Klikhijau.com – Makassar, di bawah terik matahari yang tak pernah lelah menyinari, adalah kota yang terus tumbuh, menumpuk gedung dan aspal di atas lahan yang kian menyempit. Namun, di tengah hiruk pikuk dan keterbatasan ini, sebuah gagasan baru mulai bersemi.
Bukan dari para ahli pertanian di lahan luas, melainkan dari gang-gang sempit dan halaman rumah yang sederhana. Ini adalah kisah tentang bagaimana kota belajar untuk kembali menjadi kebun.
Pemerintah Kota Makassar tidak lagi hanya berbicara tentang tata kota, tetapi juga tentang tanah dan benih. Melalui program Urban Farming, mereka ingin mengubah lebih dari 6.000 Rukun Tetangga (RT) menjadi garis depan perjuangan.
Setiap RT dan Rukun Warga (RW), yang selama ini dikenal sebagai simpul-simpul sosial masyarakat, kini dipanggil untuk menjadi petani-petani kota. Ini adalah sebuah gerakan kolektif, sebuah janji bahwa kemandirian pangan bisa dimulai dari pot-pot di beranda rumah.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melihat program ini bukan sekadar upaya penghijauan. Ia menyebutnya sebagai “adaptasi cerdas” di tengah tantangan perkotaan yang nyata.
“Kota Makassar adalah kota dengan lahan pertanian yang sangat terbatas,” ujarnya. “Maka hadirnya program Urban Farming, diintegrasikan dengan sistem pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, menjadikannya salah satu inovasi perkotaan.”
Urban Farming Lebih dari Sekadar Menanam
Apa yang diusung oleh Urban Farming lebih dari sekadar menanam sayur. Ini adalah sebuah ekosistem mini yang terintegrasi. Selain pertanian perkotaan itu sendiri, program ini juga merangkul magot dan eco-enzyme sebagai bagian dari solusi pengelolaan sampah, serta budidaya telur ayam sebagai sumber protein mandiri. Sebuah lingkaran kehidupan yang berputar di tingkat rumah tangga, mengubah limbah menjadi pupuk, dan menghasilkan makanan dari lahan seadanya.
Pada Minggu pagi yang cerah 3 Agustus 2025, mimpi ini secara resmi diluncurkan. Lokasinya bukan di gedung-gedung pemerintahan, melainkan di akar rumput, di tengah-tengah Kelompok Wanita Tani (KWT) Talas, sebuah komunitas yang sudah lebih dulu membuktikan bahwa lahan kota bisa menghasilkan. Di sana, di Jalan Sunu, kompleks Unhas, Munafri Arifuddin didampingi Wakilnya, Aliyah Mustika Ilham, menegaskan bahwa ini adalah awal dari sebuah transformasi.
Matahari mungkin masih terik, tetapi di bawahnya, tunas-tunas baru sedang ditanam. Ini adalah cerita tentang bagaimana Makassar, sebuah kota yang modern, mulai menemukan kembali akarnya di dalam tanah, di setiap pot dan setiap halaman yang bisa dijadikan kebun.
Turut hadir dalam peluncuran ini, Ketua TP PKK Kota Makassar Melinda Aksa Mahmud, Sekretaris Daerah Andi Zulkifly Nanda, jajaran SKPD Pemkot Makassar, para tim ahli pemerintah kota seperti Hudli Huduri, Dara Nasution, dan Fadly Arifuddin Mattotorang alias Fadly Padi, serta sejumlah akademisi dari Universitas Hasanuddin (Unhas).
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Munafri menegaskan bahwa urban farming adalah jawaban atas tantangan keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan.
Praktik bertani dalam skala rumah tangga ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga berfungsi memperbaiki kualitas udara, memperindah lingkungan, serta menghidupkan budaya gotong royong dan produktivitas warga.
“Jadi, urban farming ini hadir sebagai bentuk kreativitas masyarakat kota untuk tetap bisa berdaya dalam bidang pangan. Tidak hanya soal konsumsi, tetapi juga membuka potensi ekonomi keluarga,” tutur Appi.
Lebih lanjut, Munafri menyampaikan bahwa program ini akan dijalankan secara masif dan menyeluruh di tingkat akar rumput.
Sekitar kurang lebih, 6.000 Ketua RT di seluruh Makassar diwajibkan menjalankan urban farming di wilayah masing-masing, yang akan diintegrasikan dengan sistem pengelolaan sampah domestik berbasis rumah tangga.
“Urban farming ini tidak lagi sekadar program dinas. Ini akan menjadi kewajiban struktural di tingkat RT, yang akan disertai sistem pengelolaan sampah mandiri, mulai dari biopori, komposter, eco-enzyme, hingga budidaya maggot. Semuanya saling terhubung,” tegasnya.
Untuk mendukung keberhasilan program ini, Pemkot Makassar membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta melalui program CSR, komunitas tani kota, dan akademisi.
Lanjut dia, sudah jajaki keterlibatan perusahaan-perusahaan swasta untuk membina kelompok urban farming di berbagai wilayah.
“Hasil panen nantinya bisa disalurkan ke Pasar Tani untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, setelah kebutuhan lokal RT/RW terpenuhi,” ungkap Munafri.
Lebih lanjut, Wali Kota menyebut urban farming tidak terbatas pada budidaya sayuran atau buah saja. Warga bisa juga menanam tanaman hias bernilai jual tinggi, beternak ayam petelur, hingga budidaya ikan lele dalam ember (budikdamber).

Munafri berharap, dua hingga tiga tahun ke depan, Kota Makassar dapat menjadi pusat eksibisi urban farming nasional dengan berbagai pameran hasil tani, bunga, dan inovasi pertanian kota lainnya.
“Kalau ini berhasil, kita akan lihat Makassar menjadi kota yang ramai dengan pameran hasil tani, bunga, buah, dan inovasi urban farming lainnya. Kita mulai dari sekarang. Ini soal perubahan kebiasaan, cara berpikir, dan cara hidup,” pungkasnya.
Saat ini, Pemerintah Kota Makassar terus mengakselerasi program urban farming sebagai solusi cerdas menghadapi keterbatasan lahan dan meningkatnya kebutuhan pangan di wilayah perkotaan.
Lahan Terbatas untuk Gerakan Berkelanjutan
Melalui Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2), program ini tak hanya diperkenalkan ke publik, namun juga didukung dengan data, infrastruktur, dan pembinaan intensif kepada ratusan kelompok tani urban di seluruh kota.
Kepala Dinas Perikanan dan Pertanian Kota Makassar, Aulia Arsyad, menyampaikan bahwa urban farming menjadi sangat relevan dan mendesak, terutama mengingat keterbatasan lahan pertanian aktif di Kota Makassar. Ada 1.463 Hektare Lahan Pertanian Perkotaan
“Saat ini, ada total lahan pertanian kita di Kota Makassar hanya sekitar 1.463 hektare, dan itu tersebar tidak merata di beberapa kecamatan,” ujar Aulia.
Dijelaskan, adapun sebaran lahan pertanian aktif di Kota Makassar. Di Kecamatan Manggala: 469 hektare, Tamalate: 342 hektare, Tamalanrea: 307 hektare.
Kemudian, Kecamatan Biringkanaya: 288 hektare, Panakkukang: 29 hektare, Tallo: 18 hektare, Rappocini: 7 hektare
Lanjut dia, kondisi ini mendorong Pemkot Makassar untuk menyasar pengembangan urban farming sebagai alternatif strategis dan berkelanjutan.
“Hingga kini, kami DP2 telah mendampingi 458 kelompok tani perkotaan dengan pendekatan partisipatif dan berbasis teknologi,” tuturnya.
Kelompok-kelompok tersebut terbagi atas. Diantaranya, 181 Kelompok Wanita Tani (KWT) Hortikultura, 79 Kelompok Tani Pangan, 15 Kelompok Peternak, 53 Kelompok Pembudidaya Ikan, dan 130 Kelompok Pengolah Produk Pangan.
Aulia menyebut bahwa sebagian kelompok tani ini sudah mengadopsi teknologi modern melalui program Smart Digital Farming, di antaranya:
Disebutkan, sistem irigasi dan pemupukan otomatis berbasis digital, penggunaan solar panel untuk elektrifikasi kegiatan pertanian. Kemudian, aplikasi pemberian nutrisi dan pakan yang terukur dan terintegrasi.
“Adopsi teknologi ini masih dalam level yang beragam, tetapi tren digitalisasi pertanian di Makassar sudah mulai terbentuk,” jelasnya.
Sebagai upaya mendukung pemasaran produk pertanian, perikanan, peternakan, dan olahan warga, DP2 juga rutin menyelenggarakan Pasar Tani sebanyak dua kali setiap bulan.
Kegiatan ini menjadi ajang strategis bagi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) untuk menjangkau konsumen langsung, sekaligus menstabilkan harga produk lokal agar tetap kompetitif.
“Pasar tani menjadi titik temu antara petani dan masyarakat urban. Mereka tidak hanya menjual sayur segar, tetapi juga hasil olahan seperti sambal, telur asin, keripik, dan berbagai produk turunan lainnya,” tambah Aulia.
Sebagai wujud integrasi antara urban farming dan prinsip ekologi berkelanjutan, Pemkot Makassar juga mengembangkan pengelolaan limbah organik melalui.
Budidaya magot sebagai pengurai alami limbah organik, penggunaan komposter rumah tangga, yang terhubung dengan edukasi lingkungan.
Serta, kolaborasi lintas dinas, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk integrasi sistemik.
Selain itu, bidang peternakan juga mengaktifkan layanan Animal Care, yaitu pendampingan kesehatan dan manajemen hewan ternak skala rumah tangga.
“Kolaborasi seperti ini perlu terus diperluas. Kami dari dinas sangat mengapresiasi keterlibatan komunitas pemuda yang turut menjadikan urban farming sebagai gerakan sosial dan pendidikan,” ujarnya.
Berikut sebaran lahan pertanian aktif di Kota Makassar:
– Kecamatan Manggala: 469 hektare
– Tamalate: 342 hektare
– Tamalanrea: 307 hektare
– Biringkanaya: 288 hektare
– Panakkukang: 29 hektare
– Tallo: 18 hektare
– Rappocini: 7 hektar
181 Kelompok Wanita Tani (KWT) Hortikultura
– 79 Kelompok Tani Pangan
– 15 Kelompok Peternak
– 53 Kelompok Pembudidaya Ikan
– 130 Kelompok Pengolah Produk Pangan.
Dalam kegiatan ini, Melinda meninjau langsung praktik budidaya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF) yang menjadi bagian penting dari sistem pertanian terpadu dan ramah lingkungan.
Maggot Pengurai Sampah Organik – Pakan Bernutrisi
Melinda yang hadir bersama jajaran Pemkot Makassar mengapresiasi inisiatif para penggiat maggot, khususnya dari kalangan muda, yang telah menunjukkan kepedulian tinggi terhadap isu pengelolaan sampah dan kemandirian pangan.
“Saya sangat mengapresiasi anak-anak muda yang mau bergerak untuk lingkungan lewat budidaya maggot. Ini inovatif, bermanfaat, dan bisa diterapkan di banyak tempat,” ujar Melinda.
Ia menjelaskan bahwa maggot tidak hanya mampu mengurai sampah organik dengan cepat dan efisien, tetapi juga menghasilkan pakan ternak bernutrisi tinggi. Larva yang dipanen dari proses ini dapat dimanfaatkan langsung sebagai pakan untuk ayam, ikan, dan unggas lainnya yang dikembangkan dalam program urban farming.
“Maggot sangat bermanfaat, apalagi jika dikaitkan dengan pengembangan peternakan skala rumah tangga seperti ayam petelur dan ikan dalam ember yang juga menjadi bagian dari urban farming. Jadi semua terhubung: sampah jadi maggot, maggot jadi pakan, dan hasilnya kembali ke masyarakat,” tambahn
Melinda menegaskan bahwa TP PKK Kota Makassar akan terus mendorong gerakan edukasi pemanfaatan maggot sebagai solusi pengelolaan sampah rumah tangga yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi.
“Gerakan pengelolaan sampah berbasis rumah ini perlu terus digaungkan. Dan maggot bisa jadi cara paling mudah untuk dikenalkan kepada masyarakat karena hasilnya langsung terlihat, sampah berkurang, manfaat bertambah,” jelasnya.
Ia juga berharap praktik seperti ini tidak hanya menjadi proyek sesaat, tetapi mampu menjadi budaya baru dalam kehidupan masyarakat perkotaan.
“Kami ingin ini menjadi gerakan bersama. Dimulai dari rumah, sekolah-sekolah, meluas ke komunitas, dan menjadi budaya baru di kota yang ingin sehat dan mandiri secara pangan maupun lingkungan,” tutup Melinda.
Melalui momentum ini, TP PKK Kota Makassar berkomitmen untuk terus hadir mendorong transformasi perilaku masyarakat menuju kota yang lebih hijau, mandiri, dan berkelanjutan, di mana sampah bukan lagi masalah, melainkan sumber daya.








