Pamata

Pembaca, tetaplah waspada jika berita itu benar. Sebab akan banyak orang buta bermunculan. Bisa  saja salah satunya adalah kamu yang membaca kisah ini. Aku temukan kisah ini pada seorang perempuan tua...

Pamata
Bacakan Artikel

Suatu malam saat kami sedang main domino. Seorang lelaki dengan ciri-ciri yang sering diceritakan ibu tiba-tiba datang menanyakan beberapa perihal. Termasuk jalan yang akan ke pasar dan hari apa pasar  di buka.

Kami berlima saling lirik lalu serentak menyebut satu nama; Pamata. Lelaki itu hanya tersenyum lalu melangkah dalam kegelapan malam. Kami saling tatap. Kelereng dalam tubuh kami seolah berhenti berputar dan rasa takut tiba-tiba muncul. Dari kejuahan suara monyet menyentak ke dalam pendengaran.

***
Aku menceritakan kejadian saat malam ronda itu kepada ibu. Ibu hanya tersenyum, ia mengeluarkan dua biji mata dari saku bajunya.

“Ibu membeli ini dari Pamata untuk berjaga-jaga. Sekarang semakin banyak orang yang harus dicurigai. Mata ini, mata asli,” ucap ibu. Wajah tuanya tampak berbinar. Tak ada kebohongan di sana.

“Pamata pasti akan kembali mencari mata. Tempat tinggalnya telah diusik. Diubah jadi lahan perkebunan,” lanjut Ibu. Mata tuanya terlihat berbinar.###

Penulis: Imran Mananti, seorang lelaki yang jatuh cinta pada sastra dan isu lingkungan. Ia mulai menulis sejak SMA, tapi tak pernah berani mempublikasinya.

Sekarang ia melanjutkan pendidikan di salah satu universitas swasta di Makassar.

Pilih Halaman: