Dari Malang, Aktivis Lingkungan Serukan Penyelamatan Bayi dari Racun Mikroplastik

oleh -29 kali dilihat
Aksi teaterikal aktivis lingkungan di Kota Malang-foto/Ist

Klikhijau.com – Perlawanan terhadap ancaman yang tak kasat mata, yakni mikroplastik menggema di Kota Malang yang sejuk. Aksi perlawanan itu dilakukan di jantung Kota Malang, 13 Agustus 2025 kemarin.

Sekelompok aktivis lingkungan dari Yayasan Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton Foundation), Mahasiswa Relawan Peduli Air Masyarakat dan Alam (Marapaima), dan Aksi Biroe Universitas Brawijaya melakukan aksi teatrikal di depan Balaikota, Malang.

Tercatat dua puluh orang beraksi, bukan hanya berteriak, tetapi juga bercerita. Mereka menuntut satu hal, yakni Perda Pembatasan Plastik Sekali Pakai (PSP). Bagi mereka, ini adalah benteng terakhir melawan gelombang sampah plastik yang mengancam Kota Malang.

Kota Malang, yang seharusnya menjadi surga kecil, justru menjadi penyumbang sampah plastik ke Sungai Brantas yang legendaris.

KLIK INI:  Ecoton Bawa Kran Plastik ke CFD Gresik: Ingatkan Bahaya Sampah Plastik Sekali Pakai

Ecoton mengungkap fakta pahit bahwa warga Muharto setiap hari membuang sampah ke sungai, karena tata kelola yang bobrok dan aturan yang lemah. Bendungan Sengguruh menjadi kuburan bagi plastik sekali pakai, 78% sampahnya adalah bukti nyata kegagalan kita.

Manuel Marsahata Togi Sidabutar, dengan mata berbinar dari Aksibiroe Universitas Brawijaya, mengingatkan, “Sungai kita sekarat, dan kesehatan kita terancam mikroplastik!”

Kota Malang berada di titik nadir. Setiap hari, lebih dari 106 ton sampah plastik membanjiri kota, membebani TPA Supit Urang dan mencemari tanah serta air. Surat Edaran Wali Kota Malang No. 8/2021 hanyalah kertas tak bertaji, tanpa pengawasan dan sanksi yang tegas. Kafe, restoran, dan UMKM terus berpesta dengan kemasan sekali pakai, tanpa peduli dampak jangka panjangnya.

Alaika Rahmatullah, Koordinator Aksi Selamatkan Malang Bebas Plastik, dengan suara lantang menyerukan, “Kita harus bertindak sekarang! Pemerintah Kota Malang harus segera membuat aturan yang mengikat, bukan sekadar himbauan!”

KLIK INI:  Lewat Edukasi Mikroplastik, ECOTON Dorong Santri SMP NU Shafiyah Rogojampi, Banyuwangi Jadi Agen Perubahan

Namun, ancaman mikroplastik merayap lebih jauh, masuk ke dalam tubuh kita. Penelitian terbaru mengungkap fakta mengerikan bahkan mengintai feses bayi yang telah mengandung mikroplastik 14,3 kali lebih tinggi dari orang dewasa. Bahkan, darah ibu hamil membawa ribuan partikel mikroplastik, bom waktu bagi generasi mendatang.

Mikroplastik adalah racun yang mengintai. Ia dapat menyebabkan kanker, gangguan pernapasan, dan berbagai penyakit lainnya,” Alaika Rahmatullah dari Ecoton.

Di tengah aksi teatrikal tersebut, pesan penting dikirimkan kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI yang sedang berunding di Jenewa. Para aktivis menuntut aturan global yang melarang bahan kimia berbahaya dalam kemasan plastik.

KLIK INI:  Menilik Kisah Pilu Masyarakat Terdampak Semburan Lumpur Lapindo dalam Film Grit

Tuntutan para aktivis lingkungan tersebut sederhana, namun dalam:

  1. Membuat peraturan pengurangan penggunaan plastikmelalui Perda/Perwali dan menerapkan sanksi bagi pelaku usaha yang masih menggunakan plastik sekali pakai dan mendukung sistem guna ulang sebagai langkah mitigasi kebocoran sampah plastik di lingkungan.
  2. Memberi pelabelan yang jelas terkait kandungan bahan kimia berbahaya dalam kemasan plastik dan makanan, guna masyarakat lebih waspada dan untuk melindungi generasi mendatang termasuk bayi yang sedang tumbuh dalam kandungan supaya tidak terpapar racun mikroplastik yang dapat membahayakan bagi kesehatan.
  3. Pemerataan pelayanan persampahan, dengan menyediakan TPS 3R dan tempat sampah terpilah di setiap kelurahan.

Aksi ini bukan hanya tentang protes, tetapi tentang harapan. Harapan akan Kota Malang yang lebih hijau, lebih sehat, dan lebih berkelanjutan. Kisah ini adalah panggilan untuk bertindak, sebelum mikroplastik benar-benar merenggut masa depan kita.

KLIK INI:  Salju Mengandung Plastik Turun di Kutub Utara