuni sampah plastik berserakan di dasar laut sejauh 6,8 mil atau 10.943,5 meter. Tentu saja hal itu mengejutkan dan menyedihkan.

Apalagi menurut PBB, limbah plastik telah mencapai proporsi epidemi di lautan dunia, dengan jumlah sekitar 100 juta ton yang dibuang ke laut

Sampah plastk terus saja bergerak. Bukan hanya sampai pada laut terdalam di dunia. Tetapi telah meresap ke berbagai aspek kehidupan di planet bumi.

KLIK INI:  Ngeri, Pencemaran Plastik di Laut Ancam Oksigen yang Kita Hirup

Adalah Lintar Satria yang menulis di republika.co.id bahwa pencemaran plastik kini telah sampai ke daerah yang paling terpencil sekalipun seperti di Kutub Utara.

KLIK INI:  Ngeri, Telur Burung di Pedalaman Arktika Dihuni Senyawa Plastik

Nah, seperti pertanyaan di awal tulisan ini, siapa yang membawanya. Jawabannya adalah serba tidak pasti. Bahkan para ilmuwan bingung bagimana banjir polusi itu bisa mengalir jauh dari tempat asalnya yakni perkotaan.

Berasal dari langit

Science Advances melaporkan sejumlah fragmen plastik dan fiber yang ‘subtansial’ mencapai gumpalan es di Selat Fram, sebuah hamparan laut yang tidak berpenghuni di Kutub Utara. Terletak di Greenland dan kepulauan Svalbard di Arktik Norwegia.

National Geographic mengungkapkan pada hari Selasa 19 Agustus 2019. Para ilmuwan Alfred Wegener Institut untuk Kajian Maritim dan Kutub dari Jerman dan Institut Kajian Salju dan Longsor Swiss mengukur mikroplastik di sampel salju yang diambil dari lokasi terpencil selama penelitian yang dilakukan dari tahun 2015-2017. Mereka menemukan ternyata mikroplastik di salju Kutub Utara berasal dari langit.

KLIK INI:  Penemuan Terbaru: Bahan Pakian dari Tentakel Cumi-Cumi Bisa Mengurangi Pencemaran Plastik

“Saya pikir jalur paparannya bagi kita, jalur paparan utamanya, mungkin udara yang kita hirup,” kata Melanie Bergmann, ahli ekologi kelautan dari Alfred Wegener Institute dan penulis utama di penelitian ini.

Dengan demikian, meski terpencil, Kutub Utara tidaklah steril. Polusi dari seluruh dunia mengalir ke sana. Bergmann dan rekan-rekannya sudah meneliti plastik di dataran Kutub Utara sejak tahun 2002.

Dalam sepuluh tahun terakhir mereka melihat ada peningkatan kontaminasi mikroplastik yang luar biasa. Di salah satu pos penelitian mereka melihat ada peningkatan sepuluh kali lipat.

Mereka pun meneliti mikroplastik di laut Kutub Utara. Ternyata jumlah mikroplastik di laut pun sama besarnya. Jadi mereka mulai mencari mikroplastik di kolom air Kutub Utara. Jumlah yang banyak muncul di mana pun mereka melihat. Di sedimen laut dalam, mereka menemukan sekitar 6.000 partikel di setiap 2,2 pon lumpur.

Ancaman bag manusia dan hewan

Menurut Bergmann ada 12 ribu partikel mikroplastik per 34 ons es yang meleleh. Peneliti lain menemukan permukaan air di laut Kutub Utara memiliki konsentrasi mikroplastik tertinggi dari semua samudra di dunia.

KLIK INI:  'Djarum Trees for Life' Hijaukan Tol Trans Sumatera

“Kami bertanya pada diri kami sendiri, dari mana semua ini,” kata Bergmann.

Para peneliti mengatakan mikroplastik sebagian besar dibawa Gulf Stream. Arus laut panas dari lautan utara Atlantik di timur Amerika Utara. Serta dari Samudra Atlantik. Sebagian besar awalnya dari Eropa Utara.

Namun Bergmann dan rekan-rekannya bertanya-tanya apakah atmostir salah satu jalur mikroplastik lainnya. Peneliti dari Prancis dan China menemukan partikel plastik di dekat kota-kota mereka. Penelitian terbaru menemukan endapan plastik di Pyrenees yang terpencil sehingga dapat dipastikan partikel-partikel plastik itu dibawa melalui udara di atas pegunungan.

Bergmann mulai menerka-nerka dapatkan mikroplastik menumpang angin lalu jatuh di Kutub Utara yang letaknya sangat jauh. Bergmann mengatakan jawabannya ternyata iya.

Sampel es yang diambil dari Selat Farm memiliki konsentrasi mikroplastik yang tinggi. Di salah satu titik terletak tengah di tengah selat memiliki 14.000 partikel per 34 ons. Rata-rata per sampel hanya 1.800 partikel.

KLIK INI:  Mikroplastik Sebagai Petaka yang Mengancam Biota Laut

Sebagai perbandingannya para peneliti juga menganalisis salju di dekat kota-kota Jerman dan Alpen. Sementara sampel yang diambil di kota-kota itu memiliki 24.600 partikel mikroplastik per 34/ons. Para peneliti masih beranggapan jumlah mikroplastik yang ditemukan dk Kutub Utara sangat banyak. Serta membuktikan mikroplastik telah mengkontaminasi udara.

“Pada dasarnya mikroplastik di mana-mana, transportasi udara salah satu jalur transportasi mikroplastik ke daerah terpencil di bumi,” kata Bergmann.

Artinya ada kemungkinan mengkontaminasi atmosfir sehingga mengancam kesehatan manusia dan bintang.

“Mikroplastik itu ada di udara dan bukan tidak mungkin kita telah menghirupnya dan mungkin sebagian telah sampai di paru-paru kita,” kata Bergmann.

Artinya, hasil penelitian tersebut meningkatkan kekhawatiran tentang jumlah kontaminasi mikroplatik di atmosfir, mengancam kesehatan manusia dan hewan.

KLIK INI:  Akibat Perubahan Iklim, Beragam Tanaman Purba ini "Bangkit" Lagi seperti Zombie