Yang Pertama Mengencingi Bumi

Dingin menyambar-nyambar, mengiris tiap inci tubuh. Perut terasa berat, isi kantong kemihku ingin segera tumpah. Sejak kedatanganku ke Ale Lino—dunia tengah, tak sekalipun aku membuang kencing, men...

Yang Pertama Mengencingi Bumi
Bacakan Artikel

Namun, hingga kantong kemihku terasa penuh. Kamu belum juga muncul. Aku berjalan jauh, mencari tempat kencing yang cocok. Aku tak mungkin, sekali lagi tak mungkin mengencingi bumi.

Rasanya air kemihku akan tumpah ketika sampai di sebuah batu besar. Aku memanjatnya. Tapi ketika sampai di puncak, tak ada lubang untuk menyimpan kencingku.

Aku edarkan pandangan, menelusuri batu itu, dan di sudut yang tersembunyi. Terdapat lubang yang cukup untuk menampung kencingku. Tapi, aku gamang. Bagaimana jika hujan tumpah dan air kencingku merembes ke tanah, terus turun ke kamarmu di dunia bawah?.

[irp]

Rahasia yang tersimpan

Sengaja tak kubuka rahasia, bagaimana aku membuang kencing. Itu akan jadi rahasiaku. Namun, aku pastikan kencingku tak merembes ke kamar We Nyiliq Timoq.

Pun tak mungkin aku mengotori Ale Lino. Tempat kehidupanku akan bertumbuh, tempat keturunanku akan bernapas.

Ale Lino dan segala isinya, sejak aku diturunkan dewata adalah aku. Tak terpisah. Tak mungkin aku mengencingi diriku sendiri.

Namun begitu, akulah orang yang pertama membuang kencing di dunia ini. Ketika We Nyiliq Timoq datang menemuiku, menjadi pakaianku. Aku akan mengajari cara kencing di Ale Lino tanpa mengotorinya.

[irp]

Pilih Halaman: