Yang Pertama Mengencingi Bumi

Dingin menyambar-nyambar, mengiris tiap inci tubuh. Perut terasa berat, isi kantong kemihku ingin segera tumpah. Sejak kedatanganku ke Ale Lino—dunia tengah, tak sekalipun aku membuang kencing, men...

Yang Pertama Mengencingi Bumi
Bacakan Artikel
Irhyl R  Makkatutu

Aktif menulis dan menyukai kopi di tengah kesibukannya mengaktivasi Taman Baca Masyarakat "tandabaca"

Harusnya, ayah To Palanroe—sang penguasa langit tak perlu meminta persetujuan mereka. Ayah memiliki kehendak yang tak bisa ditentang, tak bisa diabai, tapi beliau tetap membuka hati, menerima saran dari siapapun.

Kebijaksanaan Ayah itu selalu ingin aku teladani—sebagai anak sulung, yang akan mewarisi kerajaan langit. Aku harus mengayomi kedelapan saudaraku dan semua makhluk hidup yang ada dengan penuh cinta dan kebijaksanaan, agar tak ada luka, tak ada merasa dimamah khianat dan abai.

Saat mereka berkumpul, awalnya kudengar namaku tak disebutkan. Aku senang. Kumainkan cahaya—kebentangkan dan aku berayun di atasnya.

Hanya saja kegembiraan itu luntur seketika. Ketika ayah dan ibuku, Datu Palingeq memutuskan, akulah, Batara Guru yang akan diturunkan ke Ale Lino (bumi).

“Batara Guru lebih dewasa, arif, berpikir tenang, meski terkadang emosi. Ia dapat membimbing penghuni Ale Lino. Aku akan menempatkannya di Ale Luwu,” ujar Ayah.

Tubuhku bergetar hebat, napasku tersendat dan mataku berubah hujan. Sedih menanakku sedemikian rupa ketika mendengar keputusan itu. Aku tak ingin meninggalkan boting langiq—milikku—warisan dari ayahku, Patotoqe

Kedelapan saudaraku berhamburan masuk ke kamar. Mereka memelukiku. Kami bertangisan riuh. Hujan dan kilat menyambar-nyambar.

Rasa sedih itu meluntur ketika ibuku datang. Beliau kabarkan jika yang akan jadi pasanganku di Ale Lino nanti adalah We Nyiliq Timoq. Sepupuku, anak dari Sinauq Toja dan Guru ri Selleq—penguasa dunia bawah, Peretiwi.

Kecantikan, kebaikan, dan kebijaksanaan calon istriku itu telah lama tersiar di Boting Langiq, dan diam-diam aku selalu ingin bertemu dengannya.

Membuang kencing sembarangan

Tak mungkin aku kencing di dalam bambu betung yang kukendarai dari Boting Langi’. Bambu itu telah jadi rumah, menjadi tempat tidurku.

Namun, lebih tak mungkin lagi jika aku mengencingi tanah. Sementara aku tahu, kamu, We Nyiliq Timoq ada di bawah sana—di dunia bawah, di Peretiwi.

Bagaimana jika kencingku merembes hingga ke kamarmu dan kamu tak bisa tidur, terusik bau pesing yang pusingkan kepalamu.

Karenanya, tiga hari ini aku menahan kencing, karena tak ingin mengotori tanah, tempat  kita akan bermukim. Menyebarkan keturunan.

Di dalam bambu betung, gelisah merekam jejaknya dalam tiap hela napas. Angin menyusup masuk mengantar gigil, pakaian kebesaran yang kukenakan tak bisa mengisir gigil Ale Lino.

Jika aku keluar, maka hanya asing dan sepi yang menerkam. Tapi tinggal di bambu betung pun akan menyiksaku.

Rindu mendebar

Aku berharap kamu segera naik ke Ale Lino menemaniku. Mungkin kamu tahu, di mana aku akan kencing agar tak mengotori tanah. Agar aku bisa kencing dengan leluasa ke bumi. Tak perlu takut atau malu kencingku merembes ke kamarmu.

Namun, hingga kantong kemihku terasa penuh. Kamu belum juga muncul. Aku berjalan jauh, mencari tempat kencing yang cocok. Aku tak mungkin, sekali lagi tak mungkin mengencingi bumi.

Rasanya air kemihku akan tumpah ketika sampai di sebuah batu besar. Aku memanjatnya. Tapi ketika sampai di puncak, tak ada lubang untuk menyimpan kencingku.

Aku edarkan pandangan, menelusuri batu itu, dan di sudut yang tersembunyi. Terdapat lubang yang cukup untuk menampung kencingku. Tapi, aku gamang. Bagaimana jika hujan tumpah dan air kencingku merembes ke tanah, terus turun ke kamarmu di dunia bawah?.

Rahasia yang tersimpan

Sengaja tak kubuka rahasia, bagaimana aku membuang kencing. Itu akan jadi rahasiaku. Namun, aku pastikan kencingku tak merembes ke kamar We Nyiliq Timoq.

Pun tak mungkin aku mengotori Ale Lino. Tempat kehidupanku akan bertumbuh, tempat keturunanku akan bernapas.

Ale Lino dan segala isinya, sejak aku diturunkan dewata adalah aku. Tak terpisah. Tak mungkin aku mengencingi diriku sendiri.

Namun begitu, akulah orang yang pertama membuang kencing di dunia ini. Ketika We Nyiliq Timoq datang menemuiku, menjadi pakaianku. Aku akan mengajari cara kencing di Ale Lino tanpa mengotorinya.

Pilih Halaman:
  • 1
  • 2