Pamata

Pembaca, tetaplah waspada jika berita itu benar. Sebab akan banyak orang buta bermunculan. Bisa  saja salah satunya adalah kamu yang membaca kisah ini. Aku temukan kisah ini pada seorang perempuan tua...

Pamata
Bacakan Artikel

Pembaca, tetaplah waspada jika berita itu benar. Sebab akan banyak orang buta bermunculan. Bisa  saja salah satunya adalah kamu yang membaca kisah ini. Aku temukan kisah ini pada seorang perempuan tua yang telah sangat payah untuk berbohong. Aku percaya sepenuh-penuhnya kepada perempuan itu. Ia  tak lagi memiliki keuntungan apa-apa jika berbohong, jadi tak mungkin ia melakukannya.

Perempuan tua itu menatap mataku sangat dalam saat bercerita.  Seseorang yang berbohong akan sulit menatap mata lawan bicaranya. Ia akan menghindari kontak mata dengan pura-pura membersihkan kukunya yang tak kotor atau memainkan apa saja agar rasa gugupnya lenyap.

***

Sebelum Indonesia merdeka, seorang lelaki berumur di kisaran 45 tahun sering berjualan mata di pasar. Lelaki itu biasa dipanggil Pamata. Tentu bukan nama sebenarnya, tak  ada yang tahu namanya. Pamata hanya datang sekali seminggu membawa bakul berisi mata. Bukan sembarang mata, tapi mata manusia.

“Ia mengoleksi banyak mata,” terang perempuan tua itu dengan mimik wajah antara kagum dan takut. Setiap hari pasar, Pamata selalu jadi pusat perhatian. Setiap mata yang dijualnya bisa dikisahkan bagaimana ia mendapatkannya.

Tubuh Pamata kecil, tapi terlihat padat. Jauh dari kesan orang kejam. Jika  dilihat dari tubuhnya ia bukanlah pembunuh. Kulitnya putih pucat dan gerak-geriknya gemulai. Tapi, saat mengisahkan bagaimana ia mendapatkan mata jualannya, semua orang akan merinding.  Mata yang dijual pun masih segar. Jika pulang dari pasar, orang-orang hanya bisa mengikutinya hingga ke tikungan kedua jalan menuju sebuah desa di seberang sungai.

Jika sudah memasuki tikungan kedua itu, rimbunan pepohonan akan menelan tubuhnya lalu hilang secepat tibanya kilat ke bumi.

***

Lanjut ke Halaman 2
Pilih Halaman: