Telur Anti Corona: Humor dan Rumor dalam Masyarakat Indonesia

Klikhijau.com - Telur anti corona, memang ada? Tulisan ini merefleksi tentang selera humor dan kebiasaan orang Indonesia merespons rumor setiap waktu. Pada pukul 21.36 WIB, saya menerima broadcast...

Telur Anti Corona: Humor dan Rumor dalam Masyarakat Indonesia
Bacakan Artikel

Artinya, apa apa yang terjadi dalam sejarah manusia turut berkontribusi pada lahirnya cerita rakyat. Dalam konteks wabah corona, saat ini masyarakat secara dinamis juga memproduksi berbagai cerita mulai dari "ini buatan kelompok illuminati", "corona bisa jadi tentara Allah", "corona buatan lab biologi di Wuhan", "corona sumbernya dari lab Amerika di Fort Detrick" dan lain sebagainya.

Cerita-cerita itu terhembus dari grup ke grup dan nyaris tidak dipercaya oleh sebagian orang. Salah satu kelemahan sekaligus kekurangan manusia Indonesia, adalah terlalu cepat percaya kepada ucapan orang tanpa intensi yang kuat untuk berpikir kritis.

Pokoknya, apa yang diucapkan oleh seorang tokoh, mereka telan bulat-bulat.

[irp]

Sudah banyak sih cerita tentang sikap mudah percaya--mungkin ini bisa jadi tambahan karakter manusia Indonesia versi Mochtar Lubis.

Kisah orang Indonesia yang katanya ahli aeronautika yang namanya diliput oleh berbagai media (katanya sedang buat pesawat tempur canggih). Hingga yang lebih tua seperti cerita harta Bung Karno di Swiss (bersumber dari kisah perjanjian antara Bung Karno dengan Presiden AS John F. Kennedy).

Atau hoax Raja Idrus dan Ratu Markonah yang ngeprank (ngerjain) Bung Karno kalau mereka akan sumbang harta untuk merebut Irian Barat. Hingga janin yang bisa bicara dan mengaji di perut Cut Zahara yang ternyata ada tape recorder di pakaiannya (sialnya, Presiden Suharto dan Wapres Adam Malik juga ikutan tertarik dengan fenomena itu).

Ada banyak lagi fenomena mudah percaya itu di bangsa Indonesia. Sekali lagi, sikap mudah percaya itu sangat Indonesia, alias "Indonesia banget". Bernilai kesetiakawanan, kejujuran, "makhluk sosial" (tidak individualis), tapi kadang mudah dikelabui oleh orang lain yang iseng atau sengaja untuk bikin panik dan rusuh.

Cerita konflik sosial pasca jatuhnya rezim Orde Baru juga tidak lepas dari rumor hoax, misleading (menyesatkan), yang cepat dipercaya.

[irp]

Berpikir Kritisย 

Cerita "telur anti corona" hingga hoax-hoax yang melanda negeri ini tidak lepas dari minimnya cara berpikir kritis di masyarakat kita.

Ketika datang berita, seharusnya kita berpikir: "Apa benar info ini?" Saat ini orang bisa dengan rekayasa foto, video, dan lain sebagainya lewat aplikasi gratisan. Bahkan, foto-foto yang dibagikan di media sosial--terutama instagram--nyaris tidak ada foto yang jelek. Semuanya cantik, menarik, dan memikat hati untuk follow akun itu.

Berpikir kritis bisa dimulai dari diri sendiri. Pertama, verifikasi sumber. Ini berita dari siapa? Kalau tidak jelas, coba google, cari info dari sumber lainnya.

Jika tidak ada, coba sharing ke teman apakah info itu betul atau tidak. Lebih bagus lagi jika info yang agak aneh bin ajaib itu dibagikan ke otoritas seperti Kominfo agar mereka verifikasi lebih cepat. Tapi memang di tengah lalu-lintas info kayak sekarang, telat ngabarin kadang bisa bikin banyak orang sesat info.

Lanjut ke Halaman 4
Pilih Halaman: