Pamata

Pembaca, tetaplah waspada jika berita itu benar. Sebab akan banyak orang buta bermunculan. Bisa  saja salah satunya adalah kamu yang membaca kisah ini. Aku temukan kisah ini pada seorang perempuan tua...

Pamata
Bacakan Artikel

Setelah Indonesia merdeka puluhan tahun. Jalan-jalan diperluas, pepohonan dirampas haknya untuk tumbuh. Pasar yang dulu sering dikunjungi Pamata kian ramai. Orang yang datang ke pasar semakin beragam. Kampung yang jauh menjadi dekat. Jalan aspal  melilit kampung dari segala penjuru. Semakin banyak orang datang, keamanan semakin sulit. Karena itu, Rasuleng membentuk kelompok pemuda, termasuk dirinya. Para pemuda  beronda di  persimpangan jalan.

Orang yang keluar masuk kampung diperiksa, tak peduli jam berapa pun itu. Pemuda itu menamai kelompoknya pajaga berjumlah lima belas orang. Setiap kelompok berjumlah lima orang, dipimpin seorang yang dituakan. Sebelum memulai ritus ronda itu. Rasuleng memandikan anggotanya di sungai yang bercabang jauh dari pemukiman warga, tempat paling keramat.

Kelompok itu bertugas menjaga keamanan kampung.

***

Sejak ia dimandikan di malam hitam pekat. Ia merasa ada yang berlarian di dalam tubuhnya sebesar kelereng. Membuatnya tak pernah merasakan takut atau sejenisnya. Dingin pun enggan menghampiri, kantuk pun  tak pernah datang jika yang bertugas adalah kelompoknya.

[irp]

“Rakuleng dan bapaknya tiba di kampung ini, entah dengan cara apa. Ketika pagi hari saat aku hendak ke kebun. Ia telah menempati rumah yang telah berpuluh tahun ditinggal pemiliknya karena takut kepada perompak. Saat kami (aku dan ayahmu) melintas, ayahnya menyapa dengan sopan dan mengenal kami.

Penjelasan ibunya sama dengan penjelasan warga yang lain mengenai asal usul Rakuleng. Hanya dalam waktu singkat saja. Ayah Rakuleng telah menyatu dengan warga. Ia dianggap penolong setiap ada yang sakit. Ia memiliki keahlian yang banyak. Ia bisa mengobati orang sakit.

Lanjut ke Halaman 3
Pilih Halaman: