Pamata

oleh -176 kali dilihat
Pamata
Lukisan: Inggrita Putri Kusuma Wardani dengan judul Kemana Melaju Air Mata?
Irhyl R Makkatutu

Pembaca, tetaplah waspada jika berita itu benar. Sebab akan banyak orang buta bermunculan. Bisa  saja salah satunya adalah kamu yang membaca kisah ini. Aku temukan kisah ini pada seorang perempuan tua yang telah sangat payah untuk berbohong. Aku percaya sepenuh-penuhnya kepada perempuan itu. Ia  tak lagi memiliki keuntungan apa-apa jika berbohong, jadi tak mungkin ia melakukannya.

Perempuan tua itu menatap mataku sangat dalam saat bercerita.  Seseorang yang berbohong akan sulit menatap mata lawan bicaranya. Ia akan menghindari kontak mata dengan pura-pura membersihkan kukunya yang tak kotor atau memainkan apa saja agar rasa gugupnya lenyap.

***

Sebelum Indonesia merdeka, seorang lelaki berumur di kisaran 45 tahun sering berjualan mata di pasar. Lelaki itu biasa dipanggil Pamata. Tentu bukan nama sebenarnya, tak  ada yang tahu namanya. Pamata hanya datang sekali seminggu membawa bakul berisi mata. Bukan sembarang mata, tapi mata manusia.

“Ia mengoleksi banyak mata,” terang perempuan tua itu dengan mimik wajah antara kagum dan takut. Setiap hari pasar, Pamata selalu jadi pusat perhatian. Setiap mata yang dijualnya bisa dikisahkan bagaimana ia mendapatkannya.

Tubuh Pamata kecil, tapi terlihat padat. Jauh dari kesan orang kejam. Jika  dilihat dari tubuhnya ia bukanlah pembunuh. Kulitnya putih pucat dan gerak-geriknya gemulai. Tapi, saat mengisahkan bagaimana ia mendapatkan mata jualannya, semua orang akan merinding.  Mata yang dijual pun masih segar. Jika pulang dari pasar, orang-orang hanya bisa mengikutinya hingga ke tikungan kedua jalan menuju sebuah desa di seberang sungai.

Jika sudah memasuki tikungan kedua itu, rimbunan pepohonan akan menelan tubuhnya lalu hilang secepat tibanya kilat ke bumi.

***

Setelah Indonesia merdeka puluhan tahun. Jalan-jalan diperluas, pepohonan dirampas haknya untuk tumbuh. Pasar yang dulu sering dikunjungi Pamata kian ramai. Orang yang datang ke pasar semakin beragam. Kampung yang jauh menjadi dekat. Jalan aspal  melilit kampung dari segala penjuru. Semakin banyak orang datang, keamanan semakin sulit. Karena itu, Rasuleng membentuk kelompok pemuda, termasuk dirinya. Para pemuda  beronda di  persimpangan jalan.

Orang yang keluar masuk kampung diperiksa, tak peduli jam berapa pun itu. Pemuda itu menamai kelompoknya pajaga berjumlah lima belas orang. Setiap kelompok berjumlah lima orang, dipimpin seorang yang dituakan. Sebelum memulai ritus ronda itu. Rasuleng memandikan anggotanya di sungai yang bercabang jauh dari pemukiman warga, tempat paling keramat.

Kelompok itu bertugas menjaga keamanan kampung.

***

Sejak ia dimandikan di malam hitam pekat. Ia merasa ada yang berlarian di dalam tubuhnya sebesar kelereng. Membuatnya tak pernah merasakan takut atau sejenisnya. Dingin pun enggan menghampiri, kantuk pun  tak pernah datang jika yang bertugas adalah kelompoknya.

KLIK INI:  Memeluk Bumi di Sebatang Porang

“Rakuleng dan bapaknya tiba di kampung ini, entah dengan cara apa. Ketika pagi hari saat aku hendak ke kebun. Ia telah menempati rumah yang telah berpuluh tahun ditinggal pemiliknya karena takut kepada perompak. Saat kami (aku dan ayahmu) melintas, ayahnya menyapa dengan sopan dan mengenal kami.

Penjelasan ibunya sama dengan penjelasan warga yang lain mengenai asal usul Rakuleng. Hanya dalam waktu singkat saja. Ayah Rakuleng telah menyatu dengan warga. Ia dianggap penolong setiap ada yang sakit. Ia memiliki keahlian yang banyak. Ia bisa mengobati orang sakit.

****

Kekebalan Rakuleng terlihat oleh matanya sendiri saat  menebang bambu. Bambu yang sudah ditebang  jatuh menimpa Rakuleng, ujungnya yang runcing menancap di pahanya. Tapi, Rakuleng hanya berteriak kesakitan sejenak. Sementara yang lainnya panik setengah hidup. Tapi, Rakuleng justru tertawa terbahak—kulitnya tak tergores sedikit pun. Sejak hari itu ia diangkat sebagai pemimpin pemuda secara tak langsung.

Pembukaan jalan selain menimbulkan masalah pencurian yang marak dalam kampung, juga memunculkan puluhan monyet yang kejam menyerang manusia yang sombong, yang ingin membunuh dan mencabik-cabik monyet itu.

Puang Sanangi adalah korban pertama monyet yang berkeliaran di kebun kopi warga. Ketika pertama kali melihatnya, Puang Sanangi melemparinya batu karena memanen pisangnya. Merasa kesal, monyet itu menyerangnya hingga ia lumpuh.

****

Itu keturuan Pamata—monyet-monyet itu. Ia datang mengacau karena ingin mengambil mata orang. Entah desas itu dihembuskan oleh siapa  hingga menyebar angin. Sulit terkendali. Memang, sejak pohon yang sering menelan tubuh Pamata di tikungan kedua dari pasar itu ditebang keanehan sering terjadi. Tapi, kejadian Pamata telah puluhan tahun bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Ibu percaya bahwa penebangan pohon itu adalah awal dari kehancuran kampung kami. Dan terbukti ketika pohon-pohon telah di tebang dengan alasan kemajuan. Air bersih banyak yang hilang. Musim tak beraturan datang, hingga tak ada lagi warga yang menanam jagung. Kesusahan melanda. Karena tumpuan makan masyarakat hanyalah beras. Padahal orang di kampungku hidup dengan  jagung sejak  puluhan tahun lampau, bahkan saat Pamata sering datang menjual mata di pasar.

***

Suatu malam saat kami sedang main domino. Seorang lelaki dengan ciri-ciri yang sering diceritakan ibu tiba-tiba datang menanyakan beberapa perihal. Termasuk jalan yang akan ke pasar dan hari apa pasar  di buka.

Kami berlima saling lirik lalu serentak menyebut satu nama; Pamata. Lelaki itu hanya tersenyum lalu melangkah dalam kegelapan malam. Kami saling tatap. Kelereng dalam tubuh kami seolah berhenti berputar dan rasa takut tiba-tiba muncul. Dari kejuahan suara monyet menyentak ke dalam pendengaran.

***
Aku menceritakan kejadian saat malam ronda itu kepada ibu. Ibu hanya tersenyum, ia mengeluarkan dua biji mata dari saku bajunya.

“Ibu membeli ini dari Pamata untuk berjaga-jaga. Sekarang semakin banyak orang yang harus dicurigai. Mata ini, mata asli,” ucap ibu. Wajah tuanya tampak berbinar. Tak ada kebohongan di sana.

“Pamata pasti akan kembali mencari mata. Tempat tinggalnya telah diusik. Diubah jadi lahan perkebunan,” lanjut Ibu. Mata tuanya terlihat berbinar.###

Penulis: Imran Mananti, seorang lelaki yang jatuh cinta pada sastra dan isu lingkungan. Ia mulai menulis sejak SMA, tapi tak pernah berani mempublikasinya.

Sekarang ia melanjutkan pendidikan di salah satu universitas swasta di Makassar.