Yang Pertama Mengencingi Bumi

Dingin menyambar-nyambar, mengiris tiap inci tubuh. Perut terasa berat, isi kantong kemihku ingin segera tumpah. Sejak kedatanganku ke Ale Lino—dunia tengah, tak sekalipun aku membuang kencing, men...

Yang Pertama Mengencingi Bumi
Bacakan Artikel

[irp]

Kecantikan, kebaikan, dan kebijaksanaan calon istriku itu telah lama tersiar di Boting Langiq, dan diam-diam aku selalu ingin bertemu dengannya.

Membuang kencing sembarangan

Tak mungkin aku kencing di dalam bambu betung yang kukendarai dari Boting Langi’. Bambu itu telah jadi rumah, menjadi tempat tidurku.

Namun, lebih tak mungkin lagi jika aku mengencingi tanah. Sementara aku tahu, kamu, We Nyiliq Timoq ada di bawah sana—di dunia bawah, di Peretiwi.

Bagaimana jika kencingku merembes hingga ke kamarmu dan kamu tak bisa tidur, terusik bau pesing yang pusingkan kepalamu.

Karenanya, tiga hari ini aku menahan kencing, karena tak ingin mengotori tanah, tempat  kita akan bermukim. Menyebarkan keturunan.

Di dalam bambu betung, gelisah merekam jejaknya dalam tiap hela napas. Angin menyusup masuk mengantar gigil, pakaian kebesaran yang kukenakan tak bisa mengisir gigil Ale Lino.

Jika aku keluar, maka hanya asing dan sepi yang menerkam. Tapi tinggal di bambu betung pun akan menyiksaku.

[irp]

Rindu mendebar

Aku berharap kamu segera naik ke Ale Lino menemaniku. Mungkin kamu tahu, di mana aku akan kencing agar tak mengotori tanah. Agar aku bisa kencing dengan leluasa ke bumi. Tak perlu takut atau malu kencingku merembes ke kamarmu.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: