Pamata

Pembaca, tetaplah waspada jika berita itu benar. Sebab akan banyak orang buta bermunculan. Bisa  saja salah satunya adalah kamu yang membaca kisah ini. Aku temukan kisah ini pada seorang perempuan tua...

Pamata
Bacakan Artikel

****

Kekebalan Rakuleng terlihat oleh matanya sendiri saat  menebang bambu. Bambu yang sudah ditebang  jatuh menimpa Rakuleng, ujungnya yang runcing menancap di pahanya. Tapi, Rakuleng hanya berteriak kesakitan sejenak. Sementara yang lainnya panik setengah hidup. Tapi, Rakuleng justru tertawa terbahak—kulitnya tak tergores sedikit pun. Sejak hari itu ia diangkat sebagai pemimpin pemuda secara tak langsung.

Pembukaan jalan selain menimbulkan masalah pencurian yang marak dalam kampung, juga memunculkan puluhan monyet yang kejam menyerang manusia yang sombong, yang ingin membunuh dan mencabik-cabik monyet itu.

Puang Sanangi adalah korban pertama monyet yang berkeliaran di kebun kopi warga. Ketika pertama kali melihatnya, Puang Sanangi melemparinya batu karena memanen pisangnya. Merasa kesal, monyet itu menyerangnya hingga ia lumpuh.

****

Itu keturuan Pamata—monyet-monyet itu. Ia datang mengacau karena ingin mengambil mata orang. Entah desas itu dihembuskan oleh siapa  hingga menyebar angin. Sulit terkendali. Memang, sejak pohon yang sering menelan tubuh Pamata di tikungan kedua dari pasar itu ditebang keanehan sering terjadi. Tapi, kejadian Pamata telah puluhan tahun bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Ibu percaya bahwa penebangan pohon itu adalah awal dari kehancuran kampung kami. Dan terbukti ketika pohon-pohon telah di tebang dengan alasan kemajuan. Air bersih banyak yang hilang. Musim tak beraturan datang, hingga tak ada lagi warga yang menanam jagung. Kesusahan melanda. Karena tumpuan makan masyarakat hanyalah beras. Padahal orang di kampungku hidup dengan  jagung sejak  puluhan tahun lampau, bahkan saat Pamata sering datang menjual mata di pasar.

***

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: