Ziarah Plastik, Tradisi Baru Saat Lebaran

Klikhijau.com –  Lebaran telah menciptakan tradisi tersendiri di masyarakat. Tradisi itulah yang membuatnya kian semarak dan dirindukan. Salah satu tradisi yang tetap terpelihara dengan baik adalah...

Ziarah Plastik, Tradisi Baru Saat Lebaran
Bacakan Artikel

Sampah-sampah dari air kemasan tersebut, yang merupakan hasil dari ziarah ke rumah kerabat atau teman akan melahirkan masalah nyata bagi lingkungan.

Tidak mengherankan jika keberadaan gelas bekas dari air kemasan ini sangat mudah ditemukan berserakan di mana-mana. Sementara solusi penyelesaiannya masih jadi masalah tersendiri.

Apalagi jenis plastiknya sulit terurai—butuh waktu hingga ratusan tahun. Itu artinya gelas kemasan sisa menjamu tamu tahun ini masih akan ditemukan hingga ratusan tahun ke depan.

Mencemari lingkungan dalam waktu lama

Ia akan bergerak mencemari lingkungan, yang sangat mungkin berakhir di laut. Karenanya sudah selayaknya kita resah, sudah selayaknya kita kembali ke tradisi lama—menyediakan air bagi tamu yang datang berziarah ke rumah dengan air yang dituang ke dalam gelas kaca.

Lelah karena harus memasak air dan cuci  gelas jauh lebih baik daripada mencemari lingkungan hingga ratusan tahun mendatang. Sebab itu akan berdampak buruk kepada generasi selanjutnya.

Di lebaran, imbauan diet plastik dari pemerintah sepertinya lari kosong—masyarakat telah sangat nyaman menggunakan air gelas kemasan—yang sekali pakai saja langsung berpindah tempat ke lingkungan dan mencemarinya.

Apalagi di kampung, khususnya kampung saya  yang mayoritas didiami oleh petani. Tradisi atau kebiasaan ini sungguh merugikan, sebab bisa menghilangkan kesuburan tanah. Penyerapan tanah terhadap air akan rendah karena terhalang oleh plastik.

Belum lagi hal tersebut bisa menimbulkan berbagai jenis penyakit, khususnya Demam Berdarah (DBD). Karena air yang biasa diminum tidak habis lalu dibuang begitu saja.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: