Yang Pertama Mengencingi Bumi

Dingin menyambar-nyambar, mengiris tiap inci tubuh. Perut terasa berat, isi kantong kemihku ingin segera tumpah. Sejak kedatanganku ke Ale Lino—dunia tengah, tak sekalipun aku membuang kencing, men...

Yang Pertama Mengencingi Bumi
Bacakan Artikel

Mereka berkumpul di Rualette, di istana Sao Kuta Parappaqe. Ayah mengundang mereka secara khusus untuk musyawara. Siapa yang akan diutus ke kolong langit untuk menumbuhkan tunas dewata.

Harusnya, ayah To Palanroe—sang penguasa langit tak perlu meminta persetujuan mereka. Ayah memiliki kehendak yang tak bisa ditentang, tak bisa diabai, tapi beliau tetap membuka hati, menerima saran dari siapapun.

Kebijaksanaan Ayah itu selalu ingin aku teladani—sebagai anak sulung, yang akan mewarisi kerajaan langit. Aku harus mengayomi kedelapan saudaraku dan semua makhluk hidup yang ada dengan penuh cinta dan kebijaksanaan, agar tak ada luka, tak ada merasa dimamah khianat dan abai.

[irp]

Saat mereka berkumpul, awalnya kudengar namaku tak disebutkan. Aku senang. Kumainkan cahaya—kebentangkan dan aku berayun di atasnya.

Hanya saja kegembiraan itu luntur seketika. Ketika ayah dan ibuku, Datu Palingeq memutuskan, akulah, Batara Guru yang akan diturunkan ke Ale Lino (bumi).

“Batara Guru lebih dewasa, arif, berpikir tenang, meski terkadang emosi. Ia dapat membimbing penghuni Ale Lino. Aku akan menempatkannya di Ale Luwu,” ujar Ayah.

Tubuhku bergetar hebat, napasku tersendat dan mataku berubah hujan. Sedih menanakku sedemikian rupa ketika mendengar keputusan itu. Aku tak ingin meninggalkan boting langiq—milikku—warisan dari ayahku, Patotoqe

Kedelapan saudaraku berhamburan masuk ke kamar. Mereka memelukiku. Kami bertangisan riuh. Hujan dan kilat menyambar-nyambar.

Rasa sedih itu meluntur ketika ibuku datang. Beliau kabarkan jika yang akan jadi pasanganku di Ale Lino nanti adalah We Nyiliq Timoq. Sepupuku, anak dari Sinauq Toja dan Guru ri Selleq—penguasa dunia bawah, Peretiwi.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: