Kisah Sukses Petani Jamur Mallawa dan Lelaki di Baliknya

Klikhijau.com - Sejak pindah tugas dari Taman Nasional Wakatobi, Andi Subhan dengan tekun bertugas di Resor Mallawa, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Subhan tertarik mendampingi masyarakat d...

Kisah Sukses Petani Jamur Mallawa dan Lelaki di Baliknya
Bacakan Artikel

Jumlah tersebut adalah nominal yang dihasilkan petani dalam kondisi saat itu yang masih masih sulit memperoleh bibit. Jika bibit sudah dapat diproduksi sendiri, maka bisa dibayangkan berapa keuntungan yang akan diperoleh para petani tersebut. Ditambah lagi jika mereka menggunakan media tanam bibit temuan Subhan dan Ismail yang mudah dan murah.

Budidaya jamur tidak membutuhkan tenaga ekstra seperti hal bercocok tanam palawija. Tenaga besar hanya dibutuhkan saat membuat baglog. Baglog adalah media tanam bibit jamur.

Membentuk kelompok tani

Mengapa butuh tenaga ekstra? Karena pembuatan baglog dilakukan secara manual dengan cara mencampur semua bahan tersebut sesuai dengan takaran. Mencampurnya secara merata seperti tukang bangunan yang membuat bahan perekat bangunannya.

Baglog juga masih harus dipanaskan hingga 120oC dengan menggunakan tungku. Hal ini bertujuan untuk mematikan bakteri pada media tanam tersebut. Saat itu petani jamur di Desa Samaenre berencana membeli mesin pencampur (mixer) dan autoclave untuk memudahkan pekerjaan mereka.

[irp]

Pembentukan kelompok tani jamur ini berlangsung 24 September 2017 lalu. Mereka menyepakati memberi nama kelompoknya โ€œKelompok Tani Hutan Samaenre Bersatuโ€ dengan keren mereka singkat โ€œKTH Samberโ€.

Kelompok yang beranggotakan 30 orang ini, kemudian memilih Andi Firdaus sebagai ketuanya. Pembentukan kelompok tersebut difasilitasi oleh Kepala Desa Samaenre dan dirangkaikan dengan penyusunan rencana kerja tahunan (RKT) kelompok.

Tak tanggung-tanggung di sela-sela acara tersebut Kepala Desa Samaenre berkomitmen membantu kelompok ini memajukan usaha mereka. โ€œSaya akan memberikan bantuan untuk Kelompok Samber ini,โ€ ujar Kepala Desa Samaenre, Firdaus. Riuh tepuk tangan anggota kelompok tani ini mendengar pernyataan kepala desa mereka saat itu.

Harga mesin mixer dan autoclave memang tak murah. Namun dengan bantuan dari para donatur, anggota kelompok berharap cita-cita mereka memiliki alat tersebut akan terwujud nantinya.

Hingga kemudian, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung selaku salah satu pembina Kelompok Samber ini juga tak tinggal diam. Memberikan sejumlah bantuan untuk membantu berkembangnya KTH Samber. Bantuan berupa peralatan budidaya jamur: mixer, autoclave, dan peralatan lain, senilai 50 juta rupiah dikucurkan untuk Kelompok Samber.

โ€œSemoga dengan bantuan ini KTH Samber bisa lebih melesat lagi produksi jamurnya,โ€ terang Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.

Selain untuk meningkatkan perekonomian warga, budidaya jamur ini juga dapat mengurangi aktivitas masyarakat masuk kawasan hutan Bantimurung Bulusaraung. Karenannya Kepala Resor Mallawa berencana menggalakkan budidaya jamur ini di wilayah kerjanya.

โ€œKami akan mengajak masyarakat budidayakan jamur se-Kecamatan Mallawa agar pendapatan masyarakat bisa bertambahโ€ ujar Mustamin, Kepala Resor Mallawa saat itu. Ia sangat berharap akan berkembangnya aktivitas budidaya jamur ini.

โ€œDengan begitu tekanan terhadap kawasan taman nasional berangsur bisa berkurangโ€ tambahnya.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: